Sumber gambar pixabay.com/edar

Segelas teh dan gorengan adalah perpaduan yang sangat pas sekali untuk menikmati hari minggu. Tak ada kegiatan yang kulakukan pada hari ini. Awalnya sih begitu, sampai akhirnya seorang laki-laki agak paruh baya melontarkan pertanyaan “kapan mau nulis lagi?” Sehingga aku tersontak dan membuatku ikut melontarkan pertanyaan kepada diriku sendiri.

Dan yang kulakukan tanpa sadar adalah memikirkan alasan untuk membela diriku sendiri. Mengapa aku tidak memulai untuk menulis lagi?

Aku adalah mahasiwa ilmu komunikasi di salah satu universitas di kota yang terkenal akan makanan khasnya— lumpia. Di kota inilah aku mendapatkan banyak hal yang baru bagi seorang mahasiswi. Aku suka sekali menulis dari SMP tapi untuk menyelesaikan tulisan adalah mitos bagi kehidupanku. Sampai akhirnya aku bisa mematahkan mitos itu ketika aku sudah menjadi mahasiswa.

Ya jika aku bukan mahasiswa ilmu komunikasi yang dituntut untuk menulis mana mungkin hal itu bisa terjadi? Bukan hanya itu saja ternyata kenikmatan menulis pun juga aku rasakan ketika melihat hasil tulisanku dimuat oleh salah satu website penakata.com. Ya lagi-lagi pria paruh baya itulah yang membantu untuk menyelesaikan tulisanku. Memang awalnya aku hanya menulis sebuah artikel. Tapi ia bilang “tulislah dulu hal yang simple.

Apa boleh buat penolakan terhadap diriku untuk menulis sangatlah besar.

Tapi bukan sepenuhnya aku tidak mau nulis kok! Kadang-kadang kalo aku lagi galau aku juga nulis. Ya tapi gitu,  lagi-lagi tulisannya tidak selesai. Aku juga pernah diminta untuk menulis cerita anak anak. Ya tapi hasilnya sama saja tetap tidak selesai.

Dan menurutku kurangnya rasa percaya diri untuk menulis juga menjadi salah satu alasan. Mengapa aku tidak berani untuk mempublikasikan tulisan ku. Ketakutan akan hujatan orang-orang yang membaca membuat ku takut. Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang mampu menyembunyikanku dari orang-orang yang akan mengajakku menuju jalan yang lurus di dalam dunia penulisan.

Aku selalu berharap kapan aku mendapatkan hidayah. Tapi kalau dipikir-pikir– hidayah mana mau datang. kalau aku masih saja menolak bahwa sebenarnya aku mampu menulis. Benar saja aku harusnya memancing hidayah dengan kemauanku untuk mulai menulis lagi.

Judul tulisan ini emang agak lebay sih. Menurutku kayak judul-judul FTV di salah satu stasiun televisi yang lagi ngetrend dan banyak diminati ibu-ibu sekarang. Tapi apa boleh buat, untuk kembali ke jalan yang lurus di dalam dunia penulisan. Aku pasti bisa!

Aku terkekeh ketika ingat janji-janji yang aku lontarkan dulu. Semua hanya menjadi wacana. Sehingga dapat meninbulkan bencana. Ya bukan bencana alam tapi bencana untuk diriku sendiri. Aku sadari untuk memunculkan kemauan menulis itu sulit. Eh! Nggak boleh bilang sulit, ntar dipersulit beneran. Oke! Aku ulangi lagi. Jadi gini! Belum bisa memunculkan kemauan menulis.

Ah cukup! Dari pada aku hanya mengeluh. Saatnya aku mulai beranikan diri untuk menulis. Di awali dengan niat lalu siapkan bahan apa yang mau ditulis. Setelah itu aku siap untuk menulis. Saatnya aku kembali ke dunia penulisan.

Aku tahu pasti kalian akan berpikir– bahwa ini hanyalah semangat yang muncul hanya di awal saja kan? Ha ha ha.

Jangan berpikir seperti itu dulu wahai netizen. bantulah aku agar tetap semangat untuk menulis. Kok geli sendiri ya, baca tulisan ini. Tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk menulis lagi.

Sampai jumpa

6 KOMENTAR