Kuseka air mata yang tak mau berhenti mengalir. Tak mampu menahan luapan rasa sakit. Yang terpikir olehku hanyalah menemui Tian. Tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku terima semuanya, asal bersama Tian.

Kuketuk pintu kamarnya beberapa kali, sampai terdengar langkah kaki mendekat.

“Tian!” Belum sampai pintu terbuka sempurna, aku menerobos masuk. Kupeluk Tian. Erat.

“Inneke?” panggil Tian di telingaku. Kutahu dia pasti terkejut.

“Sayang ….” Aku menengadah, Tian tak memberiku kesempatan berucap. Memagut bibirku. Sesaat, aku lupa akan sakit yang kian menjalar ke urat nadi.

Kepayahan bernapas, lantas aku menarik diri. Kami berpandangan dalam hening.

Ingin kukatakan semua padanya. Aku dilema. Mana yang harus kupilih, menuruti nasihat bapak, ataukah memperjuangkan Tian?

Satu kali aku kecewa, kumaafkan. Kedua kali Tian tak jujur, itupun karena dia tak ingin kehilanganku. Meyakinkan, bahwa aku segenap hati ingin dia miliki. Tanpa menyentuh apalagi menodai. Lantas, Setega itukah aku menganggap cinta ini tak layak untuk mempersatukan kami? Andai saja bapak dan ibu tahu, bahwa aku dan Tian bukan sekedar mabuk asmara. Kamu berdua telah lama saling menjaga. Menggenggam dalam diam. Mengikat tanpa ikatan.

Bahkan, Tian menolakku saat setan memerintah untuk menyerahkan diri.

“Makanlah, kamu bilang tadi belum makan!” Tian hendak menyuapkan sesendok nasi padaku.

Aku membuka mulut, hanya satu suapan, lalu kuambilalih alat bantu makan itu dari tangannya. Kami berdua menyantap hidangan dalam sunyi. Sesekali kutatap wajah Tian yang sulit kuartikan apa yang dia rasa. Satu yang kuyakini, pasti sama bingungnya denganku. Atas penolakan bapak.

“Setelah ini, kuantar kamu pulang,” ucap Tian.

Laki-laki yang kucintai itu tak menghabiskan makanannya. Begitu pula aku, tak ada rasa lapar atau haus.

“Tian, masihkah kamu akan memperjuangkan kita?” tanyaku pada akhirnya.

Jika memang, Tian tak mau. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Meski, patah hati sebelum cinta ini melayang, sakitnya harus siap kutanggung.

“Inneke, sebelum kujawab pertanyaanmu. Bolehkah, aku bertanya sesuatu lebih dulu?”

Tian mengambil napas dalam. Diam. Sedang aku masih menunggu dia melanjutkan ucapannya.

“Kamu tahu kenapa aku mengajakmu makan di sini? Tak mengizinkanmu menginap satu hotel meski berbeda kamar?”

Aku menggeleng. Karena, memang tidak tahu apa yang Tian pikirkan. Tadinya, aku bersikeras ingin menginap di hotel, bersama Tian. Bukan tidur berdua, kami belum ada ikatan apapun. Aku hanya ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan dia. Lagi, aku ingin berpaling dari amarah bapak yang terus mencercaku.

“Apa kamu bersedia … menikah denganku?”

“Untuk apa bertanya lagi soal itu!” sergahku jengkel.

“Ini bukan tentangku, tapi Naya. Apa kamu bersedia menjadi Ibu untuknya? Menikah denganku berarti menerima Naya sebagai putrimu. Iya kan?”

“Tian, kamu ingin mempermainkanku atau apa? Sudah jelas aku tahu kamu punya ….” Aku urung melanjutkan kalimat, mengingat kami berada di tempat umum.

Kulihat sudut matanya yang berair, segera dia menyeka sebelum butiran itu jatuh.

“Jadi?”

Pertanyaan retorik Tian lama-lama membuatku kesal. Perlukah dia menanyakan pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan.

“Aku ingin kamu melakukan hal yang sama untukku, Inneke. Meyakinkanku.” Suara Tian begitu mengiba. Aku tahu ada beban yang ditinggalkan setelah perceraian, pada semua orang terutama Naya.

Aku mengatur napas, kuturunkan egoku sebelum masalah ini bertambah runyam. Bagaimanapun juga, Tian adalah seorang ayah yang akan mengkhawatirkan putrinya.

“Aku bersedia, Tian. Tak ada yang memberatkan hatiku untuk memilihmu, selain restu dari orang tua yang belum kudapatkan,” keluhku.

“Aku tak ingin ada yang tahu kita menjalin hubungan, sebelum resmi bercerai dengan Lisa. Karena, aku ingin mendapatkan hak asuh Naya. Aku tak sanggup kalau harus berpisah dengannya. Maaf, Ke. Bukannya aku membuatmu ragu. Tapi, di sini aku punya tanggung jawab sebagai ayah untuknya.” Tian nampak gelisah.

Aku harus mengerti apa yang dia rasakan. Sekarang aku tahu alasan, kenapa dia melarangku bermalam di sini. Tidak lain karena Tian ingin menjaga kehormatanku juga nama baiknya. Kuraih tangan kiri Tian, kugenggam sesaat lantas kulepas lagi. Kuisyaratkan dalam sunyi. Aku bersamanya apapun yang terjadi.

“Ayo Sayang, kuantar kamu pulang. Aku tak mau bapakmu semakin tidak menyukaiku. Karena aku membawa lari putri sulungnya.”

——

“Kamu mau ke mana?!” bentak Bapak saat aku berdiri di belakang pintu, hendak membukanya.

“Pergi liputan, Pak. Kemana lagi?” tegasku setelah memutar badan. Kini aku berhadapan dengan bapak yang tak menunjukkan gelagat baik.

Dari tempatku berdiri, kulihat ibu berlari dari dapur. Pasti beliau mendengar gema suara bapak yang bertanya, ke mana aku akan pergi. Aku sudah menerka bagaimana akhirnya, bapak akan melarang.

“Semalam sudah bapak abaikan laki-laki itu. Masih beraninya datang ke mari menjemputmu. Mikir toh, Nduk* bapak ini ndak dianggap sama dia. Laki-laki seperti itu yang kamu kejar, suami orang. Kamu bisa dapat yang lebih baik dan lebih jelas asal-usul keluarganya. Meski ndak sekaya dia!”

“Bapak salah. Harusnya bapak berterima kasih, karena Tian mau mengantarkanku pulang ke rumah ini. Kalau dia laki-laki tidak baik. Sudah tentu aku tak berdiri lagi di sini, Pak. Sekalipun dia masih beristri. Tian ndak pernah berbuat macam-macam padaku! Apa baik dan ndak baik dalam perbandingan bapak hanyalah tentang status jejaka atau duda?” sanggahku lantang.

Seumur hidup, baru sekali ini aku membantah bapak.

Wis toh, Pak. Jangan berdebat. Malu didengar tetangga. Kamu juga Inneke, ibu ndak mau kamu dianggap merebut suami orang. Coba pahami, Nak.”

Bujukan ibu tak membuatku bergeming. Ingin rasa hati menyanggah. Tetapi, mulutku tak kuasa berucap lagi. Lebih baik kuakhiri perdebatan sebelum lebih banyak hati yang terluka oleh ucapan kasar.

Kuseka air mataku sebelum pamitan. “Aku pergi dulu, Pak, Bu. Mau liputan ke lokasi banjir.”

Saat kubuka pintu, Tian berdiri menyandarkan tubuh di badan mobil. Menatapku dengan senyum yang dibuat-buat. Dia pasti mendengar apa yang terjadi barusan. Ini benar-benar sulit, untuk kami berdua.

Tanpa banyak kata, Tian membukakan pintu untukku. Gegas, kami berdua menuju lokasi banjir. Lima menit yang lalu, sudah ada pesan masuk dari temanku yang akan memandu kami. Teman semasa SMA yang kini berprofesi sebagai fotografer freelance, sengaja kuhubungi untuk meliput bencana banjir di daerah asalku.

“Terima kasih, Ke,” ucap Tian.

Dia menyadarkanku dari banyak ilusi yang tergambar. Aku menoleh padanya, yang duduk di sebelahku.

“Untuk apa?” tanyaku.

Tian tersenyum, kali ini terlihat tulus.

“Kamu sudah membelaku di depan orang tuamu. Yakinlah, setelah aku berpisah dengan Lisa nanti. Kita akan sama-sama memantaskan diri untuk membangun ikatan suci. Apa kamu yakin, orang tuamu akan memberi restu, satu saat nanti?”

Sorot mata Tian melukiskan sebuah pengharapan padaku. Aku tak bisa menolaknya. Tentu, aku akan berusaha meyakinkan bapak dan ibu.

“Aku mencintaimu, Tian,” ucapku meyakinkannya.

Setiba di lokasi yang kami tuju, bertemu, dan berbasa-basi ringan dengan temanku. Aku dan Tian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, membasahi kaki dengan genangan air setinggi 50 centimeter.

Berkunjung ke lokasi pengungsian yang jaraknya cukup jauh. Aku mewawancarai warga yang rumahnya tergenang banjir, bak mengobrol santai dengan tetangga. Nama bapak cukup dikenal oleh masyarakat sekitar, sebab tak sedikit warga yang bekerja di industri batik rumahan milik bapak. Tentu memudahkanku berbaur.

Sedang Tian, mengambil-alih tugas berbincang dengan lurah setempat, yang tiap hari ada jadwal berkunjung ke pengungsian.

Menjelang waktu sholat ashar, kami mengakhiri liputan. Bertiga dengan temanku, membeli makan siang yang tertunda.

“Banjir tahun ini, lebih parah dari tahun lalu, Ke,” kata temanku di sela menyantap makanannya.

Aku mengangguk.

“Curah hujan tinggi dan merata ditambah drainase yang kurang lancar saya tengarai sebagai penyebabnya,” duga Tian.

“Tahun lalu, banjir terjadi karena permukaan air laut naik. Apa tahun itu hal itu berpengaruh juga?” tanya temanku pada Tian.

Tian harusnya mendapatkan informasi lengkap dari pak lurah. Aku cukup menyimak.

“Land subsidence penurunan permukaan tanah juga bisa terjadi di sini. Sayangnya, sampai sekarang belum ada pemberitahuan resmi perihal ini, dari lembaga terkait.” Tian memaparkan.

“Setahuku, faktor penyebabnya ada banyak. Iya kan?” Aku menimpali.

“Benar sekali. Salah satu penyebab adalah penggunaan air bawah tanah, sumur bor misalnya. Banyak bangunan beton juga membuat berat. Daya dukung tanah tidak kuat. Jadi permukaannya turun. Laju penurunan Jakarta rata-rata sebelas senti meter, sedangkan Semarang khususnya bagian utara sembilan sentimeter per tahun.” Tian memaparkan informasi yang dia tahu.

“Tian apa sudah ada data pasti soal ini?” tanyaku kemudian.

“Pemberitahuan resminya belum. Jadi, kita belum punya data pendukung. Ada masalah apa, Ke?”

Aku menggeleng.

“Maaf ya, aku harus segera pergi. Beberapa foto yang bisa kalian sertakan, sudah aku kirim ke email Inneke,” ucap temanku sebelum bangkit dari duduknya. Menyalami kami berdua lalu melangkah pergi.

“Baiknya nanti kubuat esai* saja ya, Tian?” Aku minta pendapat Tian sembari membaca coretan hasil wawancara.

“Boleh, ide yang bagus. Kamu paham kan, syarat sebuah esai yang ideal?”

“Terus saja meledekku!” sergahku tidak terima.

Tian tertawa kecil. Air mukanya menunjukkan bahagia yang tertahan. Bahagia kami.

“Apa coba. Jujur saja, aku sendiri kurang bisa netral dalam menulis esai,” ungkap Tian.

“Oh, pantas saja kamu bertanya padaku. Mau mencontek?”

“Ih, tidaklah. Aku kan redaktur, masa iya mencontek teknik dari penulisnya.”

“Kalau begitu, coba beritahu aku. Bagaimana sebuah esai yang ideal menurut kacamata kamu?” Aku menantang Tian.

“Sebuah esai yang ideal, bersifat netral, ada fakta, data, teori juga solusi pendukung. Katakanlah solusi itu harapan yang bisa dicapai.” Tian menerangkan.

“Temanku yang biasa nulis esai juga bilang begitu,” tegasku menyetujui.

“Teman yang mana?” sergah Tian dengan sorot maja tajam.

“Teman di kantor.”

“Dan menurutku, sumber bencananya entah banjir atau apapun itu, berasal dari—“

“Manusianya itu sendiri.” Aku memotong kalimat Tian.

“Kamu benar. Bencana terjadi karena kerusakan alam yang disebabkan tangan manusia. Jangan lupa masukkan itu dalam esai yang kamu buat. Semoga manusianya sadar kalau alam itu bertasbih pada Rabb-nya.”*

“Baiklah, aku paham,” kataku menyudahi obrolan kami.

Baskara condong ke barat, sekejap langit akan gelap.

“Ayo, kuantar pulang lebih dulu,” ajak Tian.

Segera, laju kendaraan Tian menempuh jarak kembali ke rumahku.

“Pulanglah, Tian. Aku nggak apa-apa. Bukan waktu yang tepat menemui Bapak,” pintaku agar Tian segera kembali ke hotelnya.

Tian menurut, mobil yang dia tumpangi berputar arah setelah aku turun. Baiknya Tian tak berlama-lama ada di sini, untuk sementara waktu.

Kuembuskan napas panjang dua kali sebelum memutar pegangan pintu.
Seperti yang kuduga, bapak dan ibu duduk di kursi tamu, menungguku.

“Assalamualaikum,” ucapku.

Hanya jawaban salam dari ibu yang terdengar di telinga. Kulangkahkan kaki menuju kamar, saat ini tak ada niatan membicarakan apapun dengan bapak.

“Inneke, tunggu!” Bapak mencegahku.

Aku memutar badan dengan enggan.

“Sekarang kamu pilih, bapak dan ibumu atau laki-laki itu?”

—- Bersambung PoV Tian—

Pembahasan Bagian Lima Belas: Esai
NB:
~Nduk: Sapaan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa
~Esai: adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Esai
~“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia, supaya Dia mencicipkan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)” (QS. Ar-Rum : 41-42)

 

Bagian lima belas ditulis oleh Yuke

8 KOMENTAR