Sumber gambar : pexels/pixabay

Terdengar suara pintu rumah terbuka. Aku melongokkan kepala dari pintu kamar. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Ayah duduk di kursi panjang kayu ruang tamu. Aku masih bertahan di pintu memandanginya yang tak sadar sedang kuperhatikan.

Mengusap-ngusap dan membiarkan kepalanya tergeletak pasrah di atas sandaran kursi sambil memejamkan mata.

Aku sudah ingin berucap. Namun urung karena melihat Ayah yang sepertinya kelelahan selesai bekerja seharian.

Kami hanya tinggal berdua di rumah ini. Ibuku meninggal saat proses melahirkan adikku 4 tahun lalu. Ibu terlanjur kehabisan tenaga dan meninggal saat itu juga bersama bayinya yang masih berada di dalam kandungan. Dan peristiwa itu terjadi di rumah ini. Kenangan yang begitu menyakitkan buat ayah dan aku saat itu. Tapi kami harus tetap terus bertahan untuk melanjutkan hidup dan tak ingin terlalu lama terjebak dalam duka yang mendalam. Walau sisa-sisa itu masih ada hingga sekarang, namun hidup harus tetap berlanjut.

Aku pun pelan-pelan mundur dan kembali lagi ke tempat tidur. Tidak ingin mengganggu Ayah yang sepertinya sangat kelelahan itu.

Pagi hari aku bangun lebih awal. Setelah selesai sholat subuh lanjut memasak nasi dan menggoreng telur untukku dan Ayah. Kamar Ayah masih tertutup. Itu tandanya ia belum bangun. Ia memang berangkat pukul 9 pagi. Sedang aku harus berangkat sekolah pukul 07.30 pagi. Uang jajan dan ongkos masih ada untuk sebulan ke depan. Jadi, tak perlu membangunkan Ayah.

Dulu waktu ayah belum sesibuk ini, ia selalu mengantarku pergi sekolah. Bangun lebih awal dariku, memberi kecupan di kening lalu menyuruhku segera bangun karena hari sudah terang.

“Perempuanku. Waktunya sarapan!!” teriaknya saat sudah selesai memasak nasi dan lauk untuk kami sarapan. Dia suka menggoreng telur setiap pagi. Jadi sarapan pagi kami tiap hari itu hanya nasi dan telur dadar. Haha. Ayah sangat menyukai itu. Dan kami sangat menikmati waktu-waktu bersama.

“Iya Lelakiku. Aku sedang memakai sepatu.” teriakku dari ruang tamu. Ah, manis sekali panggilan itu dulu.

Rumah kami tidak luas. Sederhana namun suasananya terasa manis dan sangat nyaman. Ayah selalu rajin membersihkan rumah bahkan mengepel tiap hari. Apalagi foto ibu. Ayah tidak pernah lupa selalu mengelapnya dengan kain basah agar tidak banyak debu. Sesibuk apapun itu ia selalu menyempatkan diri. Kadang hanya menyuruhku untuk bantu-bantu saja saat dirinya butuh bantuan. Padahal aku sudah memaksanya untuk mengizinkanku mengerjakan semua.

Tapi sekarang, ayah tidak sempat untuk beres-beres seperti dulu. Walau hanya untuk mengelap bingkai foto ibu saja. Mungkin benar, kesibukan Ayah sekarang sudah berkali lipat. Apalagi ia sadar biaya masuk kuliahku akan sangat besar nanti.  Ayah janji akan menuruti jurusan apapun yang kuinginkan. Dan bila ditanya, aku selalu menjawab ingin menjadi dokter.

Belakangan ini ayah terus ngoyo bekerja keras. Ia banting tulang pagi siang malam. Hanya untuk mengumpulkan uang agar aku bisa kuliah kedokteran 2 tahun lagi. Aku sudah bilang ke ayah, tidak apa jika mengambil jurusan yang tak sesuai dengan inginku. Asalkan biayanya murah dan tidak membebaninya.

Namun Ayah selalu bilang tidak apa-apa. Dia bisa bekerja keras untuk itu. Dan ingin menjadi kebanggaan bagi keluarga kecilnya. Dia ingin kelak aku bisa menjadi dokter yang selalu siap menolong orang-orang kecil yang tak punya biaya banyak untuk berobat seperti kami. Dan berharap tak ada lagi yang mengalami hal sama seperti apa yang terjadi dengan istrinya dahulu.

Kadang aku sering mendapati ayah sangat lama mengelap satu bingkai foto ibu sambil memandanginya begitu lekat. Aku tak tahu ia sering menangis atau tidak. Tapi sejak kepergian ibu, aku sekali mendapatinya meneteskan air mata. Tepatnya saat ia memandangi sangat lama foto manis ibu di ruang tamu seraya mengelapnya hingga mengkilap. Dan hari itu tepat hari ulang tahunku.

Malam ini Ayah pulang lama lagi. Pukul 11 malam. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari ke pintu kamar karena mendengar suara pintu rumah terbuka. Mengintip dibalik tirai dan melihatnya duduk di kursi panjang kayu itu sambil mengusap rambutnya yang kering seraya menyandarkan kepalanya di atas sandaran kursi. Memejamkan mata dan menarik napas panjang. Lalu tertidur.

Aku masih tidak tega mengganggu ayah yang terlihat sangat letih itu. Maka, kuurungkan niat lagi untuk menghampirinya. Karena jika aku ke sana, ia pasti akan pura-pura lagi tersenyum dan ceria. Padahal ia tak sanggup untuk melakukan itu kalau bukan karena aku. Tidak, aku tidak tega. Biarlah sampai ia sendiri yang menegurku.

Aku pun kembali ke tempat tidur. Meringkuk sambil terisak merindukan suara ayah. Rindu kecupan ayah. Aku rindu semua tentang ayah. Tapi ia masih juga belum menyapaku. Baik di pagi maupun malam saat ada di rumah. Aku menangis dan terus menangis. Ingin menyapanya tapi aku takut mengganggu dia yang kelelahan.

Aku ingin menyapanya, membuatkannya kopi atau bermanja-manja menceritakan semua hal tentangku seperti dulu. Namun terakhir aku melakukannya, sehari setelah itu ia malah tak pulang. Aku menunggunya di ruang tamu sampai pagi. Tapi saat kubuka mata, ayah belum juga pulang. Dan sejak saat itu, aku tak ingin mengganggunya lagi selepas pulang kerja.

Pagi ini aku telat bangun. Untung saja hari ahad. Terbangun dengan mata sangat sembab karena mendengar ketukan keras pintu rumah kami. Tirai jendela belum dibuka. Namun sengat matahari sudah begitu panas menembusnya, hingga kurasakan gerah seketika. Kupatut sebentar diriku di kaca, mataku terlihat sangat sembab, rambutku acak-acakkan. Dan nampaknya hari tak lagi pagi. Ayah mungkin sudah pergi kerja dan tak tega membangunkanku.
Setelah merapikan diri, cepat-cepat aku berlari ke ruang tamu. Siapa itu? Entahlah.

Setelah membuka pintu. Ternyata tamu  ahad siang ini adalah tanteku. Ia tiba-tiba  tersenyum iba. Aku yang kebingungan langsung saja mempersilakan ia masuk dan duduk di kursi panjang kayu yang biasa ayah duduki.

Ia menatapku semakin sendu. Aku tak tahu mengapa tatapannya seperti itu. Ah, mungkin karena penampilanku yang terlihat berantakan. Yang benar saja, aku bangun pukul 13.30. Dan ayah benar-benar tidak membangunkanku.

” Maaf Tante, aku berantakan. Sepertinya Ayah lupa bangunin aku nih. Ada apa ya Tan, kok datang ke rumah?”

Tidak langsung menjawab tapi malah menghela napas panjang. Matanya pun mulai berkaca.

Aku mengrenyitkan dahi melihat ekspresinya.

“Niah, ayolah! Sudah dua minggu kepergiannya. Sudah cukup dukamu. Dan jangan menolak lagi. Mulai hari ini kamu tinggal di rumah Tante, ya?” ajaknya dengan nada begitu lembut sambil menyentuh tanganku. Menatapku penuh kasih.

Deg. Aku menghela napas berat mendengar itu. Sesak tiba-tiba menyerang. Pelan-pelan menyadari sesuatu. Menyadari bahwa kenyataannya, aku masih belum juga bisa merelakan kepergian Ayah sampai detik ini.

~~~

3 KOMENTAR