Sumber: pixabay.com

Aku datang menghampiri semua insan.
Tidak peduli rupawan atau bukan.
Tak memandang bergelimang harta atau sebaliknya.
Selalu kutawarkan pada mereka sebuah kesempatan.
Bagi siapa saja yang sudi, menjamah, merengkuh, dan aku berharap ada yang mau memilikiku.

Bersediakah kamu?
Sayangnya, kamu, dia juga mereka memandangku tak berharga.
Aku memang murahan, tak punya nilai.

Kerap aku diabaikan, diremehkan, dihina, didustai, diolok, dimaki.

Aku memang murahan, karena tak peduli dengan segala perlakuan.

Sungguh, tak tahu dirinya aku, yang masih hadir meski sering terusir.

Tetapi, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kala kehilangan diriku yang murah ini. Sebab pada akhirnya, aku lelah, tertatih, terseok, lantas menyerah.

Ratapan, kekecewaan, air mata, penyesalan, bahkan hilangnya nyawa tak akan mampu menghentikan langkahku.

Di tengah hamparan ladang kering, seorang laki-laki yang tidak asing, menghampiriku. Aku sering melihatnya di daerah Utara.

“Wahai, Nona. Kau pasti tahu siapa aku. Izinkan aku bertanya, Nona?” tanyanya sembari turun dari tunggangan berupa kuda putih.

“Silakan, Tuan,” ucapku seraya mengangguk.

“Lihatlah, di ujung desa sana, ada laki-laki ingin mengakhiri hidupnya, karena dia kecewa atas kepergianmu.”

Aku tersenyum simpul, sebelum menjawab, “Harusnya dia tahu, aku akan tetap setia mendampingi kenangan.”

“Kau tak ingin kembali?” tanya Tuan Muda lagi.

“Tak akan pernah.” Aku menegaskan.

“Pertanyaan terakhir sebelum aku melanjutkan perjalanan. Siapa namamu, wahai Nona?”

“Aku Si Murahan, Tuan Muda Bayu.”

“Sungguh itu namamu?”

“Sesungguhnya, namaku adalah masa.”

Merenung

Penghujung bulan Mei
31 Mei 2019

5 KOMENTAR