Sumber gambar pixabay.com/suju

Tidak ada yang tahu perihal hati, tentang baik dan buruk. Dia menjadi tempat sir (rahasia) pada diri manusia. Sehingga dibutuhkan komunikasi untuk menerjemahkan apa yang ada di hati agar bisa dipahami secara universal. Seperti pesan rahasia yang dienkripsi harus dideskripsi untuk bisa mengerti isinya. Kita juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di hati seseorang, sebelum dia benar-benar jujur mengungkapkannya. Tanyalah! Kalau diam, mungkin itu juga bagian dari jawaban.

Kita bisa tidak sepakat dalam tujuan, tetapi untuk sebuah hati yang sudah tidak sehati. Salah-salah niat baik sudah dikira buruk. Bisa juga sebaliknya, niat buruk karena sehati dikira baik. Memang baik dan buruk itu relatif, tidak ada kebaikan mutlak dan juga keburukan mutlak. Sehingga sangat penting untuk melatih dan membiasakan hati terhadap hal-hal baik.

Mungkin inilah yang menyebabkan ‘wirid’ menjadi penting. Arti wirid tidak hanya menjalankan bacaan tertentu. Sebagaimana pesan orang tua “jangan lupa wiridan, Nang.” Dalam konteks ini seperti membaca bacaan tertentu setelah menunaikan salat. Namun, dalam perjalanannya ‘wirid’ saya artikan sebagai rutinitas ibadah(dalam arti luas) secara lahir dan batin. Ketika kita rutin menjalankannya, secara otomatis hati kita akan terbiasa dengan hal-hal baik. Menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Kita juga bukan sebab pertama dari segala sesuatu.

Barangkali mengambil hikmah dari setiap apa yang kita lakukan, menjadi pilihan terbaik. Di samping dapat membawa energi positif. Hati juga akan terasa tentram dan hidup seakan lebih indah. Memang tidak semudah itu, tetapi dengan harapan dan prasangka baik. Siapa tahu, di depan ada sesuatu yang lebih dari sekadar harapan.

Dari “wirid” akan mendatangkan “warid” berupa lahirnya efek positif. Dia datang sendiri seperti pohon dengan buahnya. Kalaupun buah itu belum muncul. Cobalah, untuk tidak tergesa-gesa menyalahkan dan putus asa. Banyak sekali kejadian dalam hidup ini yang tanpa disangka-sangka menjadi berkah tersendiri. Saya percaya, kalian juga pernah merasakan hal yang sama.

Saya dulu mengalami kegagalan usaha yang cukup berat sekali. Modal dari hasil pinjaman menguap begitu saja. Memang tidak ratusan juta, tetapi saat baru lulus kuliah puluhan juta itu sudah cukup besar. Apalagi, berbulan-bulan belum juga menemukan solusi yang efisien. Saya pun tetap berusaha dan menerima serta memohon kepada-Nya. Hingga suatu hari saya dipertemukan dengan kakak kelas. Saat itu beliau menawari pekerjaan yang gajinya cukup besar. Dari situlah, saya baru bisa menutup hutang usaha.

Ya, saya tidak bicara rencana Tuhan. Mungkin itulah warid (efek positif) yang datang dari-Nya. Di saat selalu membina komunikasi baik, tanpa meninggalkan masalah. Entah dalam pekerjaan ataupun dalam pertemanan. Sehingga, saat ada kesempatan bagus beliau mencari saya untuk mengisi posisi yang dibutuhkan.

Meski tidak ada kebaikan dan keburukan yang mutlak. Tetaplah berbuat baik lagi bermanfaat. Kita tidak pernah tahu yang akan terjadi di hari esok. Namun, dengan konsisten pada kebaikan. Tentunya, suatu hari akan ada warid (efek positif) yang akan berdampak pada diri kita sendiri.

Soal hati, hanya Dia yang bisa membolak-balikan. Kita hanya bisa berusaha, bukan yang menentukan.

2 KOMENTAR