Meremas jemari pada pekat malam berkawan ingatan yang menyeruakkan perih merajam. Bukan tentang rasa yang enggan melarung pada lupa. Namun hati yang tak jua mampu melepas ingin. Berganti sudah pinangan kecewa berjejal menunjukkan rona, hingga tak terhitung elusan pasrah pada dada yang merapuh. Teramat picik pula bila seketika berucap pamit. Jika hanya bujuk yang terbalas pada pinta.

Kembali deras hujan pelengkap termangu menatap pekat malam. Jelas membekas namun jelas mengores luka lagi. Rasanya tak mau sudah jemari merangkai diksi indah menawan sukma. Aku lelah, lelaki. Merayumu bak menikam jantung sendiri lalu tertatih membalut luka ini, dengan cucuran darah yang tak jua kau peduli. Di mana hatimu?

Bukti janji semata semu memang benar adanya. Tak sepenuhnya pula rasa ini berbalas, kau telah membaginya pada yang lain. Pada karib yang tak kusangka menghancurkan hati dan rasaku sendiri. Aku kecewa.

10 KOMENTAR