Source: pixabay.com

Hai … Goodwriters …!

Eh!? Gini ya caranya menyapa kawan-kawan Penakata?

Om Igot!!! Di sini pasti para penulis hebat dan aku nggak tahu harus mulai dari mana buat nulis di sini.

Aku cuma mau cerita tentang POV. POV itu apa sih?

Aku juga bingung waktu pertama kali denger kata POV. Apaan sih itu? Aku nggak paham artinya apaan.

Setelah searching di internet, ternyata POV itu singkatan dari Point Of View yang artinya Sudut Pandang. Ya salam …! Bisanya aku baru tahu istilah itu. Secara, aku belajar bahasa indonesia cuma di sekolah dan aku mengenalnya sebagai sudut pandang. Baru-baru ini aku dibuat bingung dengan istilah POV. Itu artinya … bahasa inggris aku sangat buruk. Bisa dibilang, aku nggak ngerti bahasa inggris karena selama ini cuma belajar bahasa indonesia yang biasa-biasa saja. Belum menggunakan istilah bahasa indonesia yang baik dan benar.

Oke, pertama-tama aku mau jelasin soal Sudut Pandang (Point Of View) dalam menulis sebuah cerita.

Wait …! Tulisan ini aku buat karena permintaan seseorang dan tidak bermaksud menggurui siapa pun atau sok pintar atau apalah. Aku juga masih belajar dan berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat buat diriku sendiri.

Yang aku tahu sudut pandang adalah posisi penulis dalam sebuah cerita atau cara penulis memandang dan menceritakan kisahnya. Aku sendiri lebih paham ketika aku memaknai sudut pandang (POV) sebagai posisi penulis dalam sebuah cerita.

Pertama kali aku mengenal sudut pandang yakni kelas 3 SD. Karena saat itu aku diminta kepala sekolah untuk mengikuti lomba kepenulisan. Mau tak mau, suka tak suka, aku kudu belajar. Walau sebenarnya aku nggak paham. Aku baru benar-benar paham ketika aku duduk di bangku SMP.

Ada 3 jenis sudut pandang penulis:

  1. Sudut Pandang Orang Pertama, Pelaku Utama.
  2. Sudut Pandang Orang Pertama, Pelaku Sampingan.
  3. Sudut Pandang Orang Ketiga (Serba tahu).

Nah, ketiga sudut pandang ini yang kemudian disebut sebagai POV (Point Of View) dalam istilah zaman now atau zaman sekarang ini. Maklum lah ya, aku ini termasuk anak zaman now 15 tahun yang lalu. Jadi, aku nggak paham istilah-istilah gaul anak sekarang. Lagipula, aku lebih suka menyebutnya dengan bahasa indonesia ketimbang diinggris-inggriskan. Itu lebih mudah buat aku yang emang nggak paham bahasa inggris, hahaha …

Apa perlu dijelasin satu-satu soal POV ini?

Oke, aku coba jelasin aja walau sebenarnya nggak perlu-perlu banget. Aku rasa, ketiga sudut pandang itu sudah dipahami banyak orang.

  1. Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama (POV 1)

Sudut pandang orang pertama, maksudnya adalah penulis memposisikan dirinya sebagai orang pertama yang bercerita. Pelaku utama adalah penulis menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Biasanya, sudut pandang ini menggunakan kata “Aku” sebagai pencerita. Artinya si penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh utama dalam sudut pandang “Aku”.

Kalau penulis memposisikan dirinya sebagai “Aku” dalam sebuah cerita, artinya penulis tidak akan bisa mengetahui bagaimana cerita kehidupan dari tokoh lain yang tidak berhubungan langsung dengan tokoh utama atau pun mengetahui isi hati dari tokoh lainnya.

Contoh cerita yang menggunakan POV 1 :

Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia bahkan tak henti menatapku dengan senyuman yang tak mampu aku artikan. Andai bisa kubaca hatinya, mungkin aku akan tahu bagaimana isi hatinya saat ini.

Kalimat yang harus dihindari dalam POV 1 adalah :

Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia tak henti menatapku sambil berkata dalam hati, “Kamu cantik sekali, setiap melihatmu … aku merasa bahagia.”

Kalimat yang aku tebalkan adalah kalimat yang harus kamu hindari ketika menggunakan POV 1 atau Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama. Karena, tidak seharusnya kamu mengetahui isi hati tokoh lain atau adegan apa pun yang tidak tertangkap oleh “Aku” sebagai tokoh utama.

2. Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Sampingan (POV 2)

Sudut pandang orang pertama, maksudnya adalah penulis memposisikan dirinya sebagai orang pertama yang bercerita. Pelaku sampingan adalah penulis menjadi tokoh sampingan dalam cerita tersebut. Biasanya, sudut pandang ini menggunakan kata “Kau” atau “Kamu” sebagai tokoh utama dan penulis sebagai pencerita. Artinya si penulis memposisikan dirinya sebagai sampingan (pencerita) kehidupan tokoh “Kamu” yang ada di dalam sebuah cerita.

Sudut pandang ini jarang digunakan oleh penulis karena sulit mendapatkan atau menggambarkan karakter dari tokoh tersebut.

Contoh cerita yang menggunakan POV 2:

Kamu duduk di sudut meja kafe sambil memandangi rintik hujan yang tak juga reda. Beberapa kali kamu melirik arloji di pergelangan tanganmu. Menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang satu jam yang lalu. Kamu juga terlihat mengetuk-ngetuk meja untuk menetralisir rasa kesal yang hampir meluap dari dadamu. Seorang pelayan menghampirimu ketiga kalinya karena kamu belum juga memesan segelas kopi atau makanan lainnya.

Kalimat yang harus dihindari dalam POV 2 adalah penggunaan kata “aku”. Karena penulis sedang menceritakan orang lain yang disebut “kamu”. Jangan sampai penulis tiba-tiba masuk ke dalam cerita dengan penggunaan kata “Aku” karena kata tersebut digunakan pada sudut pandang orang pertama pelaku utama (POV 1).

3. Sudut Pandang Orang Ketiga (POV 3)

Sudut pandang orang ketiga ( ini bukan pelakor lho ya!) atau sudut pandang serba tahu adalah sudut pandang lazim digunakan penulis untuk menceritakan dengan detil setiap adegan dan kejadian yang ada dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, kita bisa menceritakan kehidupan beberapa tokoh sekaligus. Dalam sudut pandang ini, penulis berada dalam posisi sebagai pencerita yang serba tahu dan bukan sebagai tokoh utama maupun tokoh sampingan.

Contoh cerita yang menggunakan POV 3:

Anisa duduk di taman sekolah sambil membaca buku. Di telinganya terpasang earphone yang mengeluarkan musik-musik melow dari ponselnya. Sementara Hadi memandang Anisa dari kejauhan. Ia mengendap-ngendap mendekati Anisa yang tak menyadari kehadirannya karena sibuk dengan buku dan musiknya. Ketika tangan Hadi menyentuh bahu Anisa, Anisa terlonjak kaget dan mendengus kesal ke arah Hadi. Bukannya pergi menjauh, Hadi malah tertarik untuk menggoda Anisa. Akhirnya mereka saling kejar-kejaran seperti anak kecil, tak peduli dengan banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka.

Dalam POV 3 atau sudut pandang orang ketiga yang serba tahu, penulis bisa menceritakan atau menggambarkan isi hati dari masing-masing tokoh. Hal ini tidak bisa kita gunakan dalam POV 1 atau POV 2.

 

Kayaknya cukup sampai di sini aja deh penjelasan dari aku soal POV (Point of View) atau sudut pandang dalam menulis sebuah cerita.

Intinya adalah … posisi penulis dalam cerita tersebut sebagai apa. Sebagai tokoh utama yang bercerita secara langsung tentang kehidupannya (POV 1), Sebagai orang sampingan yang menceritakan kehidupan tokoh utama (POV 2) atau sebagai pencerita yang serba tahu segalanya (POV 3).

Semoga tulisan ini mudah dimengerti buat kamu yang lagi belajar menulis atau sedang mencoba untuk belajar menulis cerita fiksi.

POV (Point of View) menjadi salah satu point penting dalam sebuah cerita setelah kita mendapatkan ide menulis cerita. Karena penggunaan POV yang tidak tepat bisa membuat cerita yang kita tulis menjadi rancu dan pastinya membingungkan pembaca.

Cerita yang menarik adalah cerita yang mudah dimengerti dan asyik untuk dibaca. Tidak hanya terpaku pada penggunaan kata baku dan tidak baku. Yang lebih penting adalah isi dari cerita dan pesan yang ditulis bisa sampai dan dimengerti dengan mudah oleh pembaca.

Demikian sedikit tulisan tentang POV (Point Of View) dari saya. Semoga bermanfaat …!

 

 

Ditulis oleh Rin Muna

Untuk diri sendiri dan kamu yang bersedia membaca

East Borneo, 15 Februari 2019

 

15 KOMENTAR

    • Dan: iya… sama kalau kata orang2.. tpi sebenarnya sudut pandang orang kedua itu tidak ada.. cuma ada sudut pandang orang pertama dan orang ketiga… sampai sekarang guru bahasaku dan temen2 dri Kantor Bahasa juga nyebutnya begitu…
      Tpi… mungkin sebagian orang menyebut sudut pandang orang kedua supaya lebih mudah dimengerti dan diingat… hehe…

      Aku malah baru tahu ada sudut pandang orang kedua… nanti aq coba konsul lagi dengan orang kantor Bahasa… krna mereka juga yg nyusun KBBI.. aq juga belum paham2 banget soal Kebahasaan… wkwkwk
      Nulis asal nulis aja… 🀣🀣🀣

  1. Kakak, aku mau nambahin.

    Bukannya sok tahu ya, cuma pemahamanku agak berbeda.

    Poin ke 2. Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan, itu tidak harus pelaku sampingan. Sudut pandang orang kedua, bisa juga narator yang bercerita.
    Jadi, poin ini, ragamnya ada dua.

    Poin ke 3. Sudut pandang orang ketiga pun ada dua jenis, serba tahu dan pengamat. Pengamat dalam artian, penulis pun tak tahu isi hati dan pikiran para tokoh, tugas penulis adalah membuat pembaca ikut menerka-nerka.

    Lalu apa bedanya dengan sudut pandang pertama sebagai ‘aku’ kalau sebagai aku, tak lantas bisa gamblang menceritakan mimikmuka, gerak-gerik dan setting. Sedangkan POV tiga pengamat, terbilang lebih bebas. Hanya terbatas di penggambaran perasaan dan isi pikiran.

    Semoga berkenan dengan pemikiran ku. Tidak ada maksud menggurui, daku juga masih belajar.

    Salam Literasi

  2. Sama-sama belajar juga, Kak. Hehehehe

    Tapi untuk yang baru mau menulis, pilihannya lebih mudah pakai pertama dan ketiga. Meskipun, tetap harus hati-hati, salah-salah bisa seperti contoh, ‘aku’ yang terlalu tahu segala hal.

    Masalah penyebutan aja sih, ya. Tapi memang, dalam dunia nulis novel dan cerpen, beberapa editor nyebutnya POV kedua. Hehee

    Bukan untuk diperdebatkan penyebutannya sih. Yang penting penerapan, asal bisa sih oke aja. Cuma ya POV dua itu paling sulit. πŸ™ˆ

    • Yukeneyza:
      wkwkwk… iya.. POV 2 itu sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.
      Maknanya sama.
      POV 2 dalam istilah sastra inggris dan lebih gaul sedangkan sudut pandang orang pertama pelaku utama itu istilah bahasa indonesianya…
      Jadi. Bisa dikatakan sama maknanya antara Gadget dan Gawai.
      Kita lebih terbiasa n familiar dengan kata gadget ketimbang gawai… aslinya yo sama.. πŸ˜‚