“Aku akan menceraikan Lisa, asal kita bisa tetap bersama.” Kata itu terlontar tanpa mampu kukendalikan. Demi tak ingin Inneke pergi, aku seperti dituntut untuk menjadikan perceraian sebagai senjata pamungkas. Tak menjawab, Inneke melingkarkan tangannya di tubuhku. Ia membalas pelukan.

“Ke, maukah kamu menikah denganku?”

Belum mampu mencerna atas rencanaku menghancurkan bahtera rumah tangga yang kubina dengan Lisa. Bibir ini dengan lancang menawarkan perkawinan pada dia, gadis yang kukecup puncak kepalanya berkali-kali tanpa mampu menolak perlakuanku.

Hening.

Mendekapku erat, Inneke diam seribu bahasa. Ia tak menjawab tawaranku, juga tidak menolaknya. Aku … aku merutuki diriku sendiri.

“Hidup hanya sekali Tian, nikmati! Jangan biarkan cintamu kandas kembali!” batinku mencari pembenaran.

“Gegabah sekali kamu, Tian! Ingat Naya!” Sisi rasionalku tidak terima atas keputusan yang aku ambil.

Mengenal Inneke, yang kepadanya cintaku kembali bersemi setelah hampa ditinggalkan Ike. Aku sudah sering mempertimbangkan pernikahanku, apakah melanjutkan atau membawa ke meja sidang. Aku pun rajin mencari informasi terkait masalah ini. Beruntung psikolog yang mengisi rubrik kesehatan pada koranku sering membahasnya.

Pertama membaca ulasannya aku sangat penasaran. Aku seperti membaca tulisan Ike. Gaya itu melekat dalam ingatanku, karena aku sering membantu memeriksa karya ilmiahnya. Meminta data psikolog bernama lengkap Arie Singawidjaya dari penanggung jawab redaksi, aku menemukan KTP dan foto seorang lelaki tua yang masih gagah di usia senja, 70 tahun.

Pensiun dari Rumah Sakit Jiwa Pak Arie memiliki waktu berbagi pengalaman. Motivasi dia mengisi rubrik kesehatan. Tinggal di luar pulau ia mengirim tulisan via surat elektronik, tak pernah datang ke kantor. Berasal dari kota yang sama, Ike dan psikolog itu memiliki selera serupa dalam pola penulisan.

Suatu hari Bapak Singawidjaya mengangkat tema perceraian. Ketok palu pada Pengadilan Agama tidak hanya menghasilkan akte perceraian, tetapi menimbulkan dampak psikologis yang merugikan untuk pasangan dan anak-anak mereka.

Mengutip pendapat seorang mediator dan penasehat perceraian Amerika, ia menjelaskan bahwa. wanita adalah pihak yang paling berat mengalami pukulan akibat perceraian. Sakit hati akibat perselingkuhan, membuat kaum hawa kehilangan kepercayaan, sehingga sulit untuk jatuh cinta lagi. Rata-rata mereka juga menghadapi masalah finansial, terutama disebabkan tidak memiliki pekerjaan.

Ah, bagi Lisa, masalah keuangan tidak akan mengganggunya. Lima puluh persen saham perusahaan koran dikuasai papinya dan sisanya dimiliki papaku. Itulah alasan mereka berdua menjodohkan kami. Pernikahan kedua pemilik saham, mengejar angka bulat seratus persen.

Menurut psikolog itu, berakhirnya ikatan perkawinan tak jarang akan melahirkan masalah pelik, depresi, stres, kecemasan dan perselisihan bahkan permusuhan. Akibatnya, anak korban perceraian akan menjadi pendiam, enggan bergaul karena malu sehingga prestasi akademiknya terganggu.

Efek sebaliknya juga dapat terjadi, anak korban perceraian akan tumbuh menjadi pemberontak. Depresi dan jiwa labil menjadikannya sebagai anak adopsi dari kerusakan dan penyelewengan moral. Ia akan tergiring dalam pergaulan bebas, narkoba atau bahkan kriminalitas.

“Jika itu terjadi pada Naya, bagaimana dia akan menjadi putri kebangganmu, Tian?” logikaku kembali mengingatkan.

“Bagaimana jika Naya membenciku? Bagaimana bila putriku akan menyalahkan dan menjadikan aku sebagai pihak yang paling bertanggung jawab karena mengkhianati komitmen perkawinan?” Sisi kebapakanku turut serta mempertanyakan segala kemungkinan di masa depan.

Nalarku menilik setiap sudut rongga dada dan kepala meminta jawaban. Nihil. Aku tak memiliki kemampuan menjelaskan keegoisanku mengejar kebahagiaan pribadi.

Tenggelam dalam pikiran masing-masing kami tidak saling bicara. Mendekap erat aku menikmati wangi tubuh Inneke, masih sama dengan awal mengenalnya, tahun 2017 lalu. Harum lembut parfumnya mengingatkanku saat pertama kali datang ke rumah kontrakan ini. Membantunya berjalan akibat luka kecelakaan, kontak fisik di antara kami terjadi. Masa di mana, iblis perayu mulai menyeretku dalam pusaran dilema cinta.

—–

“Pak Jon, saya setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at ada kelas literasi dari jam sebelas sampai jam dua. Bapak pulang saja tidur siang di rumah. Lumayan untuk istirahat, karena malamnya istri saya ada acara. Pak Jon jangan ngantuk, berbahaya,” kataku siang itu saat mobil memasuki pelataran kantor pusat.

Aku sengaja turun di kantor pusat setiap ada janji diskusi dengan Inneke. Selanjutnya, aku menggunakan taksi online menuju kafe untuk bertemu dengan cerpenis berbakat itu. Sekali merengkuh dayung … aku memupus kecurigaan Inneke, sekretaris dan sopirku. Di kantor pusat kan ada papa.

Lelaki yang darinya kuwarisi kromosom Y menempatkanku sebagai redaktur di kantor cabang, agar aku belajar dan tahu sistem kerja perusahaan dari level bawah. Selebihnya, papa membebaskan kegiatanku. Jadi, beliau tidak akan mempermasalahkan pertemuanku dengan Inneke selama masih ada kaitan pekerjaan.

“Yang betul, Mas?” tanya pengemudi yang sudah mengabdi pada keluargaku sejak lulus SMA. Kala itu, aku duduk di bangku kelas enam. Lelaki baik hati ini mengantar dan menjemputku sekolah.

Mulai hari pernikahanku, ia ditugaskan mengantar ke mana pun aku pergi atas perintah mama. Tujuannya apalagi, selain sebagai mata-mata yang harus melaporkan keberadaanku di luar kantor. Keluarga, terutama mama takut jika diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Ike. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Maaf, ya Ma.

“Pak Jon kan kenal saya dari kecil. Kapan saya pandai berbohong? Ini uang untuk Pak Jon makan siang, tapi bukan di restoran. Belikan lauk dan dibawa pulang ke rumah Bapak saja!” Menyerahkan tiga lembar pecahan seratus ribuan aku turun dari mobil.

“Wah Mas, istri saya akan senang sekali. Bagaimana saya bisa berterima kasih atas kebaikan, Mas Tian?”

“Tolong doakan yang terbaik untuk saya, Pak.” Menutup pintu mobil, aku melambaikan tangan menjawab ucapan syukurnya. Itulah sifatku, tidak pernah pandang bulu atas status sosial seseorang. Sebagai anak tunggal aku senang bergaul, mencari teman.

Tersenyum aku membayangkan akan bertemu Inneke dan mendebatnya tentang puisi akrostik yang dia kirim kemarin lusa. Sebagai seorang redaktur, aku juga menjalankan tugas editor. Aku paham aturan kepenulisan. Jadi, mendengarkan gadis itu mengoreksi cerbungku, aku menilai ia mempuni dalam bidang literasi.

Bak mengukir di langit, rencanaku sia-sia. Kendaraan roda empat itu belum selesai berputar, ketika aku menerima pesan dari Inneke.

“Tian, maaf aku nggak bisa datang ke kafe. Aku kecelakaan. Sekarang polisi menyita motorku dan mengantar aku ke rumah sakit.”

Mengkhawatirkan keadaannya, aku segera meluncur ke Rumah Sakit Umum Daerah tempat di mana gadis berambut panjang itu mendapat perawatan. Sepanjang perjalanan aku berharap kondisinya tidak parah. Ah, apa yang terjadi padaku? Mengapa ia menjadi begitu berarti?

“Mana yang sakit, Ke?” cecarku tak dapat menutupi kecemasan yang menyelimuti pikiran dan hati.

“Terima kasih sudah datang. Kakiku luka tertimpa motor.” Meringis kesakitan ia terbaring di ruang UGD untuk mendapat pertolongan.

“Siapa keluarga saudari Inneke? Silakan dapat menyelesaikan urusan administrasi!” teriak perawat.

Menjawab panggilan tersebut aku menemui dokter jaga. Inneke diperbolehkan pulang. Artinya dia akan rawat jalan di rumah dengan keluarganya. Ah, kondisi ini menyulitkanku jika ingin bertemu. Maka, supaya lebih mudah menjenguknya, aku meminta agar dia rawat inap. Namun, dokter menjelaskan kalau kamar penuh. Artinya, Inneke akan tidur di selasar. Ingin rasanya membawa dia ke rumah sakit langganan keluargaku, tapi itu tidak mungkin.

Menyewa taksi yang mangkal di halaman rumah sakit pemerintah ini, aku mengantarkan gadis itu pulang.

“Tian, tadi dokter bilang apa?” tanyanya di dalam mobil. Syok kuat Inneke duduk di ujung jok. Ia membuat jarak denganku.

“Walaupun ada jahitan pada lukamu, tapi tulangmu tidak ada yang retak. Kamu harus istirahat dan jangan banyak menggerakkan kaki dulu.”

“Syukurlah, trus tadi waktu ditanya perawat siapa keluargaku, kamu jawab apa?”

“Aku bilang kalau aku suamimu,” tandasku datar tanpa ekspresi, menahan tawa dalam hati. Kulirik dengan ekor mataku Inneke tampak kesal.

“Apaan, sih? Rese!”

“Ha ha!” tawaku pecah tak tertahan lagi.

Membantu keluar dari mobil, aku memapahnya berjalan masuk ke rumah kontrakan. Kontak fisik di antara kami tidak terelakkan. Wangi lembut parfumnya menguar memenuhi rongga dadaku. Aku pun menghirupnya dalam-dalam. Menyemai bunga-bunga cinta hatiku berdesir dengan hebatnya. Debar-debar itu datang menghampiriku kembali dengan sosok yang berbeda.

“Ke, kamu tinggal sendiri di kos ini?” Mataku menyapu sekeliling dari tempatku duduk di samping ia berbaring.

“Iya, keluargaku tinggal di kampung semua. Menamatkan kuliah aku merantau untuk mewujudkan cita-cita menjadi penulis.” Jawabannya menunjukkan gadis ini memiliki keberanian dan tekad yang besar untuk sukses.

Ia membuatku semakin kagum. Aku juga senang. Kesendiriannya memudahkanku untuk memberikan perhatian tanpa takut pada keluarganya.

“Ke, makan dulu. Tadi kata apotekernya obat diminum after meal.” Aku membantunya duduk bersandar di kepala ranjang.

“Bisa makan sendiri atau mau disuapin?” lanjutku menggodanya.

“Aku belum jompo, Tian!” Melotot ia berteriak kecil.

Terkekeh aku mengambil piring lengkap dengan sendok dan garpunya. Nasi bungkus yang kubeli dalam perjalanan dari rumah sakit tadi aku sorongkan padanya.

Menurut ia menerimanya. Kami menikmati makan siang bersama. Aku segera menyiapkan obat setelah kami menghabiskan makanan.

“Tian, minum obatnya tidak sekarang, tapi setengah jam lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aturan minum obat bersama makanan atau setelah makan itu, obat harus diminum dalam waktu tiga puluh menit setelah kita menyantap makanan.”

“Oh, gitu?”

“Iya, obat diminum setelah makan tujuannya untuk meminimalisir efek samping seperti mual dan muntah. Tujuan lainnya juga supaya menghindari gangguan pencernaan, iritasi dan tukak lambung. Em ….” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Ada apa, Ke?”

“Tian, aku mau ke kamar kecil. Bagaimana, ya?” Ia malu untuk memintaku membantunya.

“Ayo, aku tolong. Tenang Ke, aku tunggu di luar. Janji, deh, tidak akan ngintip he he.” Pukulan kecil di lengan dia berikan sebagai respon atas keisenganku.

“Maaf, Tian. Aku jadi merepotkanmu,” katanya dengan tatapan seolah mengucapkan terima kasih yang tulus setelah ia kembali ke dipan.

“Aku akan selalu ada untukmu, Ke. Seumur hidupku jika kamu mengizinkannya.”

Kupandang lekat-lekat wajahnya. Membalas tatapanku ia menghadirkan selarik senyum. Bagiku, senyuman itu penuh makna yang membuatku bahagia. Senyum itu tetap menghiasi wajah cantiknya ketika terlelap, efek dari obat yang diminumnya.

Menggunakan meja yang mungkin biasa digunakan Inneke menulis, aku menyelesaikan urusan kantor melalui laptop yang berbagi internet dari ponselku. Tak lupa aku memberi tahu istriku kalau pulang terlambat. Pak Jon kuminta langsung saja ke rumah. Tak perlu menungguku jika Lisa akan pergi untuk acara reuni.

Ah Naya, dia pasti sudah tidur saat aku tiba nanti. Aku kehilangan waktu bermain bersamanya sore ini.

“Tian, kamu masih di sini?” Suara Inneke mengejutkanku. Menutup pekerjaan, aku segera mengganti layar laptop dengan cerbung.

“Eh, kamu sudah bangun, Ke.” Aku menoleh padanya.

“Sudah gelap di luar. Aku tidur lama sekali, ya?” ujarnya dengan mata tertuju pada jendela yang setia mendampingi daun pintu.

“Orang sakit itu obatnya istirahat yang cukup dan makan yang banyak. Jadi, sekarang makan malam, yuk,” bujukku.

“Terima kasih. Kamu sempat beli makanan juga rupanya.”

“Hanya telepon dan minta diantar. Aku tidak tega meninggalkamu sendirian. ”

“Tapi ….” Ia menahan ucapannya.

“Tapi … apa?”

“Tapi … kamu tetap akan pulang kan?”

“Ha ha inginnya, sih, tidur di sini temenin kamu. Hanya saja aku tahu kalau kamu takut digrebek hansip lalu dikawinkan paksa … ha ha.”

“Ada ya, penulis yang nyebelin banget kayak kamu.”

“Begini-begini aku punya banyak fans loh.” Terkekeh aku semakin menjadi.

“Ish, mulai deh, acara GR-GR-an.” Inneke tampak memutar bola matanya, tapi bibirnya ikut tertawa kecil.

Selesai membantunya makan dan minum obat serta urusan di kamar mandi, aku pun berpamitan.

“Ke, aku mau pulang dulu. Oh iya, ini sudah aku belikan tongkat walker roda. Jadi, kamu bisa ke toilet nanti kalau aku tidak ada di sini.” Aku mendorong alat bantu jalan fisioterapi ke dekat tempatnya berbaring.

“Kamu juga beli via telepon?” tanyanya mengandung kecurigaan.

Dasar gadis cerdas, sakit saja otaknya masih menganalisis. Dalam hati aku menjawab, “Gampang urusan itu untuk seorang Septian Rahardi, tinggal hubungi relasi papa dan bilang saya putra Bapak Wongso Rahardi. Mereka langsung mengenaliku dan memberikan pelayanan prima.

“Iya dong, kan aku udah bilang punya banyak penggemar … he he.”

Melihat pada aplikasi taksi yang kupesan semakin mendekat, aku tidak menunggu reaksi Inneke.

“Ke, pesanan taksiku sudah datang. Pulang dulu ya, besok pagi aku usahakan kemari lagi. Kalau kamu ingin dibawakan sesuatu, tolong kabari. Em … biar kamu tidak perlu jalan untuk menutup dan membukakan aku pintu, apa boleh kubawa kuncinya?”

Ia nampak berpikir.

“Ke, mikirnya lama amat. Kamu takut aku apa-apain? Kalau aku mau, saat kamu tidur tadi, Ke. Aku bisa puas.”

“Kamu kan suka modus.”

“Ha ha, aku memang suka bercanda, Ke. Untuk urusan hati, prinsipku menyayangi seseorang itu dengan menjaganya, bukan merusaknya.”

Tersirat aku mengungkapkan perasaanku, “Aku sayang kamu, Ke”. Terserah, dia paham atau tidak.

Tiba di rumah jam sepuluh malam. Lisa masih juga belum pulang, sudah menjadi rutinitasnya. Setelah membersihkan diri dan pakai piyama, aku masuk ke kamar Naya. Membangunkan pengasuh putriku, aku memintanya pindah ruangan.

“Naya, ayah pulang … kangen kamu, Sayang.” Memeluk bidadari kecilku aku menciuminya pelan-pelan. Ada rasa sesal dan rindu meninggalkan dia seharian.

“Tidur yang nyenyak, Nak! Ayah akan menemanimu seperti biasa,” bisikku dengan suara yang nyaris tidak terdengar, sebelum akhirnya hanya dengkuran halus kami berdua yang berpacu sepanjang malam hingga fajar menjelang.

Aku terbangun mendapati Naya sudah duduk di perutku. Jari mungilnya masuk ke hidungku membuat geli.

“Hole! Ayah bangun! soraknya senang berhasil membuatku terjaga.

“Oh, anak cantik ini yang ganggu tidur ayah, ya.” Aku menggelitiknya. Dia tertawa.

Tawa itu dilanjutkannya di kamar mandi saat aku menyiram air pada tubuhnya. Aku selalu memandikannya sebelum ke kantor. Meninggalkan Naya pada babysitter aku mengecup dahi Lisa, yang masih tidur sebagai tanda pamitan berangkat kerja.

Pergi lebih awal aku tidak menunggu Pak Jon. Membawakan sarapan dan seikat kembang, aku ucapkan selamat pagi pada Inneke yang terbalut piyama bergambar bunga matahari.

“Hai, Ke. Good morning selamat pagi, si baju kuning cantik sekali. Bagaimana keadaanmu? Demam tidak semalam?

— bersambung PoV Inneke —

Pembahasan Bagian Enam: Dampak Perceraian

 

04.16

1 Maret 2019

Bagian enam ditulis oleh, Uda Arie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13 KOMENTAR

  1. Hiyaakk, semakin seru. Harapannya sih bakal ada pelajaran luar biasa dari cerita dilema ini. Dan aku yakin bakal ada ending yang gak disangka dan semoga yang terbaik bagi semuanya.
    Untuk pertanyaan2 lebih lanjut, aku akan belok ke rumah kak Yuke aja. Hihii

    Lanjut kak Ke. 😁😁