Sumber gambar : pexels/pixabay

Hai Good Thinkers. Semoga Penakata segera memberi nama panggilan yang cocok ya untuk kita para penghuni di sini. Dan untuk saat ini saya akan memanggil kalian dengan sebutan itu sesuai dengan tagline baru dari Penakata. “Place of Collaboration for Good Thinkers.” So, tidak ada salahnya dong saya panggil kalian dengan sebutan Good Thinkers? Karena saya rasa memang benar, orang-orang yang ikut terlibat di Penakata ini baik sebagai Writer, Reader, teman kolaborasi atau bahkan Silent Reader adalah termasuk menjadi orang-orang yang disebut good thinkers. Setuju gak? Udah deh setuju saja. Soalnya kalau kita berpikir seperti itu, maka jadilah kita seperti itu. Karena apa? YupsAku adalah apa yang aku pikirkan.” jadi percaya diri dan terus berusaha.

Pembahasan kali ini saya ambil dari sebuah buku yang berjudul ‘Apakah Anda Orang Cerdas?’ Karya Syaikh Muhammad bin Faris. Buku ini adalah buku pertama yang saya baca di tahun 2019 ini. Berhubung tahun ini resolusi saya adalah menjadi kutu buku–dan ternyata tidak segampang itu,  jadilah sebuah keberuntungan bagi saya bisa selesai membaca buku ini di awal tahun 2019 kemarin. Setidaknya ada bekal sebelum berjuang mewujudkan resolusi saya.

Nah, ini juga salah satu contoh yang saya sempat bahas kemarin. Ketika semakin banyak membaca maka semakin gampanglah kita untuk menentukan topik tulisan lalu menuangkannya ke dalam bentuk karya tulis seperti ini. Kamu mau coba? Silakan.

Well, kalian pasti mengira ketika membaca judulnya berarti tidak semua orang itu cerdaskan? Misalnya, ketika kalian ditanya dengan pertanyaan sesuai judul buku tersebut, apa sih kira-kira jawaban yang kalian beri? Tidak, mungkin iya mungkin enggak, atau tidak tahu sama sekali?

Baiklah. Tarik napas dulu dari hidung dan pelan-pelan keluarkan dari mulut, jangan dari yang lain. Sudah? Merasa tenang? Okeh. Kita lanjut.

Tolak ukur menjadi orang cerdas bukanlah dari kekurangan di permulaannya tetapi kesempurnaan di penghujung akhirnya.  Ingat ya, garis bawahi tu. Artinya apa? Kita tidak boleh men-judge diri kita langsung sebagai orang yang tidak cerdas, bodoh atau hal-hal yang berkaitan dengan itu. Karena tiap manusia itu dilahirkan cerdas. Hanya saja semua terletak dari seberapa besar usaha untuk membentuk dan merawat kecerdasan  itu sendiri.

Jika saat ini kamu masih mengira dirimu bukanlah orang yang cerdas, ayo berpikir ulang kembali. Pikirkan bahwa kamu adalah orang yang cerdas. Hanya saja butuh dilatih untuk mengasah dan mempertajam kecerdasan itu.

Masih ingat tulisan saya yang berjudul, ‘Kita adalah Manusia-Manusia Tangguh’? Bayi lahir dengan sifat dasar pejuang. Dia juga cerdas dan pantang menyerah. Seiring berjalannya waktu, apa yang membuat ia bisa berjalan, berbicara dan tumbuh berkembang kalau bukan  karena dia mau berusaha untuk itu. Coba kalau dia diam-diam saja, pasti tidak akan bisa apa-apa. Jadi, bayi memang otomatis sudah memiliki naluri untuk semua itu. Hingga secara spontanitas ia pasti menyukai untuk belajar hal-hal baru. Dan yang memati surikan kemauan itu adalah orang-orang di sekitarnya. Bukan bayinya. Kamu dulu pernah jadi bayi kan? Jangan bilang tidak? Pastinya pernahlah. Nah, bayi yang kita bicarakan di atas itu juga termasuk kita sendiri–saat masih berwujud bayi tentunya. Karena masing-masing bayi memiliki sifat dasar dan kecerdasan itu.

Lalu apa yang dimaksud dengan kecerdasan? Menurut buku yang saya baca, banyak makna dari kecerdasan itu seperti  kemampuan untuk  beradaptasi atau menyesuaikan diri di tempat kita berada atau tinggal, mampu berpikir pada suatu hal yang abstrak dan menemukan keterkaitannya, mau belajar dan mencari pengalaman serta menguasai dan memanfaatkan itu semua dalam hal mengatasi semua masalah. Dan yang terakhir, kecerdasan itu adalah pemahaman yang cepat dan tajam.

Jika diambil kesimpulannya, kecerdasan bisa diartikan ” Memperdayakan akal pikiran dan berinteraksi dengannya”

Sering-sering berpikir dan jangan biarkan otak kita gak berjalan karena malas mikir. Rajinnya cuma makan tidur makan tidur. Mesin didiemi juga bakal macet, otak pun begitu kalau didiemin. Tapi jangan kayak doi ya, didiemin malah makin menjauh. Hastag bukan curhat. Hahaha.

Untuk saat ini cukup ini dulu ya, GoodFriend. Karena  sepertinya pembukaan saya terlalu panjang untuk berlanjut ke pembahasan yang lebih inti. Iya benar. Sepanjang ini belum masuk ke  pembahasan dari apa saja 21 tanda kecerdasan itu. Takutnya kalian muntah dan tidak membacanya sampai habis. Akhirnya tidak maksimal. Padahal yakinlah, materi yang satu ini sayang banget untuk dilewatkan.

Di tulisan kali ini masih sampai pada pengertian dari kecerdasan. Untuk selanjutnya saya akan membahas 21 tanda kecerdasanya tapi dengan cara per-part-part seperti ini juga. Apa saja itu? Ditunggu saja ya. Semoga bermanfaat.

Selamat  sore, jangan lupa berusaha Always Positive Thinking. 😊

“Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Seraya berkata) ” Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran : 190-191)

9 KOMENTAR