selfecogarden.com

“Pagi…hai kamu, bagaimana pagimu hari ini?”

Pagi ini terlalu dingin, sepagian ini aku sudah disibukkan dengan tanganku yang membeku, lagi.

“Maaf, aku tidak selalu mengikuti saranmu untuk memakai sarung tangan saat tidur.”

Aku terlalu risih jika tidur dengan sarung tangan. Tidak apa kan, sesekali aku tidak mengikuti saranmu. Walaupun pagiku harus dibangunkan dengan rasa sakit dan tangan yang sudah memerah kedinginan.

Sapaan warna jingga di pagi hari menjadi latar pemandangan gunung Bromo. Begitu indah, kuanggap indah sajalah, meski hanya foto yang kamu kirim bulan lalu. Foto yang baru bisa aku dapatkan setelah melayangkan banyak rayuan, lucu sekali.

Foto tersebut terbingkai indah, aku letakkan di dekat jendela, tempatku menikmati pagi. Alasanmu sungguh lucu saat itu, tidak ingin aku melihat hanya sekedar foto. Kamu ingin melihat aku mati membeku sepertinya, suhu ruangan ber-AC saja aku sudah tidak mampu, apalagi di sana. Sama saja dengan aku berjalan menuju kematian.

“Lensa kamera tidak dapat menangkap apa yang bisa ditangkap oleh lensa matamu Dinda. Matamu lebih bisa dipercaya daripada kamera” pesanmu yang masih enggan kuhapus hingga saat ini.

Aku perlu membawa stok obat suntik yang banyak jika harus mengikuti idemu itu. Teh panasku tadi telah dingin, tanganku tidak lagi merasakan hangatnya. Aku ke dapur dulu ya, memasak air untuk membuat teh panas keduaku.

Pagi ini aku ingin mengenangmu dulu, di luar masih hujan. Akan aku bawakan bunga Baby’s Breath untukmu siang nanti, itupun jika hujan sudah reda. Bodohnya aku, hingga sekarang bahkan aku tidak tahu kamu suka bunga atau tidak. Tidak apa-apa kan ya jika aku bawakan bunga favoritku saja, dengan bunga tersebut, setidaknya aku bisa beranggapan kau masih bernafas. Mengiringi semua kenangan tentangmu.

 

9 KOMENTAR