“Jangan panggil dengan kata Bapak. Aku tiak setua itu!” tolakku.

Kutaksir, usiaku dan Inneke hanya terpaut beberapa tahun. Aku belum tua dan belum mau dipanggil ‘pak’.

“Lalu, maunya dipanggil dengan sapaan apa?” tanya Inneke lagi.

Aku tersenyum seraya membenak, “Kuingin dipanggil, Sayang.”

Ah, kalimat itu bagai kata-kata seorang ‘therapist’ yang sedang mengolah alam bawah sadarku dengan berkata, ‘Segala sesuatu yang menjadi sugesti saya akan menjadi kenyataan dalam pikiran Anda.’

Perihal ini, semestinya aku sadari dengan mengacu pada petuah bijak ‘kata-kata adalah doa’. Alam semesta beserta isi, pada prinsipnya adalah gelombang-gelombang yang bergetar. Menganut hukum resonansi fisika, pada frekuensi yang sama, kata-kata akan kembali kepada si empunya. Atau bahasa religinya, ia bertepatan dengan saat dimana Tuhan mengabulkan doa.

Menyadari pentingnya menjaga lisan. Aku tak ingin berkata buruk dan kasar ketika marah, terutama pada Naya sang prioritas. Sikap ini, tak lepas dari posisiku sebagai redaktur di kantor cabang sebuah koran mingguan. Membaca tulisan yang perusahaanku terbitkan, aku tertarik dengan rubrik yang mengangkat kisah Imam Besar Masjidil Haram Abdurrahman As-Sudais. Pencapaian beliau, tak lepas dari perkataan ibunya saat marah, ‘Pergi kamu! Biar kamu jadi imam di Haramain!’

Rubrik ini seharusnya mengajariku tentang pemahaman, bahwa tidak setiap ‘petir pikiran’ harus dikatakan. Kini, sudah terlambat. “Kuingin dipanggil, Sayang.” Kalimat itu sudah kusuarakan dalam benak, untuk sebuah nama, Inneke.

Inneke, nama dan rambut panjang serta tubuh mungilnya, mengingatkanku pada dia, Ike Naya Nastari. Gadis yang kepadanya kuserahkan cintaku. Gadis yang bersamanya kuhabiskan masa indah remaja penuh romansa. Gadis yang kubuatkan pusara cinta tanpa restu atas nama kami berdua.

Sayangnya, aku tidak berhasil mengubur kenangan bersamanya. Cinta itu tetap bergelora. Senyumnya, binar matanya seperti hantu yang terus mengikuti, bermain dalam hati dan pikiranku. Tak jua musnah dari ingatan, nama tengahnya kusematkan pada putriku. Memanggilnya ‘Naya’ kala hati rindu, tanpa ada seorang pun yang tahu.

Aku memendam luka mendalam. Tidak mendapatkan restu, Ike membawa seluruh asa dan cita-cita yang pernah kami rajut berdua di antara mega-mega, di angkasa tanpa pernah melangitkannya dalam doa.

Ike dan Mama karakternya sama. Tersakiti, tiada akan pernah ada kata kembali. Maka, aku sadar jika ucapan selamat ulang tahun juga ‘happy anniversary’ hari jadian, yang aku kirimkan pada email-nya nihil akan mendapatkan balasan. Permohonan pertemananku di media sosial juga ditolaknya, bahkan mendapatkan pemblokiran.

Setengah mati berjuang mendapatkan hatinya. Cinta yang kusemai bersama Ike harus pupus, luluh lantak dan mati di tengah keringnya hati. Tiada kuasa menghadapi perjanjian perjodohan, yang sudah ditetapkan keluarga. Aku bersanding di pelaminan dengan Lisa. Ia menjadi pendamping ragaku, tetapi dia bukan belahan jiwaku.

Tak ingin memintal luka patah hati kedua kali. Aku menyusun rencana mendekati Inneke. Entahlah, aku terobsesi karena pelarian, cinta pertama yang belum usai unfinished business atau binar matanya berhasil meremas isi dada, hati, jantung juga denyut-denyut nadiku.

Jantung ini memompa cinta mengalirkan dawai-dawai rindu terlarang dalam aliran nafasku. Setan memang hidup dalam aliran darah manusia. Tiada peduli status jabatan dan perkawinan. Aku mengikuti insting, mabuk asmara di luar logika.

Aku sudah mengatakan, bahwa aku seperti dirinya hanya seorang penulis. Jadi, aku harus menutupi kedudukan sebenarnya dalam perusahaan, juga keberadaan Lisa dan Naya tentunya. Merenung, aku pun mendapatkan gagasan mengisi kolom cerita bersambung.

“Ke, besok bisa bertemu? Aku mau berdiskusi tentang cerbung baruku.” Satu pesan kukirimkan pada cerpenis kece itu.

“Boleh di mana?” balasnya.

“Kamu biasa menulis di mana?” Kukirimkan pertanyaan sebagai jawaban.

“Di cafe. Ini ya alamatnya.” Inneke mengirim share location melalui google map

“Aku menemuimu di sana, besok sebelum jam makan siang.”

Memberikan janji pada Inneke. Lantas, aku mengisi agenda harian, lunch meeting dengan client. Bermain rapi, aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan, atau tertangkap tangan macam pesakitan berompi orange. Sikap ini juga aku jalankan saat pulang ke rumah.

Belum bisa dibilang imam yang baik untuk keluarga, aku ingin menunjukkan sikap penuh perhatian. Terhipnosis dengan buaian kata-kata dan sikap menyenangkan, wanita tak akan sadar jika ada yang tersembunyi dibalik perlakuan sayang lelakinya. Lisa pun tak membaca gelagatku yang ingin hari cepat berganti, untuk menemui Inneke yang bersamanya ‘kan kutulis cerpen-cerpen cinta yang baru, lelaki bermain hati.

—–

Waktu bergulir, tiba saatnya aku mulai memantik api. Berpamitan pada sekretaris untuk rapat di luar, aku minta sopir istirahat saja di kantor.  Menuju tempat yang Inneke berikan, aku menggunakan fasilitas taksi online dengan akun,  nomor juga ponsel baru.

“Hai, Ke.” Menyapa, aku langsung duduk disampingnya, syok dekat, syok akrab.

“Eh, Tian udah datang,” sambutnya hangat.

“Penulis harus belajar disiplin waktu untuk mengejar deadline,” kilahku sembari menyalakan laptop.

“Penulis sepertimu pasti akan menghasilkan banyak karya,” pujinya dengan senyum merekah. Manis sekali.

“Ke, coba kamu baca cerbungku. Aku akan pesan makan siang. Oh ya, kamu mau apa?” Aku menggeser komputer jinjingku ke arahnya.

“Terima kasih … em … aku udah pesan.” Gadis itu sudah fokus ke layar lima belas inci di hadapannya.

“Tian, ‘Kukatakan, Aku Ingin Perselingkuhan Elegan dan Engkaulah Pelakor Highclass-nya’ ini judul cerbungmu?” Telunjukknya menyentuh bagian atas tulisanku.

Mengangguk, aku melanjutkan membaca buku menu.

“Keren-keren, kok tema tulisannya tentang pelakor. Ish, kamu nggak idealis banget, sih.” Ia mulai memberikan opininya.

“Terima kasih.” Menanggapinya, aku terkekeh kecil.

“Terima kasih buat apa?” Inneke tampak bingung.

“Terima kasih sudah mengatakan aku keren,” kataku sambil mengangkat kedua alis penuh percaya diri.

“Ish … ternyata selain suka pelakor kamu suka ke-GR-an*.” Bersungut-sungut, cerpenis ini menahan senyum.

Berniat jahil, aku bertanya pada pramusaji yang datang untuk mencatat pesananku.

“Gadis di sebelah saya ini bilang, kalau saya keren. Betul tidak ya, Mbak?” tanyaku pada pramusaji yang datang, selepas aku mengangkat tangan memanggilnya.

“Masnya keren … em … Mbaknya cantik, pasangan yang serasi.” Wanita yang berpakaian seragam pelayan kafe itu, tahu caranya memberikan service prima pada pelanggan.

“Ini tip buat Mbak, yang sudah jujur memberikan penilaian.”

Pecahan uang kertas berwarna biru aku berikan. Mengucapkan rasa syukur, ia pergi membawa kertas, tertuliskan makanan yang kupesan dengan wajah bahagia.

“Ha ha … lihat! Kata Mbaknya benar, aku keren.”

Di sela tawa, aku melemparkan pandangan pada Inneke. Kedua netra kami bertemu. Jantungku berdegup tiada menentu. Ia membuang muka tanpa mampu menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar pada wajahnya yang ayu.

“Bagian kamu keren yang betul, setelahnya nggak,” katanya kembali serius pada cerita yang aku karang.

“Pasangan yang serasi maksudmu? Memangnya kenapa?” Aku mulai was-was jikalau Inneke sudah ada pemiliknya.

“Nggak usah dibahas. Kita lihat aja tulisanmu.” Sial, dia mengalihkan pembicaraan.

“Pasangan yang serasi sebagai penulis. Begitu juga bisa kan?”

Biasa menghadapi mitra bisnis, bibirku fasih mengucap kalimat untuk menguasai keadaan, menutupi hatiku yang siap untuk terhempas jika gadis ini tak lagi sendiri. Lalu aku? Bukankah aku juga sudah beristri. Ah, puber memang tidak ada ada rasionalitasnya.

“Tulisanmu tentang pelakor dan berkutat dengan kisah cinderella. Nggak seru !” protesnya.

Inneke juga seperti Ike, cerdas dalam memberikan kritik sosial. Jujur, aku makin suka. Akhirnya, jiwa hampa ini mulai menemukan lawan debatnya.

“Aku paham perempuan, dia pasti tidak suka diduakan.”

“Yang aku nggak suka, ceritamu ini Cinderella, ala-ala oppa korea. Hari gini, mana ada seorang direktur cabang yang sebenarnya pewaris tunggal perusahaan jatuh cinta pada cerpenis muda yang baru dilihatnya sekali saja. Fiksimu berhayal tingkat dewa, tidak membumi,” katanya kritis, pedas.

Namun, tidak sepedas perasan air cabe ditambah jeruk nipis yang mulai dilumurkan pada hatiku yang masih terluka. Luka itu siap kembali menganga jika Inneke tak juga membuka kehidupan pribadinya.

“Apabila itu bukan fiksi, tetapi true story dan kamu berada pada posisi cerpenis itu. Apa yang akan kamu lakukan?”

Membelalak ia menatapku,  seakan tak percaya dengan apa yang aku lontarkan.

“Jawab saja! Anggap aku sedang survei dan riset kepenulisan,” cecarku.

Aku pun melanjutkan, “Jika ada pria tampan, bahkan nyaris sempurna menawarkan cinta, tapi kamu menjadi yang kedua. Bagaimana, maukah kamu?”

— Bersambung PoV Inneke —

 

Pembahasan Bagian Dua: Bahasa Hipnosis Melalui Perspektif Linguistik

NB : Tulisan ini mencoba menghadirkan pembelajaran berbeda pada setiap partnya, baik dari segi penulisan maupun psikologi dan religi.

*Catatan

GR akronim dari Gede Rasa atau Gede Rumongso.

Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi GR atau Gede Rasa artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri bahkan salah paham; bisa juga berarti perasaan senang dalam jumlah besar atau berlebihan. GR adalah kata sifat. Dari kata ini kemudian timbul kata benda ke-GR-an. Dan ‘GR-GR-in’ adalah bentuk kata kerja slang yang artinya membuat seseorang merasa GR.

Terkait dengan sifat baper GR ini, ada baiknya dikembalikan pada falsafah jawa ‘ojo kegheden rumongso’ artinya agar tidak berharap lebih ke orang lain atau juga agar tidak berharap melebihi kemampuan diri. (Sumber :  website bahasakita)

Senin, 18 Februari 2019

09.17

Ditulis oleh Arie

10 KOMENTAR

  1. Bhaks, suami dan lelaki menyebalkan! Huh, gampang banget dia mendua dan membagi hati. Aku sangat tidak menyukainya. Aku enggak mau kenal sosok kayak gini. Huuuuuaaaaa, mengapa aku yang emosi, ya? Wkwkwk. Masalahnya, ini kisah nyata. 😕😵😡

    Kak Fiya, aku bikin “kotor” kolom komentarmu, ya?😉

    • Saltik pada kata “tidak” (aku juga sering enggak jeli untuk hal kayak gini 😉😁)

    • Nah, untuk penggunaan tanda baca petik tunggal (‘ ‘) aku jarang menggunakannya. Rada membingungkan. Pada cerita ini banyak sekali penggunaan tanda itu yang tidak pada tempatnya. Coba deh periksa dan baca lagi PUEBI. Kalau aku, pasti menggunakan tanda petik (” “). Silakan pelajari dan baca lagi. Nanti pasti mengerti. 😉😁

    • Sebaiknya, email ganti saja dengan surel. Sudah ada di KBBI kok.

    • Napas, bukan nafas

    • Kafe, di KBBI sudah ada

    • di balik, dipisah karena menunjukkan tempat

    • di mana, dipisah (aku tahu, ini pasti karena enggak jeli saja)

    • sok (berlagak), bukan syok yang berarti kaget atau kejut

    • bertuliskan (dengan tulisan), bukan tertuliskan ( lihat penggunaan prefiks “ter”

    • … bisa, ‘kan? (lihat penggunaan tanda baca apostrof 😁)

    • oppa Korea, harus kapital (boleh cek penggunaan huruf kapital)

    • berkhayal, bukan berhayal 🙄

    • part-nya, ganti saja dengan bagian agar enggak perlu dibikin italic dan pakai tanda penghubung 😎

    • kepada orang lain, bukan ke …

    😱😱😱 OMG, maafkan aku Kak Fiya. Bukan maksud mau menggurui, tetapi hanya ingin berbagi hal kecil yang aku tahu. Aku juga masih terus belajar dan memperbaiki diri karena aku menghargai tulisanku sendiri. Aku juga menghargai setiap masukan dan kritikan. Aku enggak pernah marah, tersinggung, atau terpuruk karenanya. 🤓

    Karena itu, aku tidak pernah sampai tidak punya draf tulisanku. Aku selalu menyimpan draf tulisanku. Buatku, menulis itu enggak mudah. Perlu ide, waktu, suasana hati, kemauan, bolak-balik lihat kamus dan PUEBI, serta searching kosakata yang tidak aku mengerti. Namun, aku tetap saja melakukan kesalahan. Ah, setidaknya aku berusaha menjadi lebih baik karena aku menyukai dan mencintai dunia yang aku masuki ini. Itu aku loh, orang lain sih bebas. Suka-suka mereka saja. Wkwkwk. 😖😢

    * Pagi ini aku sarapan roti dan cokelat instan. Wkwkwk, aku hanya mau berbagi suasana hatiku saja. Wkwkwkkw. 😍😘

    Oya, ada “Perfect” yang menemaniku dan bikin anganku terlempar ke masa lalu. Hiks, mengapa aku pengen nangis, ya? Menyebalkan. 😅😅