sumber: pixabay.com/Tumisu

Debat capres sekitar seminggu yang lalu rupanya masih hangat diperbincangkan. Tak sedikit juga masyarakat menanggapi apa yang dikatakan pasangan calon nomor 01 dan nomor 02. Baik tanggapan negatif maupun apresiasi.

Apa pun yang dikatakan kedua pasangan calon bak pedang yang tajam dan bahkan dapat melukai si empunya sendiri jika salah digunakan. Setiap kata yang diucapkan mereka begitu penting dan terekam tanpa celah, kemudian dicari data-data yang mendukung pernyataan kedua pasangan calon tersebut. Salah bicara sedikit saja, masyarakat di seluruh belahan bumi Indonesia ini pasti akan ada yang menyadari. Media juga banyak membahas pernyataan calon dari berbagai sisi. Bahkan moderator pun turut menjadi bahan perbincangan.

Kita semua tahu bahwa debat capres yang pertama ini diadakan bukan tanpa maksud apa-apa. Melainkan untuk tahu visi misi kedua pasangan calon, kemudian juga mengetahui seberapa jauh pengetahuan mereka terkait keadaan negara yang akan mereka pimpin. Selain itu, materi yang diperdebatkan pun berkaitan dengan masalah-masalah yang terjadi, sehingga kita sebagai rakyat yang nantinya akan memilih, tahu bagaimana kedua paslon berpikir dan bersikap soal solusi terkait permasalahan yang masuk dalam materi debat.

Baiklah, kita generasi milenial maupun generasi Z pasti sedang semangat-semangatnya menanggapi soal debat ini. Begitu pula generasi pra-milenial (generasi X) yang sudah merasakan pergantian presiden berkali-kali. Namun kadang ada hal yang luput kita perhatikan. Lansia.

Ya, rakyat Indonesia tidak hanya orang-orang generasi X, kaum milenial, maupun generasi Z, namun juga masih ada lansia yang turut memiliki hak pengambilan suara nantinya. Permasalahannya adalah, apakah semua lansia mengerti dengan apa yang didebatkan oleh kedua paslon tersebut? Apakah semua lansia melek politik?

Jangankan lansia, generasi muda saja tidak semua melek politik, bahkan untuk sekadar tertarik dengan kondisi politik Indonesia. Menurut Lembaga Survai Indonesia (LSI) tahun 2012,Β 79% anak muda di Indonesia tidak tertarik berpolitik. Selain itu, menurut Alvara Research Center, hanya 22% generasi milenial yang mengikuti perkembangan politik. Sisanya lebih senang baca berita olahraga, IT,Β lifestyle, dan hiburan.

Itu baru generasi muda. Belum ada data valid mengenai angka melek politik pada lansia. Faktanya, tidak semua lansia dapat berbahasa Indonesia, dan tidak semua lansia mengerti tentang kondisi negara kita tercinta ini. Belum lagi para kakek nenek yang sudah tidak begitu tertarik dengan siapa yang selanjutnya akan menjadi pemimpin negeri ini.

Di sekitar saya sendiri, tak sedikit lansia yang kurang tertarik dengan acara debat capres tersebut. Termasuk nenek saya yang hanya turut serta menonton, akan tetapi kurang paham dengan apa yang dibicarakan. Apalagi soal masalah-masalah hukum dan HAM, korupsi, ekonomi, infrastruktur, serta terrorisme.

Jangan sampai menjelang pemilu nanti, suara-suara mereka akan mudah terbeli. Bukan menuduh maupun mengarang cerita, namun kasus seperti ini sering terjadi. Entah ketahuan, entah tidak. Selain itu, para lansia cenderung akan memilih berdasarkan apa kata orang, bukan berdasarkan fakta dan data-data.

Hal ini jelas akan mempengaruhi masa depan negara kita. Lha wong satu suara saja amat berarti. Meski tidak semua lansia begitu, namun berapa jumlah lansia di negeri kita ini? Sekian persen saja, tentu nantinya akan berkontribusi pada perolehan suara. Belum lagi kontribusi dari generasi X, generasi milenial dan generasi Z yang populasinya lebih banyak.

Lantas bagaimana? Mengatasi masalah seperti ini yang terjadi Β pada orang banyak bukanlah hal yang mudah. Jangankan kita yang rakyat biasa, lha pemimpin saja belum tentu bisa.

Kita sebagai rakyat yang merasa peduli dengan masa depan Indonesia hanya bisa mengupayakan perilaku terbaik dari diri sendiri dan mengajak orang sekitar seperti keluarga. Kalau belum merasa peduli, ya coba deh untuk peduli.

Jika tidak tahu dengan kondisi bangsa sekarang ini alias kurang melek politik, tinggal manfaatkan teknologi dan cari tahu. Apalagi soal rekam jejak kedua pasangan calon. Selama tidak apatis, kita pasti otomatis akan mempertimbangkan dengan baik suara kitaΒ  ini nantinya berlabuh pada calon yang mana. Tentunya, sebelum memilih sudah mempertimbangkan matang-matang secara objektif.

Sekian opini dangkal saya ini. Jika ada perbedaan pendapat atau kesalahan, mari diskusi.

Referensi: 1, 2

5 KOMENTAR