Obrolan kami terputus saat mendengar pintu terbuka.

“Maaf mengganggu, di luar ada Pak Wongso ingin bertemu dengan Pak Tian.” Pemberitahuan sekretaris redaksi mengejutkanku.

Belum sempat aku menghampiri, pria yang ketampanannya kuwarisi sudah menuju ke arah kami. Melewatiku papa menepuk pundak anak semata wayangnya.

“Selamat siang, Mbak Inneke. Bagaimana diskusinya dengan Pak Tian?”

Sapaan ramah papa membuat cerpenis itu terkejut. Dalam hati aku tertawa geli. Denganku saja dia tadi marah, dengan papa dia salah tingkah. Dasar wanita!

“Selamat siang, Pak Wongso.” Inneke berdiri untuk menyambut papa.

Beliau duduk di kursi sebelah Inneke. Kulirik gadis itu grogi. Sikapnya bisa dimaklumi. Baru bergabung di perusahaan, tiba-tiba dia duduk berdampingan dengan pucuk pimpinan.

Mendasarkan pada karya-karyanya aku merekrut Inneke sebagai penulis tetap. Argumentasi ini kugunakan untuk memberikan kesan wajar. Tanpa dia sadari aku mengikatnya dengan kontrak. Ia tidak akan bisa pergi sesuka hati.

“Mbak Inneke, minggu ini cerpen Anda mengangkat tema apa?” tanya papa mengawali diskusi.

Akrab, papa mengajak Inneke membahas tentang dunia jurnalistik. Kudengar cerpenis itu bercerita tentang motivasinya menjadi seorang penulis. Tidak hanya sekadar hobi melainkan menulis sebagai sebuah profesi.

Kuakui lelaki rolemodel-ku ini piawai untuk mencari informasi. Menghindari keceplosan memanggil papa aku memilih diam.

Memperhatikan keduanya berdiskusi aku membereskan laptop. Di satu sisi aku senang, secara tidak sadar papa sedang mengenal calon menantunya yang baru, eh.

Di sisi lainnya, aku harus belajar lagi cara memperlakukan karyawan. Papa tidak pernah membedakan status seseorang dalam pergaulan.

Papa mengadopsi pendapat Dr. Daniel Goleman. 90% prestasi kerja ditentukan kecerdasan emosional (EQ). Pengetahuan teknis hanya berperan 4%.

“Pak Wongso dan Pak Tian, saya mohon undur diri untuk kembali melanjutkan aktivitas.” Berpamitan, Inneke meninggalkan kami berdua.

Berwibawa papa tersenyum sebagai jawaban atas permohonan gadis itu.

“Mbak Inneke, untuk selanjutnya kita diskusi sesuai jadwal. Pertama, saya akan lebih mudah mengatur agenda. Kedua, target naskah dapat tercapai. Kelalaian Anda minggu ini saya harap tidak terulang lagi,” kataku penuh penekanan.

Menenteng tas berisi bunga dan coklat dariku cerpenis itu batal membuka pintu.

“Baik, Pak,” jawabnya hormat.

Aku sengaja menyindir Inneke yang tidak menyetorkan cerbungnya. Alih-alih menghubungiku, dia mengirimkan senandika ke Erwin. Entahlah, ada rasa tidak rela jika Inneke berinteraksi dengan Erwin.

Maka, aku meminta agar semua karya Inneke aku yang tangani. Cerpenis itu juga kumasukkan dalam kelompok tim penulis yang aku pimpin. Jadi, jika ada yang melihat aku dan Inneke berdiskusi, kami tidak akan dicurigai.

“Tian, jangan terlalu keras dengan karyawan. Tempatkan mereka sebagai mitra. Tanpa dukungan para kuli tinta perusahaan koran kita bukan apa-apa,” tegur papa.

“Tian tegas karena Inneke baru di sini. Tian ingin dia disiplin.” Membela diri, aku menutupi alasan yang sebenarnya. Cemburu.

“Tian, kamu akan menggantikan papa suatu hari nanti. Papa ingin kamu mempersiapkan diri sebaik mungkin, terutama kemampuan mengelola emosi. Oh iya, papa lihat tadi Inneke bawa bunga dan cokelat.”

“Hadiah dari Tian, Pa.” Mengenal karakter papa aku mengatakan yang sebenarnya.

“Bagus, Tian. Welcoming  yang cantik untuk menyambutnya di perusahaan kita. Papa setuju denganmu. Kita perlu memberikan hadiah pada momen tertentu sebagai bentuk perhatian.”

Selanjutnya, papa memberiku wejangan. Faktor keberhasilan seseorang salah satunya ditentukan oleh manajemen silaturahmi. Papa mengingatkan bahwa kunci sukses individu terletak pada bagaimana mengontrol emosi. Artinya, aku harus memiliki kesiapan mental dalam menghadapi beragam situasi dan kondisi.

Merujuk pada Goleman, papa menyebutkan bahwa hampir 70% performa karier dipengaruhi oleh kecakapan memaksimalkan potensi diri, memotivasi diri dan bersosialisasi serta memanfaatkan peluang yang ada.

“Tian, mengapa Emotional Qoutient (EQ) itu penting?” tanya papa tiba-tiba.

“Karena kita makhluk sosial. Maka, kita membutuhkan orang lain, Pa.” Aku yakin dengan jawabanku. Papa tersenyum.

“Tian, kita makluk sosial karena firman Alloh yang mengatakannya. Alloh meminta kita saling mengenal, suatu bentuk sosialisasi.”*

Papa menjelaskan bahwa dalam berinteraksi dengan dengan orang lain kita tidak dapat memisahkan antara perasaan, otak dan keyakinan. Itu sebabnya, dalam rangka mencapai kebahagiaan hakiki, manusia membutuhkan spiritual quotient. SQ melengkapi intellegence quotient (IQ) dan EQ.

“Ayo, kita lanjutkan ngobrolnya di restoran saja,” ajak papa di akhir penjelasan.

“Papa sengaja cari Tian hanya untuk makan?”

Aku menanyakan tujuan papa menyusulku ke ruang rapat.

“Salah satunya.” Papa memberiku jawaban singkat.

Sepanjang koridor kami berpapasan dengan karyawan. Menuju pintu keluar kami melewati ruangan para penulis. Di sana, mataku menangkap sosok yang kurindukan. Ia sedang serius memperhatikan Erwin. Pria itu menulis sesuatu di meja kerja Inneke. Dawai-dawai cemburu menjalar di hatiku.

“Tian, papa diminta Mama berbicara denganmu. Semalam, Papi dan Maminya Lisa datang ke rumah.” Meletakkan sendok papa menjelaskan tujuan utamanya menemuiku.

Terdiam aku memandang ke luar jendela. Makanan di hadapanku hilang kelezatannya. Aku tahu arah pembicaraan ini kemana.

Akhir pekan, Lisa keluar malam. Aku melarang karena sudah diluar jadwal. Marah, istriku pulang ke rumah orang tuanya. Bukan menasehati sang putri, papi dan mami telepon. Mereka marah padaku. Alasannya, aku mengekang anak tunggal mereka. Ini bukan pertama kali terjadi. Selalu dibela, Lisa tidak mendengarkanku.

“Tian, ada apa?” Rupanya papa menangkap kegelisahanku.

“Pa, Tian tidak yakin dapat terus bertahan dalam perkawinan ini.” Akhirnya, aku mengungkapkan perasaanku.

“Bercerai maksudmu?” Papa menatapku tajam.

Mengangguk aku mengiyakan.

“Tian merasa tertekan. Papi dan Mami terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami.” Aku memberikan argumentasi.

“Tian, papa sudah merasa sangat bersalah memaksamu menerima perjodohan. Untuk masalah perceraian, papa menyerahkan sepenuhnya padamu. Pesan papa, sebelum mengambil keputusan ingat kembali prinsip IQ, EQ dan SQ dalam interaksimu dengan Lisa dan Naya tentunya.”

Kata-kata papa begitu bijaksana. Terdengar nyaman di telinga. Izin cerai kukantongi. Satu cara kudapatkan untuk mengurai dilema. Terima kasih papa.

“Dengan IQ, kamu bisa berpikir secara rasional, positif dan negatifnya sebuah perceraian. EQ dapat kamu pakai untuk mengelola emosimu, jangan sampai ada KDRT. Kamu juga bisa melihat perceraian dari sudut pandang kejiwaan.” Papa menasehatiku.

“Jangan lupa, kamu harus melibatkan Tuhan sebelum mengambil keputusan. Cara menegur istri dan bagaimana kedudukan istri dalam pernikahan sudah ada dalam Al Qur’an. Inilah penerapan SQ dalam rumah tangga.” Papa melanjutkan kata-katanya.

“Tian, kamu harus mengembalikan semua permasalahan pada Alloh. Papa sudah memintamu untuk belajar agama. Papa belum melihatmu memenuhinya,” ucap papa saat kami berpisah setelah makan.

Pasca kedatangan orang tuanya ke papa dan mama, aku semakin malas berbincang dengan Lisa. Aku biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Terserah, daripada nanti papi dan mami tidak terima dan marah.

Maka, aku memilih menerapkan manajemen silaturahmi pada Inneke. Aku mencoba mengelola emosi untuk memperbaiki hubunganku dengan cerpenis itu.

“Halo Ke, aku tunggu di halaman. Aku di dalam taksi yang lampunya kedap-kedip. Jangan pakai lama!” Via telepon aku meminta Inneke segera menemuiku. Siang ini jadwal kami diskusi.

“Baik, Pak,” jawabnya sembari membuka pintu mobil.

Ternyata dia berada di tempat parkir. Inneke sudah siap berangkat ke kafe saat aku hubungi.

“Kenapa saya dijemput, Pak?” Memandangku gadis itu berlaku formal. Ia bergaya layaknya penulis berhadapan dengan editor. Menyebalkan.

“Agar lebih praktis, Mbak Inneke.” Aku membalasnya.

“Pak, kita mau kemana?” tanya Inneke penasaran. Melewati kafe tempat kami biasa diskusi mobil tidak berhenti.

“Mbak Inneke ikuti saja perintah saya.” Gadis di sebelahku tampak kesal.

“Tian!”

“Iya, Mbak Inneke.”

“Mau kemana ini?”

“Rahasia ….”

“Ish … mulai, deh. Rese!”

“Mbak Inneke, Anda tidak sopan berlaku seperti itu kepada saya. Ha ha ….”

Tawaku pecah. Sungguh, aku tak mampu lagi bersikap formal untuk menggoda Inneke.

.— bersambung PoV Inneke —

Pembahasan Bagian Dua Belas: IQ, EQ dan SQ

Catatan :

* Perintah untuk bersosialisasi terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 melalui ungkapan supaya kamu saling kenal-mengenal.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13)

** Goleman, Daniel, 2005. « Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi », terj. Alex Tri Kantjono, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Bagian dua belas ditulis oleh, Uda Arie

13 KOMENTAR

  1. 😍😍😍 Aku suka, perasaan dan isi hati Tian sebagai lelaki yang cenderung memang egois dan selalu ingin mendapatkan apa yang ia mau dan sukai terlukis jelas di bab ini. Ah, mengapa aku mencintai karakter Tian yang menyebalkan dan gigih untuk mendapatkan cintanya, ya? Huuuaaaaa, isi kepalaku sedang error. *Salam untuk Uda Arie, ya? Salam apa, ya? Oya, salam dari Laurel😊👻

    Oya, seperti biasa … manusiawi deh. Namun, ini lebih dari tiga. Kata sapaannya juga masih ada yang enggak kapital. Penulisan kata ”cokelat” dan beberapa yang lain juga masih ada yang ….😷😉

    ** Yang Kak Dan bilang itu benar. Kalimat itu rada ambigu. Namun, kalau kita cermati sudah benar kok maksudnya. Hanya agak rumit saja. Diganti kalimat yang lebih sederhana bisa kok. Selama kritik itu membangun, jangan pernah merasa terpuruk, tersinggung, dan patah semangat, ya? Tetap semangat!🙆👼

    • Makasih, Kak Ana. Enggak merasa tersinggung kok. Hehe memang beliau, cie elah beliau lagi bilangnya. Uda Arie, biasa nulis non-fiksi jadi masih butuh banyak belajar mwnulia novel. Semoga karya ini menghibur sekaligus bermanfaat. Sudah tersampaikan salamnya. Hehee

      He said, “C’est plaisir de faire votre.”
      👏👏👏

  2. Kak Ke, Uda Arie suruh nulis dong di sini. Cerpen atau artikel gitu. Keren banget nih bagian2 dia. Aku suka cara dia bercerita ih Kak. Pokoknya feelnya beda kalau baca punya dia.

    Cara pembawaan cerita di antara kalian juga berbeda. Lebih greget punya uda Arie, hehee. Bahasanya lebih berani cuma tetap halus dan sopan. Ini belom klimaks kan? Aku kira kalau nyampe bagian situ, beliau pasti lebih keren deh berceritanya. 😁😄

    Aku yakin kalau tulisan opininya pasti keren juga. 😁