Sumber gambar : https://pixabay.com/photos/family-parents-mother-father-2485714/

Tanpa kabar, hal biasa bagi anak yang harus menembus waktu dan memperdekat jarak. Bukan karena tidak memendam rindu, sebab rindupun tak bisa dijangkau jika seandainya dia rindu. Wanita itu memandang terus ke arah kipas angin yang berputar-putar. Sudah cukup lama tidak dibersihkan, hingga hitam yang berada di benda berputar-putar itu semakin bertambah-tambah.

Belum ada yang bisa dilakukannya. Mungkin, karma sedang menghampirinya. Hukum alam. Saat semua pekerjaan yang mudah, dengan gaji menggiurkan ditinggalkannya, maka saat itu adalah waktunya berhenti sejenak. Memikirkan, betapa “Konyol” nya tindakan mengundurkan diri dari beberapa instansi yang sempat disinggahi dengan alasan yang cukup remeh sebenarnya.

Sampai saat itu, lamarannya belum juga mendapatkan kabar baik atau buruk. Jikapun kabar buruk yang datang, setidaknya ia tidak perlu menduga-duga hasil akhir. Bunyi ponsel memecah lamunannya. Terpampang sebuah kata dengan indah memanggil, “Ayah”.

Mereka berbincang. Jika sedang ada pembahasan, biasanya akan tertawa, merenung, dan meratap bersama. Tapi jika tidak, maka perbincangan hanya akan didominasi oleh keheningan. Membiarkan jiwa yang berkata-kata, saling menebak pikiran dan alur hidup masing-masing.

Kabar baiknya, siang itu ada pembahasan menarik, hingga tidak membuat kekosongan pembicaraan. Ayahnya sibuk berkisah soal adiknya yang tidak mau didaftarkan MTQ, padahal setelah tahu peserta yang ikut biasa-biasa saja, barulah menyesal. Hmp, mungkin memang begitulah jika kita terlalu banyak menduga-duga.

Dari sekian banyak perbincangan, ada hal menarik yang ditariknya siang itu. Perbincangan soal ide ayahnya yang kerap tidak ditanggapi oleh kakak dan adik-adiknya.

“Ayah kasihan melihat nenekmu. Sudah tua, masih saja harus ke sawah demi menghidupi dirinya. Padahal seharusnya, ia istirahat di rumah, memperbaiki ibadahnya. Ini tidak, masih saja ke sawah. Padahal biaya hidupnya bukan banyak”

Ia hanya menjawab dengan suara tanpa kata. Sebab memang tak ada kata yang bisa dijawabnya meski hanya “Iya”. Tidak cocok. Dengan memberikan jawaban “Hmp”, sudah membuat ayahnya tahu, bahwa ia menyimak.

Cerita dilanjutkan. Ada aura perih dan rasa bersalah dari urat-urat kalimat demi kalimatnya,

“Adiknya ayah, kakaknya ayah, sudah renovasi rumah. Sekarang rumah mereka bagus-bagus. ”

Pikirnya, bagus dong, punya keluarga, dan saudara kaya. Meski belum saatnya ketularan.

“Wah. Kaya ya yah mereka”, dengan nada yang dibuat-buat sok antusias.

“Kaya darimana? Kalau mau nelpon aja kerjanya cuma bisa miscall. Ayah berkali-kali sudah bilang ke tante dan ommu, kalau sebaiknya kami, anak-anaknya nenekmu iuran seratus ribu per bulan untuk uang belanja nenek. Bukan banyak pengeluaran nenekmu, ia hanya butuh makan, itu saja. Tapi tidak ada jawaban sampai saat ini. Kalaulah ayah kaya, mau ayah bantu. Tapi itulah, keadaan kayak gini. Mereka terlalu banyak alasan, dan satu-satunya alasan yang pantas adalah karena mereka miskin. Miskin hati, hingga menjadikan mereka pelit, kikir”

Ia serasa ikut menahan perih. Bagaimana bisa, hanya mengeluarkan uang seratus ribu perbulan untuk ibunya saja tidak bisa, alasannya tidak ada uang. Betapa, sakit mendengar pengakuan ayahnya. Hingga dalam tekadnya, ayah dan ibunya tidak akan dibiarkannya terus bekerja jika kelak sudah renta. Biarlah ia yang berjuang, toh sekeras apapun perjuangannya tetap tidak akan bisa membalas satu peluh yang menetes dari kening ayahnya saat berjuang demi hidupnya, dan satu tetes darah ibunya saat berjuang melahirkannya.

“Masak yah? Ya Allah. Kok parah kali. Cuma seratus ribupun”, ayahnya terus mengulangi kepedihannya. Merasa tidak berdaya menjadi seorang anak. Satu kalimat yang ditambahkan ayah untuk menutupi keburukan-keburukan kakak dan adik-adiknya,

“Semuanya terjadi karena mereka tidak tahu”

Entah tidak tahu bagian mana yang dimaksud ayahnya, hingga dijelaskan,

“Ada sebuah hadis yang menyatakan, bahwa jika kau merajakan ibumu, maka Allah akan merajakan dirimu. Semuanya akan mudah. Maka, utamakan ibumu”, sekali lagi, ada guratan-guratan perih yang menusuk hingga ke ulu. Betapa, ayahnya merasa tak berdaya dihadapkan dengan situasi yang demikian runyam.

“Iya, aku juga pernah denger, ceramah ustadz Abdul Shamad”

Perbincangan terus berlanjut. Merajut sakit-sakit yang baru. Ayahnya terus berkisah,  kisah soal apapun yang mengganjal di hatinya.

“Sampai pernah, ayah mengirimkan uang ke nenekmu. Dua ratus ribu. Kemudian nenek bilang terimakasih. Ayah jawab, untuk apa terimakasih? sambil ayah jelaskan, betapa bertriliunan uangpun, tetap tidak akan bisa membalas kasih sayangnya. Dan dia hanya terdiam. Ayah bilang lagi, Kalau mak pengen sesuatu, bilang saja, jangan sungkan-sungkan. Kalau bisa, akan selalu saya usahakan. Nenekmu diam saja, setelah ayah bilang terimakasih”.

Ia teringat sesuatu setelah menyimak dan menyimpan baik-baik semua pelajaran siang itu. Kemudian menanggapi sambil tertawa,

“Kayak ayahkan? Hahaha. Ayahkan gitu juga. Kalau setiap sebulan ayah udah kirim duit, aku bilang makasih. Ayah diam aja. Hahahaha. Iya kan?”

Ayahnya ikut tertawa. Menyadari, bahwa rasa terenyuh orangtua itu sederhana sekali. Cukup ungkapan terimakasih yang tulus, maka bunga-bunga di taman akan mengalahkan warna hatinya.

“Hahahaha. Iya nggak gitu juga. Maksud ayahkan, nenekmu sudah tua”

Rindu. 02 April 2019

Jogja

 

8 KOMENTAR