Sumber pixabay.com

Lama sebelum ini serta sebagai alasan untuk ia pergi ke Bandung, ada kisah yang terasa tidak biasa. Cintanya begitu kentara berbeda dengan rasa cinta sebelum-sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia merasakan hubungan percintaan, tetapi sampai detik ini, kisah inilah yang membuatnya terasa di surga. Laki-laki yang ia cintai lebih dari apa pun dan siapa pun di jagat cakrawala ini. Meski tidak sesempurna Shahrukh Khan tapi inilah laki-laki paling istimewa dalam hidupnya.

Pertemuan itu tidak ada yang mengharap tidak juga disengaja, tetapi takdir Tuhanlah yang berbicara. Bulan puasa yang begitu berkah juga menjadi pembuka hati. Tidak hanya petunjuk, tetapi juga untuk cinta. Seketika itu jantungnya berdebar dan salah tingkah. Seperti ada seorang Arjuna datang membawa senyum bahagia ke dalam istana hatinya. Ia hanya mampu mengurungkan rasa agar tidak terlihat tertarik.

Belum juga laki-laki itu suka padaku,” batinnya.

Sementara tanpa sadar ia telah membuat senyawa harapan yang tidak akan berarti tanpa ikatan. Neurotransmitter telanjur memacu endorfin yang ia kamuflasekan dengan pura-pura curi pandang dalam setiap tawa. Ia berusaha sedemikian rupa agar tidak kelihatan tertarik padanya. Meski sebenar-benarnya Arjuna telah menduduki satu sentimeter bagian terpenting dalam hatinya.

Mungkin sudah lama hal ini tidak ia rasakan, setelah ada perkara yang memaksanya keluar dari Banyumas. Kota yang menjadi saksi pelarian pertama dalam kisah cinta yang begitu berani. Cinta yang terlalu dini untuk dinodai dengan perbedaan dan pertentangan kepercayaan. Ia diimpit antara memilih kekasih atau orang tua. Barangkali itulah yang membawanya ingin keluar dari kota kelahirannya. Pergi menjelajah jalanan dengan bebas tanpa harus memikirkan masa lalu dan keluarga.

Sudah hampir enam tahun lebih ia tinggal di sana dengan kisah-kisah baru yang berbeda dari masa lalunya. Tinggal jauh dari keluarga membuatnya harus bisa bertahan hidup, mandiri, dan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Terlebih ini memang sudah ia rencanakan, “Pokoknya setelah lulus SMA, aku ingin keluar dari kota Semarang.

Setelah lulus ia pun melamar pekerjaan apa pun yang penting bisa keluar dari Kota Semarang. Hingga suatu saat ia dipanggil perusahan farmasi untuk penempatan di Kota Cilacap. Rasa senang sangat kentara sekali di wajahnya. Meskipun ia tidak pernah tahu kota itu ada di mana, mau ke mana ia akan tinggal, dengan siapa ia akan berteman. Semua itu tidaklah penting, yang penting ia bisa keluar dan bebas. Terlebih cintanya yang kandas dapat segera tuntas.

Kakaknyalah yang berjasa dalam kehidupan pertamanya bekerja. Si Rama memberikan saran untuk sementara tinggal dulu dengan saudara. Rama juga memberikan baju kerjanya dan uang untuk memenuhi kebutuhan sampai mendapat gaji pertama. Eh salah, untuk baju memang diberi, tetapi tidak untuk uang dengan kata lain adalah hutang. Perjalanan memang selalu memberikan cara untuknya belajar. Dunia marketing yang tidak terbayangkan sebelumnya, pelan-pelan ia pahami.

Setelah mengenal tempat di mana ia bekerja, tanpa ragu ia pun memutuskan keluar dari rumah saudara dan memilih indekos. Mungkin rasa pakewuh dan tidak nyaman mendorongnya untuk tinggal sendiri. Namun, bukan itu alasan yang sebenarnya. Terlebih saudaranya tinggal di Banyumas dan tempat ia kerja di Cilacap, daripada bolak-balik menghabiskan tenaga lebih baik ia tinggal sekalian di Cilacap.

Tempat indekos yang sempit dengan orang-orang yang sama dalam kurun waktu tertentu berubah menjadi kisah yang tidak semestinya. Awal-awalnya hanya karena terbiasa, lama-lama cinta itu datang juga. Masa lalunya pun mulai terlupa, cinta yang kandas akan berbunga kembali dengan orang yang berbeda. Cinta satu petak dan satu area dalam ruang kerja yang berbeda akan segera dimulai.