Malam merangkak tua. Gelapnya semakin kelam. Taksi yang kami tumpangi membelah Kota Kembang. Jalanan menghadirkan keindahan kerlip lampu di tanah Pasundan. Kemana roda empat ini pergi membawa kami, aku tidak peduli. Aku sudah bahagia. Ike memberiku kesempatan duduk di sampingnya. Dia tidak meninggalkanku di pintu Kafe Paris Van Java.

“Ke, bolehkah Mas Tian tahu arti kata syukur yang tadi kamu ucapkan?” tanyaku mencari jawaban atas kesanggupannya menunggu hingga akte perceraian di tangan.

“Allah memberiku waktu lima tahun untuk memberitahu mengapa bukan kamu jodohku.”

“Maksudmu?”

“Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, Mas Tian. Dan aku baru saja disadarkan, mengapa bukan kamu lelaki yang Allah pilihkan.”

Menatap lurus ke depan, Ike memberikan argumentasi.

“Karena aku punya gadis lain?”

“Aku tidak menuduh Mas Tian berselingkuh. Yang jelas, diskusi kita membuatku ikhlas melepasmu sekarang. Aku semakin mantap untuk melangkah menyempurnakan iman melalui sebuah perkawinan.” Kata-kata lugasnya membuat badanku terasa lemas tiada bertulang.

“Kamu akan menikah?” Kuberanikan diri mengajukan pertanyaan itu dan berharap tidak sebagai jawaban.

Kulihat kerudung biru yang menutupi kepalanya bergerak. Ia mengangguk. Aku hanya bisa memegang kepalaku yang berdenyut nyeri.

“Kamu bohong! Binar matamu jelas berkata kamu masih cinta. Cintamu untukku belum sirna. Kamu hanya cemburu mendengar kisahku dengan Inneke!”

“Oh, jadi gadis itu bernama Inneke?”

Terangkat kedua alisnya, Ike menatapku tajam. Sial, kenapa juga aku harus keceplosan.

“Mas juga menjanjikan kepada gadis itu perkawinan?”

Lagi-lagi Ike menghantam kepalaku dengan pertanyaan seberat meriam.
Jujur, aku mengangguk. Terdengar dia menghempaskan nafas berat.

“Aku sengaja memilih tanggal jadian kita untuk bertemu denganmu. Di awal kedatangan, aku diliputi keraguan untuk memutuskan, menerima atau menolak sebuah lamaran. Mas Tian, kuakui rasa cintaku masih seperti dulu. Tapi, aku sadar cinta yang kita punya, cinta yang tidak semestinya. Kamu sudah ada pemiliknya. Maka, aku ingin mengurai ikatan di antara kita.”

Sulit sekali untukku mencerna kata-kata yang terucap dari bibirnya yang kemerahan. Tepatnya, aku tidak sanggup dan tidak mau mendengar.

“Ada seorang pria yang melamarku. Karena ragu untuk memberi jawaban, aku bertanya pada Tuhan. Shalat istikharah yang kudirikan memberi ilham. Jadi, kuteguhkan hati menemuimu di sini. Simpul cinta di antara kita menjadi unfinished bussines yang harus kita selesaikan. Ia akan menjadi ganjalan menghadapi masa depan.”

Walaupun berat, aku memberi Ike ruang untuk mengeluarkan uneg-unegnya.

“Urusan yang belum selesai itu sudah membuatku sulit menjalin hubungan dengan lelaki lain setelahmu. Urusan itu juga membuatku melakukan tindak pidana, pencurian data.”

Ike mengusap sudut matanya.

“Kamu melakukan perbuatan ilegal?” cecarku.

Mana mungkin, gadis normatif seperti Ike melakukannya? Sungguh, aku tidak percaya.

“Demi tetap dekat denganmu, aku mencuri data, curriculum vitae, KTP juga fotonya. Gelap mata, aku mendaftar mengisi rubrik kesehatan di koranmu dengan biodatanya tanpa izin. Kutuliskan kajian-kajian psikologis yang memenuhi otakku, khususnya tentang rumah tangga, perceraian dan hadirnya orang ketiga.”

“Jadi, author tulisan di rubrik kesehatan atas nama Prof. Arie Singawidjaya adalah kamu? Beliau siapa?”

“Psikolog itu adalah sosok yang mewariskan kromosom X pada Ibuku. Mas Tian, jika perusahaanmu merasa dirugikan, aku siap ditahan karena memberikan data palsu.”

Meletakkan punggung ke sandaran kursi jok belakang, terjawab sudah rasa penasaranku selama ini.
Tulisan Ike dengan gaya inversi style khas dirinya. Kukenal dengan baik, lekat dalam ingatan.

“Beliau adalah satu-satunya keluarga dekatku yang belum pernah kamu temui. Kakek selalu sibuk dengan aktivitas kampusnya hingga ke luar negeri. Suatu ketika, ada orang yang datang mencari Kakek untuk konsultasi setelah membaca koran. Rahasiaku terbongkar. Alhamdulillah, aku tidak dilaporkan, melainkan dibantu, diberi solusi atas masalahku. Cinta membelenggu.”

Isak tangis mulai mewarnai penjelasannya.

“Mas Tian, aku jahat. Aku sempat menginginkan perceraianmu. Aku sempat berharap menjadi istrimu meski sebagai yang kedua. Aku sempat ingin mengajakmu poligami. Kakekku menunjukkan betapa besar konsekuensi dari sebuah perceraian, khususnya untuk anak sebagai korban.”

Kurengkuh tubuhnya ke dalam dada. Ia meronta sekuat tenaga. Aku tak peduli. Biarlah dosanya kutanggung sendiri daripada melihatnya berurai airmata. Betapa cinta ini sangat menyiksa.

“Aku mencintaimu, Mas Tian. Namun, cinta itu tidak egois. Cinta tidak mengajarkan kepada kita untuk menyakiti orang lain. Cinta memberikan ruang kepada yang terkasih untuk bahagia. Begitulah Kakekku mengajarkan. Jika, kita memaksakan diri untuk bersama, itu bukan cinta. Ada Naya dan istrimu terluka. Aku tidak mungkin bahagia di atas lara sesama wanita. Kembalilah pada istrimu, Mas Tian. Jangan membuatku menyesal.”

“Kamu akan menyesal jika aku melanjutkan proses perceraian?” Logikaku tak mampu menjangkau petir pikiran gadis yang kucinta.

“Aku menyesal karena kesempatan yang kuberikan kau sia-siakan. Tidakkah kamu melihat begitu besar pengorbanan yang telah kulakukan demi menjagamu dari status anak durhaka, demi menghadirkanmu sebagai kebanggaan penerus keluarga?”

Tak berhasil melepaskan diri dari pelukan, Ike membasahi kemejaku dengan air mata.

“Jika tidak memikirkan kesehatan orang tuamu, jika tidak memikirkan kecewanya mereka pada anak tunggalnya, jika tidak menghormati perjanjian perjodohan yang ada, aku sudah mengajakmu kawin lari, Mas.”

Aku terhenyak mendengarkan alasan yang membuatnya menghilang selama ini.

“Tolong … jangan membuatku menyesal pernah mencintaimu. Aku ingin lelaki yang bersamanya kusemai cinta pertama adalah lelaki sempurna, bukan lelaki amoral, gemar berselingkuh dan penghancur hidup wanita, entah itu ibu anakmu atau gadis itu.”

Aku terdiam.

“Berjanjilah untuk selalu menjadi Mas Tian-ku, lelaki manis, lelaki pantang menyerah yang selalu mencari celah tanpa lelah. Kamu laki-laki yang penuh semangat, Mas.”

Kini air mataku yang membasahi jilbab biru miliknya.

“Lisa istriku, pendamping raga dan bukan belahan jiwa,” ucapku lirih. Dekapanku terlepas. Aku tak punya tenaga lagi menahannya lebih lama.

“Mas Tian, pandang aku.” Sebuah permintaan yang tak mungkin aku tolak.

“Ke, bersama Lisa aku tidak merasakan cinta. Aku dan dia tidak memiliki prioritas yang sama. Aku tidak bisa melihat dari sudut pandangnya tentang asyiknya keluar malam, dunia gemerlap. Pun, dia tidak bisa aku andalkan. Putriku diopname sekarang. Anak sakit tidak dibawa ke dokter.”

“Bersamanya, sudahkah Mas Tian melakukan semua yang pernah kita lalui dulu? Sudahkah berbagi cerita tanpa ada yang ditutupi? Seringkah melakukan kegiatan bersama, olah raga misalnya? Kapan kalian berfoto berdua … em … foto yang untuk koleksi, bukan untuk konsumsi media sosial?”

Mendengar cecar pertanyaan itu, aku terbuai kisah yang sudah lalu. Aku pun membandingkan. Benar, aku dan Lisa tak pernah berbagi kisah. Menjelang tidur tidak menjadi momen untuk bercerita kegiatan seharian yang dilakukan. Aku selalu menghabiskan waktu dengan Naya tanpa menghiraukan kehadirannya. Mungkinkah sebenarnya istriku kesepian dan mencari hiburan di luar?

“Mas, belahan jiwa itu memang ada, bukan mitos belaka. Akan tetapi, jika mendasarkan pada pasangan sebagai belahan jiwa, rumah tangga akan banyak menemui konflik. Soulmate itu ada karena diciptakan, bukan ditemukan. Ingatlah, bagaimana dulu kita merawat taman cinta kita? Rasanya seperti ada kupu-kupu dalam perut, bukan?”

Lesung pipit di pipi kanan Ike semakin tercetak jelas oleh senyumnya.

“Aku belum lupa bagaimana rasanya seperti ada kupu-kupu di dalam perutku ketika tahu kamu pun tertarik padaku. Dua tahun, aku mengejarmu, Ke.” Aku membenarkan apa yang dia katakan.

“Mas, seseorang dapat kita sebut soulmate jika kehadirannya memberi dampak yang signifikan dalam kehidupan kita. Jangan kamu artikan belahan jiwa hanya sekadar hubungan cinta! Soulmate bisa sahabat, pasangan, musuh bahkan orang yang tidak dikenal.”

Ike mengakhiri kalimatnya.
Taksi yang kami tumpangi memasuki kawasan Stasiun Hall. Prof. Arie sudah menunggu di sana. Menyapa sang psikolog, aku mengantar hingga pintu pemeriksaan. Tanpa tiket petugas melarangku masuk.

“Mas Tian, terima kasih untuk semuanya. Sekarang, aku sudah mantap untuk menerima lamaran lelaki itu. Mas, izinkan aku untuk tetap menjadi soulmate bagimu. Kita bersahabat. Akan kukirim undangan pernikahan. Kumohon engkau bisa datang bersama Lisa dan Naya,” ucapnya sebagai ganti salam perpisahan.

Prof. Arie menepuk bahuku.

“Dik Tian, tetap bisa menjadi cucu saya. Jangan ragu untuk bercerita, saya selalu ada.”

Tak tahu malu, aku memeluk lelaki tua itu. Seorang cucu yang rindu sosok kakek dalam hidupnya.

“Untuk bahagia, mendekatlah pada-Nya, Ar Rahman, Ar Rahiim, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya dengan kasih sayang-Nya kita bisa bahagia.” Pesan psikolog itu penuh makna.

Kuikhlaskan keduanya pergi, khususnya kubiarkan Ike untuk bahagia dengan keputusannya. Bohong, jika kubilang tidak terasa nyeri di hati. Aku harus belajar menghadapi hidup yang terus berjalan seperti kakek dan cucu itu. Mereka terus melangkah masuk dalam stasiun kereta.

Ular besi akan mengantar mereka ke IbuKota. Selanjutnya, esok pagi akan kembali ke Tanah Borneo dengan penerbangan pertama pukul lima. Entah kapan lagi aku bisa berjumpa mereka. Air merebak tanpa bisa kutahan. Daripada menangis dan dilihat orang, kuputuskan pergi ke rumah sakit dengan taksi.

Meninggalkan stasiun yang dibangun pada masa kolonial dan diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884, kucoba menghubungi Inneke. Aku tidak tahu topik apa yang akan kubicarakan. Pernikahan? Tentang hubungan cinta? Aku benar-benar gamang. Entahlah … aku bingung.

Kata-kata Ike, “Kembalilah pada istrimu!” sesak-menyesak dalam otak dan hatiku.

Perasaanku tidak nyaman, tapi sulit untuk dijelaskan. Rasa khawatir terhadap Inneke tiba-tiba datang menyergap. Terbayang saat dia kecelakaan dulu. Aku jadi ingin sekali mendengar kabarnya. Ah, mungkin karena aku merasa bersalah. Dia sengaja datang pada acara ulang tahunku. Bukan tanpa perjuangan, aku tahu itu.

Berkali-kali kucoba hasilnya sama saja. Ponsel cerpenis itu tidak menyahut. Cemas, kuminta taksi berubah arah. Aku menuju rumah kontrakannya. Taksi jalan melambat. Terjadi kemacetan. Membuka kaca, sopir bertanya pada seseorang dalam kerumunan.

“Macet, Pak. Ada kecelakaan. Korbannya seorang gadis berambut panjang. Dia tertabrak saat nyeberang jalan. Kondisinya terluka parah. Kepalanya terbentur pot bunga di trotoar. Banyak darah yang keluar. Baru di bawa ke Rumah Sakit Umum, tapi gak tahu masih bisa tertolong atau tidak,” jelas lelaki yang tak melepas helm hijau di kepalanya.

Tiba di tempat tujuan, tidak ada orang. Informasi dari ibu kosnya, Inneke belum pulang. Mungkinkah gadis itu masih bersama Erwin? Dia kurasa punya cinta pada sephiaku. Aku menelepon redaktur muda itu untuk mencari tahu.

Sayangnya, operator yang menjawab panggilan, “Sedang di luar jangkauan.”

Kuharap Inneke baik-baik saja.

Aku kembali pada rencana semula, Rumah Sakit Ibu dan Anak. Tiba di kamar Naya, kusapa mama, papa dan Lisa. Gadis kecilku sudah membaik kondisinya. Tumben sekali istriku itu tidak keluar bersama teman-temannya.

“Ayah, tolong kita harus bicara. Ada hal penting yang ingin bunda sampaikan. Ini penting sekali,” pinta Lisa seraya berbisik di tepi tempat tidur putri kami.

Melihat Naya menjulurkan kedua tangan minta digendong, istriku mengalah. Ia membiarkanku memenuhi keinginan sang buah hati.

Membopong bidadari kecil sambil berjalan di selasar rumah sakit, aku terngiang kata-kata Ike, ‘Cinta itu tidak egois. Jika dengan alasan cinta ingin menang sendiri, artinya ada yang salah. Jodoh sudah dituliskan beribu tahun sebelum kita dilahirkan. Masihkah kita akan mengakali Tuhan?’

Kutatap lekat wajah putriku. Ceria wajahnya senang berjumpa denganku. Sebuah kebahagiaan yang tiada bandingnya. Lalu, masihkah aku mencari kebahagiaan di luar sana?

“Naya belum mau bobok karena belum ada Ayah,” celotehnya polos.

“Naya kangen Ayah?”
Menghentikan langkah, kulepaskan tangan kanan dari tiang besi penyangga infus. Aku memencet hidung penyemangat hidupku ini. Gemas.

Mengangguk, putriku menjawab, “Ayah, perginya jangan banyak-banyak.” Pengakuannya karena aku keluar kota membuat mataku menghangat.

Terkadang anak sakit bukan karena penyakit tetapi karena psikis. Psikolog itu, Ike, menulis dalam rubrik kesehatan pekan ini. Rasa kangen bisa membuat anak sakit.* Kuciumi wajah mungil yang tak sanggup untukku berpisah darinya.
Setelah putriku tertidur, aku kembali ke ruang perawatan. Mamanya Naya sudah tidak ada disana.

“Lisa pulang. Tadi Papinya datang menjemput dengan tergesa-gesa.” Mama menjelaskan mengapa menantunya tidak ada di kamar.

Perceraian ke pengadilan belum kudaftarkan. Lisa masih istriku dari kacamata hukum negara dan akan tetap dengan statusnya jika perceraian batal dilakukan. Namun, aku masih saja belum yakin dengan pilihan mempertahankannya.

“Tian, kamu pulanglah dengan Papa! Mama akan temani Naya,” lanjut wanita yang melahirkanku.

Aku pulang dengan papa ke rumahnya. Kepada papa kuceritakan semua, tentang pertemuanku dengan Ike. Inneke tetap menjadi rahasia. Aku tidak ingin membahayakan posisinya sebagai penulis tetap di perusahaan. Cita-citanya sebagai penulis tidak boleh dihancurkan.
Aku dan papa hendak menuju kamar ketika terdengar bel pagar dibunyikan. Papa menemaniku menuju halaman. Setelah mendapat izin papa, satpam membuka pintu.

“Kami dari pihak kepolisian mencari Bapak Septian Rahadi, pemilik kendaraan dengan nomor polisi yang dipesan khusus dengan inisial Tian, D 714 N.” Pria berseragam polisi memperkenalkan diri setelah memberi hormat.

“Saya, Septian Rahadi. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mendapat perintah untuk melakukan penangkapan terhadap Saudara dan membawa ke kantor polisi guna dilakukan pemeriksaan, karena diduga telah melakukan tindak pidana kealpaan yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.” Surat dengan lambang khas Bhayangkara diminta papa.

“Aku kena pasal pembunuhan. Ini gila!” protes batinku.

“Pergilah Tian, papa akan panggil pengacara,” perintah papa setelah membaca surat yang tak kutahu isi lengkapnya.

Tak merasa melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain, aku bingung atas tindakan yang dituduhkan. Aku ingin mengelak dan menyangkal, tapi paham maksud lelaki paruh baya di depanku. Bersikap kooperatif sangat dibutuhkan ketika berurusan dengan pihak penegak hukum. Lebih baik aku berlaku baik dan menyerahkan pada pengacara untuk penyelesaian selanjutnya.

“Tian pamit, Pa.” Kucium punggung tangan lelaki yang memiliki andil besar dalam keberadaanku di dunia.
Mobil polisi siap membawaku menjauh dari rumah megah, rumah di mana masa kecil kuhabiskan dengan bahagia. Duduk sebagai tahanan, aku merenung. Hari ini aku benar-benar kehilangan Ike. Inneke tak bisa kuhubungi. Lisa hendak mengatakan sesuatu yang belum sempat terucap. Lalu, malam ini aku dibawa polisi. Hidup macam apa yang aku jalani. Mungkinkah teguran-Nya datang secepat ini?

Dari balik kaca jendela, suara papa membuyarkan lamunanku. Wongso Rahadi, pria yang nama belakangnya kuwarisi berpesan, “Tian, panjatkanlah doa agar Allah memberikan kemudahan! Dekatkanlah diri pada Tuhan, Tian! Hanya Alloh yang mampu memberikan pertolongan.”
—–

Catatan:
*termasuk psikomatik
Kata psikolog, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, di usia tertentu, anak memang bisa mengalami separation anxiety di mana timbul rasa cemas saat dia terpisah dari figur attachment atau figur yang selama ini dekat dengan dia. Rasa cemas ini membuat anak sakit misal demam.

Bagian dua puluh ditulis oleh Uda Arie.

13 KOMENTAR

  1. KAK YUKEEEEE 🙈🙈

    Awalnya aku sedih ini tamat. Tapi aku punya harapan, di epilog. Jadi, tulisan ini harus lolos mayor!!! 🔥🔥🔥

    Hmmm kak yuke mencampur aduk perasaanku. Part awal2, deg-degan kalo Tian selingkuh. Habis itu, mulai seneng ketika Tian sama Inneke dan ada alasan logis mennceraikan Lisa (walau tetep kasihan Naya :”), trus habis itu dibikin marah oleh kelakuan Tian, habis itu dibikin adem oleh pengakuan Ike. Eh iya, sebelumnya cemas dulu ding karena Inneke ketabrak. Ya Allah, miris sekali Inneke, udah sephia, gak direstui, kecelakaan dah. Udah hatinya terpotek2, tubuhnya ikut terpotek2 😭😭

    Pas Tian akan kembali ke istrinya, aku udah adem oleh kata2 Ike. Eh gak taunya Si Tian ditangkep polisi. Jadi ilang dah ademnya 😌 bikin menggerutu, “loh loh, kok gini?” 😌

    Kak Yuke ih 😒

    Tapi aku syukaaa 😍

    Pokoknya semangat. Yang terbaik pasti untuk karya ini. Aamiiin ❤

    Hiyaaak. Baru kali ini aku komen sepanjang ini. Aku yakin, komen Kak Ana akan lebih panjang (sotoy 🏃)

    Maafkan bahasa komen yang belibet. Wkwkwk

    • Hahaha kok aku seneng tahu kalau kamu sebel. 🤣🤣🤣 Makasih do’anya … tunggu kabar bahagia nanti selepas lebaran. Insya Allah naik cetak apapun yang terjadi.

      Makasih juga udah komen panjang, karena sejujurnya aku suka baca komen panjang. 🤣🤣✌️

  2. Kak Fi, serius nih aku ingin tahu, apa Uda Arie biasa menulis fiksi? Aku boleh jujur, ya dan jangan tersinggung. Hanya sekadar masukan. Setiap part punya Uda lebih terasa konfliknya dan jalinan kalimatnya lebih kaya rasa. Feel-nya dapat. Itu yang aku rasakan. *Maafkan aku, Kak Fi, tetapi setiap orang memang punya gaya bercerita sendiri. Jangan membenciku karena keterusteranganku ini. Seiiring waktu kita pasti berubah. Aku pun mau berubah. Heheheh. Ini masukan saja, ya? Sebab, yang menilai dan ikut merasakan adalah pembaca, bukan?✌😘
    Aku kok kasihan pada Lisa. Keberadaannya hanya pendamping raga, bukan belahan jiwa. Ish, sejak awal seharusnya mereka jangan menikah. Dasar Tian menyebalkan! Tolak kek, jangan jadikan Lisa pelarian saja. Apa pun alasannya, aku enggak suka. Itu pendapatku sebagai pembaca loh. Namun, aku tyap berharap Tian akan baik-baik saja.😇😒😥

    Oya, aku enggak bakalan protes dua hal itu, ya? Namun, aku cuma mau bilang kalau “ke mana” harus dipisah. Tidak ada kosakata “kemana” di KBBI. Tambah 3 kosakata lagi nih, yang lain pasti editornya akan mengeditnya.

    ● napas, bukan nafas
    ● unek-unek, bukan uneg-uneg
    ● terperenyak, bukan terhenyak

    “Septian Rahadi, izinkan aku memelukmu sekali saja.” Itu kata Inneke. Wkwkwk.🌸😍

    * Sukses buat bukunya, ya? 😇💗

    💘💘💘 Ada namaku disebut. 👆👆

    **Ditunggu cerbung baru selanjutnya. 💐

    • Aduh, kok malah komennya kekirim dua kali. 🤣🤣😆😆 Kesalahan teknis ini, Kak.

      Kak Ana nggak usah ngerasa sungkan. Semua kritik dan saran kuterima dengan baik, terima kasih sudah mau baca. Iya, Uda beberapa kali nulis cerita fiksi. Ini pun kolab tak terencana, pun sentris cerita ada di Tian.🤧 Dia ngeselin emang. Wkwkwkwk

      Sstttt kami berdua udah punya rencana bakal ada kolab kedua. Hehee tapi sembari nunggu siap, aku punya cerbung ringan ala remaja, nanti deh aku share bagian satu. Hehee

      Btw, aku selalu suka komen panjang darimu, Kak. 💓💓

      Makasih juga do’anya. Hug me 🤗🤗🤗

  3. Hahaha kok aku seneng tahu kalau kamu sebel. 🤣🤣🤣 Makasih do’anya … tunggu kabar bahagia nanti selepas lebaran. Insya Allah naik cetak apapun yang terjadi.

    Makasih juga udah komen panjang, karena sejujurnya aku suka baca komen panjang. 🤣🤣✌️

  4. 😭😭😭
    Numpang nangis duluu ya, kak Ke. Wanita, duh sungguh itu menyakitkan.

    Jangan2 ada hubungannya Lisa dengan peristiwa kecelakaan Inneke. 🤔 haha sok nebak..

    Mau komen dari bawah, nanti dulu ya kak. Istirahat. Baru marathon komen. Haha

    Kuharap epilognya tidak mengecewakan. Setidaknya terjawab dan mendapat pelajaran luar biasa. 💛💛

    Belum rela tamat. Hiks