Semilir angin senja memainkan ujung rambutnya yang tergerai, sesekali jemarinya mengusap lembut pipi yang tersengat matahari yang mulai merunduk di bianglala sana. Tatap matanya menanar, ada pejaman diiiringi hela napas pelan mengiringi pula.
Senja itu pernah menitipkan kisah padanya. Kisah yang tak sempat dirajutnya dengan sempurna. Dia tak meninggalkan, dia tak mencampakkan, justru dia terluka oleh jarak. Seorang lelaki yang dia banggakan dalam larik puitis itu meminta semua berakhir. Apa salah dia?

Hmm… Aku mengenangmu lagi, Lyan. Aku mengenangmu di tempat aku memulai semua inginmu. Memulai memaksa semua ingatan untuk melupakanmu. Melupakan semua tentang kita yang sejujurnya tak mampu kulakukan. Apa salah dengan jarak? Apa salah aku terpisah jarak denganmu hingga tanpa penjelasan kau meminta hubungan ini berakhir di Januari?

Aku kalah, aku salah mengartikan semua kebahagiaan yang kau tawarkan, Lyan. Kau lebih memilih mengucilkan diri dari ramah rasaku, dan kau menutup hatimu untuk cintaku yang tulus, untuk cintaku yang ikhlas pada rahasia hidupmu yang enggan kau bagi padaku. Aku terluka oleh putusan ini, Lyan.

Debur ombak menggulung, menghempaskan dirinya pada pesisir berbuih berkawan pasir putih. Langkahnya perlahan mengayun mencoba mendekati dingin air laut agar rasa sesak yang ada sedikit terobati, pikirnya. Nyiur menghempas dedaunannya memaparkan tentang rasa yang membuncah. Sungguh ironis saat kata pisah itu menghancurkan semua mimpi temu yang didambanya.

“Aku mencintaimu, Cha. Namun rasanya aku egois bila memaksakan semua sementara aku tak menginginkanmu lebih dari ini. Aku teramat takut melangkahkan rasaku pada tempat yang berlebih sedangkan aku tahu aku tak punya sesuatu yang pantas untuk kau cintai, untuk kau banggakan.”

Kalimat itu sukses menohok jantungku yang mencoba menelaah arti dari semuanya. Lalu apa arti ucapan sayang itu, Lyan? Apa arti kau ingin kita saling menatap dan menggenggam jemari demi ungkapkan semua kerinduan ini? Mengapa lidahmu begitu tajam menguliti hatiku yang selalu menyayangimu dengan segala kurangmu?

Yah, kita tak pernah bertemu saat memutuskan untuk mengikat hati menjadi satu dalam hubungan asmara ini. Kita hanya memandang tanpa pernah saling menjabat tangan. Kita terpisah jarak, kita terhalang lautan tuk saling menatap. Aku, kau dan jarak yang begitu berdepa bahkan bermil-mil dalam mengartikan semua tentang rasa ini. Ribuan bujuk terucap demi menahanmu pergi. Demi rasa yang enggan kuakhiri, kau tetap bergeming. Kau tetap ingin mengurainya, kau ingin kita tak lagi bersama. Kau benar-benar memilih pergi meninggalkanku dalam rasa yang kumiliki untukmu. Aku mengalah, aku menerima semua putusan ini, Lyan. Walau kuakui aku masih teramat sulit membiasakan diri tanpa menyapa pagimu dengan ucapan lembut pada layar bisu.

“Kau tak tahu, aku menjaga agar kau tak tersakiti bila terus mencintaiku, Cha. Kau harus tahu, dengan terus disisiku kau akan menangis olehku.” Suara itu terdengar dari belakangku. Aku terkesiap. Aku tak berani menoleh sebab aku tak ingin ini mimpi yang datang memberiku kejutan. Kau tak mungkin ada di sini, Lyan. Tak mungkin.

“Berbaliklah, dan tatap aku yang amat kau cintai, Cha. Tetapi kumohon jangan ada airmata untuk iba yang akan kau berikan padaku,” ucapmu sekali lagi. Aku gemetar, degup jantung berpacu lebih cepat atas pintamu. Ada apa ini, Lyan? Apa yang ingin kau perlihatkan padaku?

Dengan menahan rasa sesak. Dengan menahan rasa kerinduan yang amat sangat, perlahan, yah perlahan dengan mengatupkan mata aku menuruti inginmu. Aku bergeming lagi sembari mencoba membuka katupan kelopak mataku. Kau ada di depanku. Tersenyum penuh makna dengan memakai stelan kemeja kotak-kotak hitam juga jeans hitam, tetapi…

Aku kembali mengatupkan mata. Aku merasakan sembilu menusuk jantungku seketika, tanpa ampun tanpa jeda. Aku tak mampu berkata. Aku pasrah demi airmata yang melesak meminta ingin tumpah saat itu juga. Kau menjulurkan tangan mencoba meraih jemariku yang dingin. Aku kembali terkesiap. Dingin. Pasi. Bulu kudukku meremang demi elusan menenangkan yang kau tawarkan padaku.

“Ini aku, Cha. Ini aku, Denias Lyandi. Lelaki yang kau puja dalam barisan kata penuh maknamu. Lelaki yang kau rindukan dalam setiap dialog romansamu. Aku kini di depanmu menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Aku cacat, Chasma Gemintang. Kedua kakiku lumpuh sejak aku kecil. Dengan kursi roda ini aku datang menemuimu demi membuktikan aku tak pernah berpaling pada perempuan lain semenjak memutuskan hubungan kita. Aku terlalu takut dengan kekuranganku, Chasma. Aku tak ingin kau terluka memilikiku. Aku tak mampu memberimu kebahagiaan lahir dan batin jika kelak kita berjodoh. Aku lelaki yang tak sejati lagi. Aku tak ingin membuatmu menyesal memilihku jadi pelabuhan terakhirmu, Chasma.”

Bola mataku bergerak, sapaan lembut sahabat menggema di indera pendengaranku. “Chasma, sudah dua jam kau di sini, apa kau ingin kakimu beku dengan dinginnya air laut ini?” Lala menyadarkanku pada kenyataan. Rupanya benar, aku tengah mengenang tentangmu, Denias Lyandi. Aku mengenang sepenggal kisah kita saat kau memilih meninggalkanku di Kota Jogja ini. Kota tempat pertama aku melihatmu, kota di mana kau dan aku melepas semua rasa. Aku melawan ingatanku untuk melupakanmu. Kau lebih bahagia di sana dengan pilihanmu menyepi pada malam yang dingin. “Aku ingin menangis sekali lagi, La,” pintaku.

Sebelum malam beranjak pagi dan berganti hari. Berteman kenangan yang enggan beranjak pula. Kembali aku menguarkan aroma rindu pada jejak kita diantara embun pagi kotamu, Denias. Aku ingin memintamu sekali lagi sebelum kau melupa akan aku dan kita dahulu. Sudikah kau mengingatku sebagai kekasihmu yang terindah?

Dan… Kau pun mengulum senyum mengikhlaskan pinta terakhir perempuan bergelar pemilik sepi dengan meninggalkannya bersama debur ombak berkawan siluet senja temaram yang membisu.

DIKA, 30012019

2 KOMENTAR