Ini bukan tentang perasaan hati atau yang disebut cinta. Tapi lebih kepada perasaan tak menyangka. Kesan pertama yang bisa aku lihat, dia adalah seorang mahasiswa yang mungkin sedang stres memikirkan skripsi. Memang dari awal sebelum dia meminjam bolpen kepadaku, aku sempat memperhatikan dia. Itu aku lakukan karena meja dia berada di depan mejaku.

Tapi kejujurannya mematahkan persepsiku tentang dia.

“Oh, sudah nikah?” ucapku datar.

“Iya, aku sudah nikah. Sudah dua tahun ini.”

“Sudah dua tahun? Sudah punya anak berarti?”

“Belum dikasih sama yang di atas.”

“Ya sabar, Mbak.”

“Iya. Tapi kami sering ribut. Masalah kecil saja bisa jadi pemicu keributan.”

“Ya namanya juga berkeluarga. Menikah itu menyatukan dua pikiran yang berbeda.

Meski saling cinta, belum tentu satu dalam pikiran, satu dalam kemauan, satu dalam memilih sesuatu. Jadi pasti ya ada ribut-ribut seperti itu.”

“Mas juga sudah nikah?”

“Belum. Tadi itu cuma teori. Kata orang-orang.”

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Dia pun mengucap pamit padaku sembari memberiku secarik kertas.

“Aku pamit dulu. Sebentar lagi suamiku pulang dari kerja. Aku harus sudah ada di rumah. Aku sedang malas ribut sama dia.”
Aku buka secarik kertas yang terlipat setelah dia pergi. Aku lihat sebuah nomor telepon dan sebuah tulisan, “TOLONG KALAU ADA WAKTU HUBUNGI AKU DI NOMOR INI.”

Mungkin jika dia tadi tidak mengatakan bahwa sudah memiliki suami, nomor itu pasti langsung aku simpan.

Waktu cepat berlalu, sejak bertemu dengan Mentik, pikiranku tak sekali pun memutar kembali kejadian itu. Namun pada hari ketiga puluh, rasa kesepian dan kerinduan akan wanita seakan menyuruhku untuk mengingat Mentik kembali.

Jangan kamu pikir aku sedang jatuh cinta kepada Mentik. Ini hanya rasa yang timbul sebab kesepian dan kebiasaan.

Aku memang tidak menyimpan nomor telepon Mentik di ponselku, tapi aku masih menyimpan nomor yang tertera pada selembar kertas di dompetku.

Dengan sedikit ragu, aku sapa dia melalui chat. Tak disangka, Mentik malah menghubungiku lewat panggilan telepon.

“Aku kira kamu tidak mau menghubungiku. Aku nunggu kamu,” ucapnya dalam telepon.

“Maaf, aku baru sempet ini.”

“Oya, aku manggil namamu saja ya, biar akrab.”

“Silakan.”

Aku dan Mentik mulai akrab, mulai sering ngobrol, baik ketemu langsung maupun hanya lewat pesawat telepon.

Banyak cerita yang Mentik bagi kepadaku, semua masalah seakan tak pernah luput diceritakannya kepadaku. Bahkan masalah paling pribadi pun dia bagi, masalah yang tak seharusnya dia bagi kepada siapa pun, apalagi kepadaku yang bukan siapa-siapanya.

Namun ini bukan mauku, bukan aku yang menyuruhnya. Aku sebagai pendengar yang baik, ya hanya bisa mendengarkan semua yang dia ceritakan. Setelah beberapa kali bertemu, aku pikir itu hal yang wajar, sebab pengamatanku tentang Mentik, dia adalah wanita yang cerewet, suka bercerita.

Hingga suatu hari, Mentik mengatakan hal yang di luar dugaan. Mentik mengucapkan sesuatu yang membuatku hanya bisa terdiam. Entah aku harus bagaimana, entah aku harus berkata apa. Seakan Mentik mendorongku pada sebuah kebingungan yang teramat sangat bagiku. Andai saja Mentik bukan istri orang, aku tak akan sebingung anak ayam kehilangan induknya.

Berawal dari kata “Nyaman” sebuah perselingkuhan terjadi. Sejak pengakuannya yang begitu nyaman jika berada dekat denganku, aku resmi menjadi lelaki simpanannya.

Aku dan Mentik bukan lagi anak sekolah yang berselingkuh hanya makan berdua, jalan berdua atau nonton berdua. Namun lebih dari itu.

Saat aku dan Mentik main berdua, entah dari mana Mentik mengajakku untuk menyewa sebuah kamar. Tawaran yang begitu membuatku merinding. Jelas itu bukan untuk tidur bersama, sebab jika tidur bersama, tak akan terjadi hal-hal di luar kendali. Namun ini terjaga bersama hingga khilaf itu terjadi.

 

(Bersambung)

11 KOMENTAR

  1. Ah, Mentik, mengapa kamu mengecewakan kekagumanku tentang sosokmu? Hiks, haruskah dia melakukan hal itu, Kak Dan?! Untung fiksi.🙊

    * * Kesepian bak sembilah pedang berujung runcing yang menembus jantung, bahkan mampu melumpuhkan semangat hidup dan menghadirkan pikiran jahat di kepala. Aku sering mengibaratkan dan menggunakan semua kalimat itu pada cerpenku, Kak.

    Bikin cerita fiksi menyenangkan, ya Kak? Bebas dan bisa menentukan karakter dalam cerita kita semaunya. Wkwkwkwk. Tetap semangat, Kak Dan.👻👻👻