Untuk kamu yang sekarang, nampaknya sedang di titik terendah sebuah pengharapan. Maafkan aku yang masih diam membisu tanpa memberikan genggaman tangan. Bukan, bukan aku tak peduli dengan apa yang kamu cita-citakan. Sungguh, segenap hati aku ingin, satu saat nanti jadi seseorang yang membanggakan.

Sekuat raga mengarungi terjalnya bebatuan. Setulus jiwa, yang terbaik untukmu kudoakan. Biarlah, jalan yang kupilih, tetap jadi rahasia antara aku dan Tuhan.

Yakin, aku hanya punya keyakinan. Keteguhan mental yang tak akan roboh, meski ribuan kali dilumpuhkan kegagalan. Cukup aku yang tahu rasanya ketidakberdayaan. Kamu tetaplah di sana, tersenyum optimis dan merajut harapan. Nanti, jika sudah kudapatkan cahaya penerang kegelapan. Aku akan berlari menghampirimu, kutautkan lengan dan kita melangkah beriringan.

Tidak hanya aku dan kamu, tapi kita dan kawan-kawan. Maaf, jika saat ini kamu merasa kuabaikan. Jangan kamu lupakan, janji yang kala itu pernah kubisikan. “Aku tak menyambut harapan, sebab tak ingin mengecewakan.”

Kalau kamu mampu menafsirkan, arti sebenarnya ialah, “Aku mengaminkan apapun yang kamu impikan.”

 

Somewhere

08Maret2019

Based_on_true_story

14 KOMENTAR