Sumber gambar instagram.com/hiliuu

Vita, gadis ceria yang sedang berjuang melawan penyakit kronis bernama Rheumatoid Arthritis, tidak hanya menahan rasa sakit akibat penyakitnya, tetapi juga menahan rasa sakit akibat sahabat-sahabatnya yang kini telah meninggalkannya. Menjadi pasien dengan penyakit kronis memang sangat membutuhkan bantuan orang-orang sekitar, tidak hanya keluarga, sahabat juga sangat dibutuhkan. Vita, yang awalnya ceria dan memiliki banyak sahabat, kini harus merelakan ditinggal sahabat-sahabatnya karena Vita sangat merepotkan mereka. Bagaimana tidak, saat sedang jalan-jalan ke Mall, Vita bisa tiba-tiba jatuh karena kaki kram akibat terlalu lelah. Bahkan, Vita bisa tiba-tiba pingsan.

ย “Sangat merepotkan!”ย Keluh Kiki yang mulai muak akan penyakit Vita.

“Aku gak mau ya, kalau besok Vita ikut bersama kita! Memang kalian gak capek apa, tiap saat dia jatuh dan harus dipapah. Belum lagi kalau pingsan. Pokoknya, kalau dia masih ikut, aku gak mau ikut!” Kiki semakin geram.

“Tapi Vita kan sahabat kita, Ki.” jawab Lili yang sangat peduli dengan Vita sahabatnya, tapi mudah terpengaruh oleh Momon yang punya kata-kata manis tapi menusuk.

“Sudahlah, Li! Kalau kita sahabat Vita, seharusnya kita gak ajak dia ke Mall. Biar saja dia istirahat di rumah, kan kasihan harus ikut kita terus.” Jawab Momon dengan kata-kata manis sambil melengkungkan senyum jahat ke arah Kiki yang menandakan dia sependapat dengan Kiki jika Vita sangat merepotkan.

Akhirnya Lili pun setuju dengan Momon karena dia tak ingin sahabatnya kelelahan dan kesakitan. Dan mereka pun sepakat tidak mengajak Vita untuk menghabiskan weekend seperti biasa.

 

***

 

“Halo, Mon! Kita hari ini gak ada jalan ke Mall?” terdengar suara Vita di ujung telepon genggam milik Momon.

“Enggak, Vit! Aku ada acara keluarga.” Momon berbohong.

“Yasudah kalau begitu, aku coba telepon Lili dan Kiki, ya.”

“Tunggu, Vit! Kamu gak usah telepon mereka!”

“Lho! Emang kenapa, Mon?”

“Kita emang udah sepakat gak ada jalan-jalan hari ini. Jadi kamu juga bisa istirahat di rumah kan. Jaga kesehatanmu, Vit!” jawab Momon dengan kata-kata manisnya yang penuh kebohongan.

“Oke deh, have a nice weekend, ya! Salam untuk keluargamu.” Jawab Vita dengan hangat lalu memutuskan sambungan teleponnya.

“Huft! Untung Vita telepon aku duluan, kalau dia telepon Lili duluan, bisa kacau!” Bisik Momon kepada Kiki saat perjalanan menuju rumah Lili.

 

***

 

Hampir setiap Minggu Vita mendapat jawaban berbeda saat menelepon Momon untuk menanyakan apakah mereka tidak menghabiskan weekend bersama. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan, Vita mulai merasa kehilangan sahabat-sahabatnya. Vita pun mencoba untuk menghubungi Lili.

“Halo, Lili!” Suara lembut Vita menyapa Lili di ujung telepon.

“Eh, Vita! Ada apa? Tumben telepon aku?”

“Aku kangen kamu, Li! Sudah lama kita gak jalan bareng.” Jawab Vita seraya tertawa kecil menunjukan dia benar benar merindukan sahabatnya.

“Iya, Vit, aku juga kangen sama kamu, tapi kata Momon kamu butuh istirahat makanya kita gak bisa ajak kamu pergi lagi.” Jawab Lili dengan polosnya.

Vita pun terkejut akan pengakuan Lili, alasan sebenarnya mengapa sahabat-sahabatnya tak lagi mengajak Vita pergi bersama.

“Maaf ya, Li, karena aku sering merepotkan kalian.”

“Vita apa sih? Kita kan sahabat, kamu gak boleh ngomong gitu!”

“Kamu memang sahabatku, Lili. Kalau begitu aku istirahat dulu ya. Salam untuk yang lain.”

Vita pun mengakhiri perbincangannya dengan Lili karena tak sanggup menahan air mata setelah mendengar pengakuan dari Lili. Vita sadar bahwa dirinya memang sangat merepotkan orang di sekitarnya, tapi apa pantas sahabatnya sendiri berpikir demikian tentang dirinya.

Sejak saat itu Vita tak lagi menanyakan kepada sahabat-sahabatnya tentang rencana akhir pekan mereka. Vita memilih untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya yang tidak akan mungkin meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Untuk sahabat-sahabat Vita, Vita hanya bisa mendoakan mereka supaya mereka selalu sehat, sehingga mereka tidak merasakan sakit yang Vita rasakan.

 

Sahabat, sehina itukah diriku di mata kalian?

Sehingga kalian meninggalkanku saat ku terluka

Apakah kalian lupa saat kita bersuka?

Bukankah kita telah sepakat untuk selalu bersama?

 

Jika bagi kalian aku hanyalah duri

Biar aku saja yang pergi

Karena aku sadar diri

Aku tak ada arti bagi kalian lagi

 

Sahabat, jikalau nanti kalian terluka

Kalian boleh datang dan mengadu kepadaku

Tangan ini akan selalu terbuka

Untuk kalian sepanjang usiaku

 

Karena sepahit apa pun yang ku rasa saat ini

Kalian pernah menghiasi perjalanan hidupku

Biarlah nama kalian tetap terukir di hati

Dan wajah kalian tersimpan dalam kalbu

 

12 KOMENTAR