Sumber: google

Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini intensitas ‘Ibu Ratu’ menelpon lebih banyak ketimbang biasanya. Tak jarang beliau meminta video call untuk memastikan wajah putri semata wayangnya ini masih sama cantiknya (ihiiir) seperti terakhir kali dia melihatnya sebelum pesawat take off sebulan lalu.

Well, mendadak aku seperti seorang remaja yang baru mengalami menstruasi pertama kali. Sederetan pesan ala ‘emak-emak’ paranoid selalu menghiasi obrolan kami. “Jangan lupa makan.” Tenang saja ma, tahu sendiri perut anakmu ini ibaratnya ban dalam truk tronton. “Jangan lupa salat.” Iya, ma walaupun maaf sering mepet waktu hehe.

Hemat, jangan banyak jajan.” Iya,iya aku tahu nilai dolar naik dan selamat ya mama sayang, didikan mama yang mengajariku untuk ‘hemat setiap saat’ berhasil dengan sukses.

Jangan keluar malam.” yang ini maaf ma, sering aku langgar , aku masih suka keluar malam dan duduk di teras sambil menikmati keindahan bintang di langit B. Oh, oke! Bukan itu maksudnya. Tapi tenang saja ma, aku jarang keluar malam sendiri selalu sama adik mama tercintahh.

Jangan pacaran sama pria ‘pribumi’ ” ah, yang satu ini agak sulit ma. Lha benerkan? Kita tidak tahu akan jatuh cinta pada siapa?apala ap pria disini … Duh gusti! Bikin bidadari seperti aku ini enggan kembali ke khayangan.

Tapi tenang saja ma, aku lebih suka pria pribumi yang satu pulau. iya, ma satu pulau! Mereka lebih manis dan pekerja keras. Setidaknya mama tahu sendiri siapa pria itu. Pria yang sampai sekarang belum mengembalikan separuh hati yang dia bawa bersama mimpi-mimpi manis kami.

Ah, kampret!

Kutukan mantan belum sepenuhnya hilang dari jiwaku. Aku perlu pergi ke kak Seto untuk minta perlindungan,ngawur! Ke mvah Mijan sana! Ckkk…bener kata mas Anang ‘benar kumencintaimu tapi tak begini~~~~

Dan kalimat yang selalu mama lontarkan setiap kali mengakhiri pembicaraan adalah “cepat pulang Cha.” Dan yang pengen bikin aku segera memesan tiket pulang adalah kalimat terusannya “Nanti mama, ajak jalan-jalan ke kota S. Katanya pengen liat wahana yang lagi booming itu.” Ashiaaaaapp! Tunggu kepulanganku ma. Walaupun sebenarnya bukan itu alasan utama aku ingin pulang, aku lebih menyukai rumah. Walaupun nomaden dan kadang membuatku lelah. Tapi rumah dan mama adalah tempatku pulang, setidaknya untuk saat ini (sebelum dia menjadikanku rumahnya untuk pulang).

Ke khawatiran mama yang selalu memintaku cepat pulang cukup beralasan. Maklum lah dari kecil aku belum pernah jauh sejauh-jauhnya dari keluarga. Paling jauh juga Jakerdah itupun untuk liburan. Apalagi tingkah ku yang ceroboh dan sedikit pikun makin membuat mama was-was walaupun beberapa kali beliau mencoba menyangkal kekhawatirannya dan seolah-olah memberi kepercayaan dan tanggung jawab sepenuhnya padaku tapi terlihat jelas beliau masih mengkhawatirkan putri kecilnya ini (duh, gak kecil-kecil amat sih kayaknya bobot tubuh naik nih!).

Tak perlu khawatir ma,aku akan pulang dan kembali menjalankan rutinitas yang menjemukan tapi penuh cinta disana. Aku akan pulang ma. Nantikan setelah pesan-pesan berikut ini! Ah, lupakan!

Maaf . Hanya rindu rumah, dan rindu mama.

Pareng. (Admin boleh minta kontaknya gak, kmu baik sih. Hoho)

***

Gambar: google

 

 

4 KOMENTAR