Sumber gambar pixabay.com/roverhate

“Kak, apa purnama boleh merindu? Atau, rindu itu hanya berhak dimiliki dan dirasakan oleh orang-orang sekelas anak berdarah biru?” Tanya anak kecil itu sambil terus menariki jilbabku yang semakin molor. Memang sudah menjadi kebiasaan dan kesukaannya memaksa. Apapun yang dikehendakinya harus terwujud, dan apapun yang ditanyakannya harus terjawab. Tidak peduli ia harus mati-matian mewujudkannya sendiri, ataupun mencari jawabannya sendiri. Di mataku, ia akan terus menjadi anak kecil, sedewasa dan setua apapun ia. Baginya, meminta dan bertanya adalah jalan mewujudka irama antara keinginan dan jawaban. Jika tidak ada, maka berlaku kalimat “Setidaknya aku sudah berusaha dan bertanya, saatnya berjuang sendiri dan mencari jawaban seorang diri”.

Ternyata, memiliki adik yang sangat kritis itu tidak enak. Yah, ada enaknya ada tidaknya. Sikapnya menuntut kita untuk terus belajar, belajar, dan belajar demi menaggapi pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak meski kujawab. Kadang memang otakku saja yang tidak bisa menembus pikirannya, hingga kadang soalnya A, terjawab B olehku. Memalukan, apa mau dikata.

“Apa sih dek? Purnama siapa? Bulan di langit? Dia mau rindu ke siapa? Untuk apa juga? Hah? Rindu sama matahari? Terus siapa yang melarang?” kataku setengah jengkel lalu tertawa. Ada-ada saja memang anak ini. sesederhana apapun pertanyaannya, selalu membuatku kualahan, sebab ia tak pernah berhenti bertanya jika sudah dijawab. Ada saja bantahannya.

“Ih kakak. Aku kan Purnama. Aku boleh merindukan?” tanyanya sambil terus menatapku. Ia terus merengek layaknya anak berusia lima tahun meminta dibelikan mainan kepada ayah dan ibunya. Lagian, sejak kapan namanya berganti Purnama? Aku terheran-heran. Mengapa anak ini tiba-tiba aneh begini, pikirku.

Itu juga bagian dari ketidakmampuanku menalar apa yang ditanyakannya. Otakku terlalu dangkal, mungkin. Mataku menatap ke matanya yang penuh harap. Tidak ada tatapan kritis sebagaimana yang kusaksikan biasaya. Kali ini, matanya hanya mengisyaratkan kesenduan, keperihan. Entah apa yang dimaksudnya pada soal yang belum juga kumengerti.

Dan aku belum hendak menjawab. Ia merengek lagi, kali ini lebih keras, lebih serius, dan lebih menyebalkan, lebih tepatnya lebih menyayat,

“Kak, jawab atuh. Apa Purnamamu boleh merindu? Boleh tidak kak? Kakak jahat. Hanya menjawab boleh atau tidak saja susah sekali” katanya. Kalimatnya terlalu baku kali itu. Ada jin apa yang tengah merasuki jiwanya. Biasanya, bahasa-bahasa pertanyaannya santai, layaknya obrolan di pinggir pantai sembari menikmati pisang goreng, kalau ada.

Kuputuskan untuk menjawab. Setidaknya, ia hanya butuh jawaban boleh atau tidak.

“Tidak boleh”, sambil menatap kornea matanya dan mengelus ke kepalanya yang juga dibalut oleh kerudung. Hanya saja, kerudungku berwarna gelap, sementara kerudungnya terang.

Wajahnya berubah menjadi demikian mendung. Lebih mendung dari raut yang tadi. Hatiku berguncang. Ada apa gerangan kepada anak ini? aneh sekali. Ada perasaan bersalah merasuki jiwaku. Perasaan tidak tenang. Dari sudut matanya terlihat olehku lelehan air mata. Tanpa suara.

“Lah, kenapa? kakak salah jawab? Lagian, kamu rindu ke siapa nak? Masih kecil, nggak boleh rindu-rinduan. Palingan maksud kamu rindu ke laki-laki kan?” tanyaku memastikan dan pembelaan.

Matanya menatapku tajam. Sambil mengusap air mata ia berkata,

“Kak, maksudku, apakah aku boleh rindu kepada ayah dan ibu? Itu saja. Dua hari lagi Ramadhan. Mereka sudah tak ada. Tak akan ada lagi yang berpura-pura memakan makanan saat menunggu waktu berbuka. Tak ada lagi yang akan memarahiku ketika aku telat bangun saat sahur. Dan saat lebaran? Apalah jadinya diriku kak? Untuk apa merindukan lelaki seperti yang kakak tuduhkan. Aku rindu kak.” Akhirnya, raut wajah yang dari tadi menjadi tanya terjawab. Ditutupi wajahnya dengan kerudung pink itu. Sambil terus terisak.

Jleb. Jawaban tidak terduga, sepaket dengan pertanyaannya. Perih juga mendengarnya, namun apalah daya, aku adalah satu-satunya punggung bagi anak kecil itu saat ini. Maka, sekuat apapun aku ingin ikut menumpahkan rindu, pasti akan kututup.

“Dik. Sudahlah. Baginda Rasul, bukankah jauh lebih muda dalam keadaan yatim piatu daripada kita? Sudahlah. Doakan mereka. Kuatlah. Baginda Rasul sudah mencontohkan segalanya, maka contoh dan ikuti. Sudah ya sayang, jangan berbicara seolah tidak memiliki Tuhan lagi nak. Ada Allah. Sudah ya” kataku sambil memeluknya erat. Ah, anak ini. kelihatannya saja kuat, ternyata hanya seperti kapas.

 

Yogyakarta. Rindu, 21 April 2019

4 KOMENTAR