Aku tak akan melupakan hari itu, hari di mana perjakaku hilang direnggut oleh manisnya perselingkuhanku dengan Mentik.

Dulu aku yang tak pernah berani melakukan hubungan zina dengan pacarku, namun dengan Mentik hal itu terjadi. Dulu aku selalu bisa menahan diri dengan pacar meski setan kerap membisikiku untuk melakukan, namun dengan Mentik, meski tanpa dibisiki setan, hal itu tetap terjadi. Dulu aku bisa memegang janji tidak akan melakukan dengan pacarku, namun dengan Mentik yang berstatus istri orang, hal itu terjadi.

Sungguh pengalaman pertama yang membuatku menjadi ketagihan untuk melakukannya lagi. Apalagi ditambah pengakuannya yang begitu puas melakukan sex denganku. Hingga sebulan kemudian saat ada kesempatan lagi, aku dan Mentik melakukannya lagi di sebuah penginapan.

“Kenapa kamu mau melakukan ini sama aku, Tik?” tanyaku seusai melakukan hubungan itu. Saat kepalanya ia baringkan di atas dadaku.

“Entahlah, aku merasa nyaman dengan kamu. Kamu sangat beda dengan suamiku. Kamu begitu lembut memperlakukan aku, gak seperti dia yang begitu kasar.”

“Hanya karena nyaman?”

“Tidak juga sih.”

“Lalu?”

“Terkadang aku merasa bosan melakukan ini dengan suamiku. Aku ingin mencoba sensasi dengan yang lain. Hingga akhirnya aku bertemu dengan kamu. Tapi jangan kira aku cewek gampangan atau pelacur yang mudah diajak sex dengan siapa saja. Aku mau melakukan ini denganmu karena aku juga mencintaimu.”

“Kamu mencintaiku?”

“Iya, Tri. Aku tahu ini salah. Tapi cinta tak pernah bisa memandang apa dan siapa, cinta tak pernah mau melihat keadaan bahwa aku sudah menikah. Aku juga tahu perbuatan ini dosa, tapi bagaimana lagi, aku begitu ingin merasakannya denganmu. Terserah kamu mau berpikiran bahwa aku cewek nakal. Asal kamu tahu, aku hanya melakukan ini denganmu, selain dengan suamiku. Aku hanya mencintaimu selain mencintai suamiku.”

Sungguh aku tak bisa apa-apa, mulutku hanya diam membisu, hanya tangan yang mampu memeluknya semakin erat.

Perlahan ada getar-getar yang menjalar ke hatiku, getar yang membuatku merasa damai, merasa ada bunga yang mekar menghiasi perasaanku. Sepertinya aku jatuh cinta.

“Aku minta maaf, ya?”

“Maaf kenapa, Tik?”

“Pertama telah memberimu dosa, kedua telah menyeretmu ke dalam perasaanku, ketiga aku tak bisa bercerai dari suamimu demi bersamamu.”

Aku kembali terdiam. Apa yang telah aku rasakan, seakan hanyalah semu semata. Aku kira aku akan bisa bersamanya, ternyata tidak.

Dalam keadaan masih telanjang bulat, masih berbaring di atas kasur, aku menghela nafas panjang hingga aroma wangi parfum di tubuhnya begitu terasa tercium olehku.

Seketika, berahiku muncul kembali. Aku cium keningnya, bibirnya lalu leher hingga terus menjalar ke mana-mana. Aku lihat dia pun begitu, memberi perlawanan yang sama, mencumbuiku dari ujung kepala hingga kaki. Dan terjadilah ronde ke dua yang begitu berbeda dari ronde pertama. Mungkin di ronde ke dua, cinta sudah mengambil alih semua, bukan lagi tentang perselingkuhan.

Entah ini memang salahku telah membuatnya merasa nyaman atau salah nasibnya telah mendapatkan suami yang kasar menurutnya.

Menurutmu siapa yang salah? Tuhan? Tidak, jangan pernah salahkan Tuhan. Aku sungguh tak berani menyalahkan-Nya meski kehidupan ini sudah digariskan oleh-Nya.

Bagaimana pun juga, ini salahku. Seharusnya aku tak menghubungi dia kembali, seharusnya tak aku biarkan dia bercerita tentang keluarganya, seharusnya tak aku beri jarak yang begitu dekat denganku.

Tapi ya sudahlah, semua itu sudah terjadi. Hungan itu pun sudah berakhir setelah terbongkarnya hubungan ini.

“Trek, tadi kamu dicariin orang,” kata teman kerjaku.

“Siapa?”

“Katanya, suaminya Mentik,” jawab temanku. “Bajingan juga ternyata kamu Trek. Istri orang masih kamu embat juga,” lanjutnya.

“Ya mau gimana lagi, namanya juga cinta.”

“Cinta gundulmu, Trek! Mana ada selingkuh sama istri orang pakai cinta. Paling-paling kamu cuma mau ngesex tapi cari yang gratisan.”

“Gratisan gundulmu! Kalau dihitung-hitung, biaya yang aku keluarkan lebih mahal dari pada nyewa pelacur. Kamu pikir aku main sama istri orang cuma mokondo?”

“Ya sudah. Untung orang tadi gak ketemu kamu. Mati kamu kalau ketemu. Bawa pedang tadi orangnya. Untung aku bilang kamu sudah pindah seminggu lalu.”

“Wah, kamu memang temen sejati, Bro.”

“Kalau begitu, nanti pulang kerja traktir, ya?”

Sejak saat itu aku tak bisa lagi menghubungi Mentik lewat telepon. Mungkin ponselnya sudah hancur oleh suaminya. Aku hanya bisa berharap, dia baik-baik saja. Pun jika dia bercerai, aku siap menerima dia. Tapi hingga kini aku tak pernah mendengar kabar tentang dia.

Aku hanya mampu mengingatnya sampai sekarang. Bahkan setiap aku mencium parfum dengan aroma yang sama, seketika aku mengingat dosa yang pernah aku lakukan bersamanya.

Itulah aroma dosa yang aku maksud. Dan parfum milik Melati sama persis dengan aroma dosa itu.

Sama seperti aku dengan Mentik, aku dengan Melati semakin akrab. Sering bertukar cerita. Sering bertemu dan jalan bersama.

Aku memang mudah akrab dan dekat dengan wanita, namun aku tak mudah untuk jatuh cinta, trauma yang membuatku seperti itu. Hanya kepada wanita gigih yang berhasil meluluhkan hatiku, aku akan mencintainya.

Sepertinya Melati salah satunya. Biji cinta baru saja tunas di hatiku. Namun belum sempat ia tumbuh menjadi sebuah pohon dan berbuah, aku paksa membunuhnya. Tunas itu aku hancurkan.

Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku putuskan untuk menjauh dari Melati ketika dia berkata jujur sudah memiliki suami.

Umurku sudah semakin bertambah, aku bukan remaja dengan nafsu yang menggebu seperti saat dengan Mentik. Bahkan sebenarnya masih ada wanita-wanita yang datang setelah Mentik dan hanya aku sambut dengan nafsu saja.

(Bersambung)

NB untuk pembaca, setidaknya ada hal yang bisa dipetik dari bagian ini. Yaitu, sekesal dan semarah apa dengan pasangan, tak perlu lah diceritakan kepada siapapun, terlebih lawan jenis. Tak perlu juga bercerita masalah pribadi. Tak perlu terlalu dekat dengan lawan jenis. Terimalah pasanganmu apa adanya, sebab dialah yang kau pilih dengan kesadaran waktu menerimanya.

Selamat membaca. Nantikan kenakalan Gotri lainnya. Semoga kita terhindar dari kenakalan tersebut.

16 KOMENTAR

  1. 😱🙄😂 Paragraf pertama saja aku sudah terkejut, Kak Dan. Apalagi paragraf yang di tengah tuh. Waduh, kalau di Pm sudah di-report nih. Wkwkwk. ✌✌

    Kak Dan, apa enggak bisa pakai kalimat “terselubung”? Maksudnya jangan gamblang gitulah. Hahahaha, aneh saja sih kalau Penakata ada cerita yang rada nyeleneh gini. Kayak Watty saja. Wkwkwk. *Admin, serius nih yang kayak gini boleh di Penakata? Huuuaaaaa, apa kabar dengan ceritaku yang ”biasa” saja? Kayaknya aku mau fokus dengan artikel ringan saja deh. 🤔😌🙄

    Kak Dan, apa kata-katanya enggak bisa diperhalus gitu? Ish, enggak nyaman bacanya. Sungguh! Itu menurutku sih. Entahlah kalau orang lain. Peace ah, Kak. Itu pemikiranku saja. Yang lain bebas. 👻👻👻

        • Waduh, Kak Dan rasa katanya saja sudah beda. Entah ya kalau yang biasa baca cerita kayak gini mungkin sudah biasa. Namun, coba deh Kak Dan sering baca tulisan di berbagai platform lain, enggak harus gitu juga penyampaiannya. Beda Kak Dan. 😎

          Kalau dengan dalih pembelajaran enggak gitu juga kalimatnya. Sejujurnya sih, memang enggak bakalan diloloskan juga oleh editornya. Hehehe. 😁

          Ya, mungkin Penakata punya aturan sendiri juga. Enggak masalah juga. Itu sih hak Kak Dan. Selera orang beda-beda juga sih. Oya, Kak aku enggak bakalan kasih jempol loh buat Kak Dan. Dengan dalih apa pun. Wkwkwk, maafkan. Kak Dan bebas melakukan apa yang Kakak mau. Ini hanya isi kepalaku saja.😑 Merdeka!

          • Makasih atas komenmu. Bagaimana pun juga aku hargai pendapatmu tentang bagian ini.
            Semua masukan tetap akan aku tampung untuk pembelajaran apa yg perlu aku perbaiki, apa yg perlu aku rubah.