Pict: pixnio.com

Bagai angka 0 (nol) itulah yang dirasakan oleh sesosok wanita muda penuh kesibukan itu. Kekosongan, iya dia rasakan kekosongan itu. Tiada yang bisa membantunya dalam menjalani hari – hari melainkan langkahnya dalam menghapus kekosongan itu.

Sejenak ia pikirkan..

“Apa penyebab kekosonganku?”Β 

“Semua terpenuhi. Bahkan diriku dinyatakan sebagai manusia paling sibuk di dunia.”

Sibuk. Mungkin itulah kata yang keluar dari mulutnya ketika dirinya baru saja membuka laptop dan memulai tulisan baru. Dirinya dimakan kesibukan hingga hanya dua kalimat saja yang bisa ia lantangkan dalam kertas putih virtualnya itu. Ia memang sibuk, tulisannya lancar, tetapi bukan tulisan yang ia inginkan. Tulisan yang ia inginkan harus termakan kesibukannya dalam menulis hal yang tak dia inginkan itu, tetapi orang lain inginkan. Ia tidak bisa mengekspresikan setiap kata, kalimat, dan keadaan dalam hati dan otaknya itu untuk projek barunya.

Setiap kata yang terlintas hanyalahΒ sibuk. Untuk membaca pun, bukanlah hal yang membuatnya semakin dekat dengan tulisan yang diinginkannya itu. Setiap ingin memulai bab baru, kisah baru, atau bahkan kalimat baru, wanita tersebut harus bisa mencuri waktu 24 jamnya itu.

Terkadang ia heran sendiri,Β sesibuk apakah dirinya? hingga ia tak mampu berdiri sendiri dan menegakkan sepuluh kalimat saja?

Lalu jawaban itu terlintas dari dirinya..

“Aku tidak sibuk. Hanya melupakan satu hal”

Satu jawaban lagi yang pada akhirnya mengerti

“Waktuku untuk diriku sendiri”

Selama ini waktu yang dibuangnya memang untuk dirinya namun hal itu merupakan sebuah kamuflase dari setiap waktu yang diberikannya kepada orang lain. Ia butuh waktu sendiri, untuk dirinya sendiri. Waktu yang melebihi dari waktu istirahatnya. Waktu tersebut harus ada.

Hingga wanita itu mengerti akan sesuatu…

“Waktu itu tidak akan pernah ada jika tidak aku yang menyiapkannya. Mencurinya lebih baik jika memang kalian menganggap aku maling waktu. Atau mungkin, aku harus bisa memanfaatkan waktuku. Tanpa menambah bebanku. Karena aku dan tanpa menulisku itulah beban yang sebenar – benarnya bagiku.”

Tanpa menulis ia kosong, bagai sebuah kotak kosong di tempat gelap yang kosong. Dan tanpa dirinya sendiri dalam mengatur waktu ia akan terus kosong.

Dalam hatinya ia meneriakkan dirinya sendiri…

“Aku tidak akan pernah lagi membiarkan waktuku kosong dengan kekosonganku ini. Karena tanpa menulisku aku hanyalah kosong”

12 KOMENTAR

  1. Kak Timus , wow sepertinya disiplin menulis sehari satu lama-lama bisa menjadi banyak ya kak 😊😊,. Aku tanpa menulisku terasa kosong, Yaps seperti hampa dan hambar, wkkww ceileh πŸ‘πŸ‘, sangat memberi peringatan kalem tapi dalem 😊😊