“Persiapkan diri, Ke. Aku akan melamar dengan cara yang baik, di hadapan bapak dan ibumu,” bisikku di telinganya.

Inneke bergeming.

“Sekarang?” cercanya seraya mengurai pelukanku.

“Kapan pun kamu siap. Kalau perlu, hari ini juga kita pergi!” tantangku.

“Besok aja, kalau hari ini nanti kita kemaleman.” Inneke mengambil keputusan.

“Baiklah!”

Menjawab keinginan gadis itu kuhubungi sekretaris redaksi. Aku bertanggung jawab atas liputan banjir di Daerah Pekalongan dan sekitarnya.

Argumentasi putra daerah diajukan agar Inneke turut dalam kegiatan tersebut. Selain menguasai medan, cerpenis itu akan menyiapkan freelance photographer dari warga setempat.

Mengenal seluk beluk lokasi dan pemberdayaan masyarakat local, menjadi dasar pemikiran untuk tidak membawa pewarta foto kantor. Memfasilitasi keberangkatan besok pagi surat tugas akan siap sore ini. Jadi, aku bisa mengambilnya sekalian pulang.

“Tian, kamu detail banget memikirkan semuanya.”

“Aku tidak akan membahayakanmu, Ke. Sekarang, aku pulang dulu. Jangan lupa hubungi orang yang bisa ambil gambar dan pelajari TOR(Term Of reference).”

“Tian, TOR-nya mana? Kamu sudah bilang sama penanggung jawab redaksi untuk ambil tugas ini?”

TOR menjadi acuan perencanaan wawancara serta menjadi catatan pertanggungjawaban bagi awak tim liputan.

“Sudah, kamu tenang saja. Kita bicarakan dalam perjalanan, biar kamu gak ngantuk. Gak seru aku nyetir, kamu tidur.”

Senyum manis tersungging di wajahnya. Semakin manis saja.

“Ke … aku jemput jam delapan pagi, Sayang.”

‘Sayang’ mantra cinta itu akhirnya aku ucapkan lagi setelah sekian lama.

“Tian …,” panggilnya dari teras.

Memegang handle pintu mobil kulihat Inneke lari ke arahku. Ia menghamburkan diri mendekapku. Hangat, sehangat pelukan Ike terakhir kali saat dia memutuskan pergi.

Ah, mengapa rasa sakit itu masih terpatri. Kenangan di pantai, nostalgia senja tersimpan rapi di relung hati.


“Mas, izinkan aku pergi. Aku tidak ingin menjerumuskanmu menjadi anak durhaka.” Menunduk Ike mengatakannya.

“Apa maksudmu, Ke?” Telunjukku mengangkat wajahnya yang terpisahkan meja.

Bibir seksinya mengatup. Tiada kata terucap. Hanya bulir-bulir bening membersihkan retina yang memerah. Sembab.

“Jawab, Ke!”

Kekasihku melanjutkan aksi mogok bicara.

Kesal, kuraih tangannya paksa. Aku setengah menyeretnya keluar dari kafe. Terpaksa ia menurut masuk ke mobil.

Tiba di pantai, duduk di jok belakang kami tidak turun. Melingkarkan tangan di pinggang rampingnya aku bisikkan cinta.

“Ke, Mas Tian sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan Mas Tian, Ke. Kita berjuang untuk bisa bersama.” Kueratkan pelukan. Tidak aku biarkan ada celah. Angin pun tak mampu menyusup di antara kami.

“Gelap, Mas. Lubang itu buntu. Tanpa restu, tiada secercah cahaya di ujungnya. Kembalilah ke pintu gua. Dan keluarlah! Hiduplah dengan bebas tanpa belenggu dariku.” Terisak ia mengucap kata ‘putus’ dalam dekapanku.

“Aku tidak terima, Ke. Kita tidak pernah putus!”

“Hust … jangan bicara! Kita nikmati saja kebersamaan ini. Aku masih milikmu.” Malu-malu dia menyentuh bibirku dengan bibirnya. Terperanjat aku dibuatnya. Hangat untuk pertama dan terakhir.

Ya, terakhir … setelah itu aku tak lagi menemukannya di rumah kontrakan. Dia mengundurkan diri dari rumah sakit. Menyeberangi laut Jawa aku mencarinya hingga ke Borneo.

Lorong pertokoan ‘Cahaya Bumi Selamat’ Martapura kutelusuri. Kios-kios dihiasi kerajinan intan dan batu permata juga manik-manik Kalimantan tak satu pun kusinggahi. Tujuanku hanya rumah orang tua Ike. Kekasihku pun tak ada di sana. Sosoknya bagai hilang di telan bumi.

Diriku terombang-ambing diatas perahu klotok. Terapung di pasar Lokba Intan. Sayangnya Sungai Muara Kuin tak mau merengkuh tubuh ini. Ingin sekali aku tenggelam di dasarnya melupakan lara hati kehilangan dirinya.

Menepi kumasuki Masjid Sultan Suriansyah. Di dalam bangunan kayu ulin yang arsitekturnya serupa Masjid Agung Demak aku bertanya, “Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa Kau hukum aku seperti ini?” Kecewa pada takdir, menjuhi-Nya aku memilih jalan terjal tanpa koridor agama.

Pencarian belum berakhir. Di Pulau Kembang, aku bertanya pada monyet-monyet penunggu pohon bakau. Mereka pun tak tahu. Di atas Menara Pandang, dari lantai empat aku berteriak, “Ike, di mana kamu? I love you!”

Menyorotkan cahaya terang patung bekantan itu menyahut, “Tak ada gadismu di tanah Lambung Mangkurat ini. Pulanglah ke tanah Pasundan!”

Kembali ke Kota Kembang, bendera putih dikibarkan. Menyerah aku mengaku kalah. Menerima perjodohan kuserahkan ragaku, tidak hatiku.

Mataku terasa hangat. Kenangan itu tak mungkin terlupa. Rasa cinta itu tak pernah sirna. Aku masih terjerat dalam pesona cinta pertama.

“Tian ….” Lembut jemari Inneke menghapus air dari kelopak mataku.

Ah, dia menyadarku. Aku memilikinya sekarang. Cinta itu bersemi kembali. Mungkinkah Ike akan terganti? Ike, sudah ikhlaskah aku melepasmu kini? Mungkinkah hadirnya akan menghapus cinta kita, Ke?

“Ke ….” Hampir saja aku salah menyebut namanya.

“Iya, Tian … aku disini. Aku menunggumu untuk menemui orang tuaku di Kota Batik.” Ia membiarkanku pergi, pergi untuk kembali esok pagi.

Tiba di rumah aku segera berkemas. Tas kabin kusiapkan dengan keperluan tiga hari.

“Ayah, mau ke luar kota?” tanya Lisa setelah sekian lama kami ‘puasa’.

“Iya,” jawabku malas.

“Jangan lupa pulang akhir pekan. Pesta ulang tahun Ayah dirayakan Mama hari Minggu.”

Mengecup pipiku, ia pergi malam seperti biasa. Tinggallah aku bersama Naya. Memegang koper, ia memainkan roda.

“Ayo, kita main di kamar. Kita harus segera tidur. Ayah tidak boleh terlambat besok.” Kugendong bidadari kecilku. Bermain kuda poni di tempat tidur dia tertawa.

“Sekarang Ayah jadi kuda,” pinta putriku naik ke punggung.

“Naya siap?” Aku mengambil ancang-ancang.

“Satu … dua … tiga!” Aba-aba dia berikan.

Kudaku lari kencang,
Masuk ke rumah ujang,
Ujang lagi …. ups … makan rendang.

Menyanyikan lagu itu aku berlaku layaknya kuda berlari. Naya adalah sang koboi. Lelah bermain akhirnya dia tidur juga. Tak mau ketinggalan aku terlelap di sebelahnya.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari lima jam dan istirahat di rest area kami tiba di Kota Santri.

“Tian, mau makan nasi megono, tauto, pindang tetel atau sop buntut bakar?”

“Tauto … em … soto daging kuah kental dengan tauco. Aku kurang suka makanan fermentasi, termasuk terasi. Nasi megono saja, Sayang.”

Mendengar aku memilih panganan dari irisan nangka muda diberi sambal kelapa Inneke memberi petunjuk jalan. Menyesap kopi tahlil, aku mengakhiri makan siang yang sudah lewat waktu.

“Ke, sebelum ke rumah orang tuamu, lebih baik aku cari penginapan dulu. Jadi, kamu bisa menunjukkan hotel yang nyaman, bagaimana?” Meninggalkan restoran aku meminta pendapatnya.

“Iya, aku tahu tempat yang bagus.” Sebagai tuan rumah Inneke berperan sebagai pemandu.

“Tian, aku tunggu di mobil, ya. Em … kamu masuk sendiri,” ujarnya saat kami tiba di sebuah bangunan hotel di jalan Gajah Mada.

“Aku paham, Sayang.” Mengusap rambutnya aku turun mengambil tas dari belakang.

Tak mematikan mesin aku membiarkan cerpenis itu dalam mobil. Untuk sebuah kota, dimana madarasahnya menerapkan libur pada hari Jum’at demi menjaga tradisi, akan tabu melihat gadis pergi ke hotel dengan seorang pria.

“Kamarnya bagus?” tanya Inneke melihatku kembali duduk di balik kemudi.

“Seleramu keren … sama kerennya dengan selera memilih pasangan,” godaku mengedipkan mata.

“Tian … GR-nya gak berkurang.” Nampak grogi, dia memainkan gantungan kunci kamar hotel berlogo HS yang baru aku letakkan.

“Nomor kamarmu mirip kapak naga geni Wiro Sableng, ya?”

“Mirip judul artikel pada majalah Barokah.”

Asyik diskusi tentang merebaknya majalah tersebut tak terasa kami memasuki pelataran rumahnya. Di teras, aku melihat banyak tumpukan kain-kain batik.

Mengucapkan salam kami menyapa para ibu-ibu yang duduk melipat baju.

“Nak Tian dan Inneke sudah datang. Ayo, masuk.” Wanita paruh baya yang kukenal saat gadis itu kecelakaan menyambut hangat.

“Terima kasih, Bu.” Mengekor aku mengikuti Inneke dan ibunya duduk di kursi jati.

“Oleh-oleh dari Tian, Bu.” Inneke menyerahkan tiga kotak merah bertuliskan Kartika Sari.

“Eh, kok repot-repot, Nak Tian.” Rasa syukur diucapkan saat menerima macam-macam brownies, bagelen dan cake serta chips.

Menghilang di balik gebyok ukiran khas Jepara, Ibu dan Inneke meninggalkan aku sendiri.

“Kalian mau meliput banjir?” Menyalamiku, lelaki yang dipanggil Inneke ‘Bapak’ bertanya.

“Iya … Pak.”

Aku ingin mengatakan tujuan inti, tapi bibirku berkhianat. Jantungku berdegup kencang. Ternyata, begini rasanya mau meminang anak gadis orang.

“Awal tahun lalu kota terendam air, sekarang terjadi lagi. Imbasnya pada kami, para pedagang batik merugi,” keluh Bapaknya Inneke.

“Apa penyebabnya, ya, Pak?” Aku mulai wawancara.

“Bapak kurang paham, Nak Tian. Bapak tidak mengikuti beritanya, sibuk berdagang.”

Lelaki yang duduk di depanku ini mengakhiri kata-katanya saat Inneke dan Ibunya datang membawa minum lengkap dengan jajanan.

“Nak Tian, monggo loh minumnya.” Sang ibu mempersilahkan.

Meletakkan nampan di bawah meja, beliau duduk di samping sang suami. Putri sulung mereka duduk di sebelahku.

“Bapak, Ibu, tadi saya dan Inneke datang dengan tujuan untuk memohon doa restu atas hubungan kami.” Akhirnya, kata-kata itu meluncur mulus dari mulutku.

Kedua orang tua Inneke tersenyum saling lempar pandang. Mesra.

“Bapak dan Ibu menyerahkan pada yang mau ngelakoni … menjalani, gitu kan yo Buk-e?”

Mengerling, bapak meminta persetujuan wanita yang sudah diikatnya dalam janji suci.

“Bagaimana Ke, mau ndak kamu jadi istrinya Nak Tian?” Menimpali sang suami ibu menjawil tangan anak gadisnya.

Mengangguk Inneke tersenyum malu-malu. Rona merah menjalar di wajahnya.

“Itu, Inneke sudah mau. Jadi, kapan orang tua Nak Tian akan datang melamar?”

“Belum bisa dalam waktu dekat, Pak. Mungkin tahun depan,” jawabku ragu-ragu.

“Lah kok lama temen, Nak Tian. Keburu ada setan makan sambel. Iyo to Pak-e?” komentar wanita paruh baya di depanku.

“Apa masih mau ngumpulin modal?” sambungnya.

“Nak Tian, Inneke, hukum menghadiri undangan dan menyelenggarakan pernikahan beda hukum. Menghadiri undangan pernikahan itu wajib. Sedangkan, menyelenggarakan walimatul urs hukumnya sunah.” Bapak meneguk kopi hitam.

“Tidak perlu pesta mewah untuk meresmikan pernikahan. Boros temannya setan. Mengikuti sunah Rosul, bapak hanya mau pengajian keluarga, kenduri. Yang penting, kalian halal di mata Alloh, negara, keluarga dan tetangga. Kita harus menghindari fitnah.”* Bapak menimpali istrinya.

“Pak, Bu … bukan … bukan begitu, tapi ….” Aku berusaha menjelaskan, tetapi bibirku kelu.

“Nak Tian, Inneke, apa ada masalah lain?” cecar Bapaknya.

“Saya harus mengurus akte ke pengadilan agama.” Aku tak berani menatap bola mata lelaki di hadapanku.

“Nak Tian punya istri?” Suara ibunya melengking tinggi.

“Pak, Bu, saya akan bercerai bukan karena Inneke. Saya dan istri sudah lama tidak cocok.” Aku mencoba menerangkan duduk persoalannya.

“Oalah, Ke … Inneke … ke kota kok ngrebut suami orang. Bikin malu saja anakmu ini Pak-e!” Menutup wajah Ibunya mulai menangis.

“Apapun alasannya Bapak tidak setuju. Titik. Nak Tian boleh pergi sekarang!” bentak Bapaknya mengusirku.

“Bapak, Ibu … Inneke cinta Tian. Pokoknya Inneke mau nikah sama Tian. Inneke nggak peduli dia duda dan punya anak,” jerit Inneke melihat Bapak dan Ibunya masuk ke kamar.

“Ke, baiknya aku ke hotel. Besok, aku datang lagi. Kita liputan.”

“Kamu nggak akan menyerah, kan? Tian, kita berjuang. Aku mohon Tian jangan meninggalkanku,” ratap Inneke mengantarku ke mobil, bersimbah air mata.

Kembali ke penginapan aku hanya berdiam di kamar. Kolam renang dan taman dipenuhi bunga tak menarik perhatianku. Bahkan makan malam pun aku tak berminat.

Suite room ini terasa tak nyaman karena hatiku sesak.

Merenung, kata-kata Inneke menamparku. Aku pernah mengucapkannya pada Ike … lima tahun lalu. Dulu restu tak kuperoleh dari orang tuaku. Kini, bapak dan ibu Inneke menolakku. Mengapa aku selalu dihadapkan pada dilema cinta tanpa restu?

“Tok! Tok! Tok!”

Suara ketukan mengejutkanku. Kulirik arloji, sudah hampir jam delapan malam. Memakai kaos dan celana pendek aku membuka pintu.

“Tian ….” Terbuka Inneke langsung menerobos masuk. Ia memelukku.

“Inneke?” Spontan, heran, aku tidak percaya.

“Sayang ….” Menutup daun kayu, aku mengecupnya.

— Bersambung PoV Inneke —

Bagian Empat Belas: Hukum Mengadakan Walimatul urs.
.
Catatan :
*Hukum mengadakan walimatul urs adalah sunah.

1.Walimah ‘Urs adalah makanan yang dibuat untuk acara pernikahan.
2.Hukum mengadakan walimah ‘urs adalah Sunah
3.Menghadiri undangan walimah adalah wajib
4.Tujuan walimah adalah untuk menghindari fitnah dan sebagai ungkapan rasa syukur telah diadakanya pernikahan.

Dasarnya:
“Dari Anas bin Malik RA. Sesungguhnya Nabi Saw. Melihat bekas kalung pada Abdir Rahman Bin Auf kemudian beliau bertanya.: “Apa ini?” Dia menjawab: “Saya telah menikahi seorang wanita dengan maskawin emas sebesar biji kurma”. Kemudian beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing saja.” (HR. Imam Bukhari).

15 KOMENTAR

  1. Kan kan.. Wes lah berdua juga akhirnya di hotel. Hadeh. Hiihi

    Udah dibilang jangan buru-buru. Selesaikan dulu. Jadi duda dulu. Hm macam gak pernah muda aja ini Tian. Umur segitu kok masih mburuin aja sama cewek. Wahaha

    Maaf kak Yuke, emak2rempong nonton sinetron nih. Haha 🏃

    Syemangat. 💛