Kulirik jam meja yang bertengger di atas lemari kecil berbahan plastik, sisi sebelah kiri kamarku. Tinggal di sebuah rumah kosan, sudah pasti tidak banyak barang yang aku punya. Pun, aku harus bisa hidup mandiri, jauh dari sanak saudara dan orang tua. Merantau, untuk mewujudkan cita-citaku menjadi seorang penulis.

Bagiku, menulis bukan sekedar bercerita, memberi informasi, apalagi menulis untuk mendapatkan uang. Silakan katakan aku munafik atau terlalu naif. Toh, kenyataannya, aku tidak mengharapkan semua itu.

Satu pegangan yang kugenggam erat di kedua tanganku. Aku menulis untuk berbagi kebaikan. Rasa bangga bercampur haru, kala aku membenak, “Satu hari nanti, entah tahun berapa. Aku menikah, punya anak-anak, kemudian mereka beranjak dewasa. Sekalipun aku telah tiada, aku tetap terkenang di hati mereka. Karena, perwujudan fisik dari buah pemikiranku tertuang dalam bentuk buku.” Ya, sesederhana itu latar belakang kenapa aku ingin menjadi penulis.

Tak terasa hari sudah berganti, aku belum juga ingin memejam. Sedang jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Mengedit naskah memang butuh konsentrasi penuh, juga waktu yang tidak singkat. Setiap kalimat, paragraf, tanda baca, penggunaan kata baku dan tidak baku. Harus benar-benar diperhatikan. Belum lagi kalau harus menilik esensi cerita, plothole, juga jalan cerita. Sungguh, itu sangat melelahkan.

Ketika bersiap menutup lembar pekerjaan, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk dari email. Kuintip pemberitahuan. Lantas aku tersenyum kecil melihat siapa yang mengirim pesan, Septiannaya.***

“Apa yang dia kirim malam-malam begini?” pikirku.

Belum sampai kubuka email darinya, tawaku seketika pecah.

Dear Inneke,

Ini cerbungku untuk bahan kita diskusi hari Rabu.

Selamat tidur.

Maaf ya … aku tidak bisa menemani.

Have a lovely dream my dearest Inneke

Thanks

Tian

Astaga. Dasar laki-laki. Di mana tempat pasti suka modus. Tidak pandang, apa latar belakang pekerjaan ataupun pendidikan. Tadi siang mengkode dengan pertanyaan retoris tentang jadi yang kedua. Gila saja, misal ada perempuan yang dengan senang hati mau dan menerima. Aku yakin, kalau ada pun, pasti perempuan itu punya alasan kuat, yang menutup logikanya menolak dimadu. Kalau aku lebih baik sendiri daripada harus berbagi.

Tian sudah mulai berani mengkode. Sebelum dia bertambah GR stadium akhir. Aku harus mendeklarasikan prinsipku padanya. Sejenak aku berpikir apa yang harus kukatakan, sebagai balasan atas isyarat yang dia tunjukkan.

Kantuk yang belum juga menyapa, membulatkan tekadku untuk membalas pesannya sekarang juga. Kubuka work menulis, kuketik sebuah pernyataan implisit dalam bentuk puisi. Pertama-tama, aku harus menuliskan subyek yang tak kalah menarik.

Teruntuk Tian,

Sang pujangga wanna be

Mimpiku mendadak kelabu kala kamu menyapaku

Puisi Akrostik*

By Inneke

Indah dunia tak lantas membuatku terlena

Nista, itulah gambaran ragaku yang fana

Noda dan dosa, pasti ‘kan menyertai tiap jalinan cinta

Entitas rasa seringkali membawa petaka

Karena cinta, manusia acapkali lalai pada norma dan agama

Endapan filantropi-ku, hanyalah untuk dia, yang mampu mengikatku dalam simpul bersahaja

Lewat puisi ingin kutegaskan. Bahwa aku, bukanlah perempuan yang berniat menjalin hubungan. Bukan tidak mau. Hanya saja banyak yang harus kupertimbangkan sebelum memilih pasangan, apalagi menjalin kisah yang namanya pacaran. Orang tua telah menua, adalah alasan terbesarku untuk sendiri. Sampai aku bisa membahagiakan mereka.

—-

“Bertemu denganmu adalah kisah terindah yang pernah ada, Ke. Jangan hapus semua itu. Demi kita,” ucap Tian saat dia memeluk ragaku bersama luapan cintanya.

Tak berapa lama, Tian mengurai lilitan tangannya di tubuhku. Disentuh daguku untuk memandang mata teduhnya. Tatapan yang meruntuhkan tembok kokoh yang kubangun untuk membentengi hati dari mencintai. Mata yang sama itu, kini menusuk hatiku. Menikam dan menyiram air garam. Menambah tak tak terkira perihnya.

Tian, apa yang kamu lakukan padaku? Tidakkah kamu merasa bersalah telah berbohong? Atau memang, aku bukanlah orang yang pantas mendapatkan kejujuranmu?

Tak terucap satu katapun untuk menyuarakan jerit yang kutahan. Apa maksud semua ini, Tian? Apa?

Hanya air mata yang tiada mau berhenti. Antara aku dan Tian. Menangis.

“Siapa aku, Tian? Siapa yang kamu kamu sebut, ‘kita’? tanyaku dengan suara tercekat.

“Kamu, perempuan yang kucintai. Tolong jangan pergi. Aku tak ingin bahagia yang kurasakan saat bersamamu, hilang begitu saja,” bujuk Tian.

Aku tak mampu memberi jawaban. Sekali lagi, hati terdalamku mengiyakan. Aku pun tak ingin kehilangan. Cintaku telah tertambat, dan hatiku telah bertaut. Namun ….

“Inneke, tolong jangan pergi. Tetaplah di sini,” pinta Tian sekali lagi.

Dadaku semakin sesak menahan gumpalan rasa yang menghimpit, mendorongku ke tepi jurang kekecewaan.

“Sayang, apa kamu tak mencintaiku?” Tian berurai air mata. Tak ubahnya aku yang sudah kepayahan ini.

Masihkah perlu aku menjawab pertanyaan itu, Tian. Masihkah perlu?

Tian menarikku dalam pelukannya lagi. Memelukku lebih erat. Seolah aku akan pergi. Padahal, aku tak punya daya untuk melangkah. Selain berdiri mematung tanpa tujuan dan arah hidup. Aku harus bagaimana?

“Ke, aku tidak akan membiarkankanmu pergi. Tetaplah di sini. Aku mencintaimu, dan tidak akan menjadikanmu yang kedua.”

Gelenyar rasa bahagia menelusup ke rongga dada. Akankah kita akan bersama Tian? Kita, tanpa ada orang lain?

Tetapi, bagaimana dengan ….

“Aku akan menceraikan Lisa, asal kita bisa tetap bersama,” ucap Tian.

Kulingkarkan tanganku di tubuhnya, membalas pelukan laki-laki yang kucintai. Dalam dekapan, kuhirup aroma yang selalu kurindu saat jarak memisahkan.

“Ke, maukah kamu menikah denganku?”

Tian mengecup puncak kepalaku berkali-kali. Aku tak menolak perlakuannya.

“Bolehkah aku egois? Karena aku bersedia.”

—- Bersambung PoV Tian—-

Pembahasan Bagian Lima: Puisi Akrostik

NB: Puisi Akrostik

Kata akrostik berasal dari bahasa Prancis acrostiche dan Yunani akrostichis.

Akrotik: kata benda, yang artinya sebuah sajak.

Yang paling penting dalam membuat Puisi Akrostik adalah : mengait-ngaitkan huruf awal dengan gagasan yang akan kita kemukakan. Pilih satu, dua atau berapapun kata yang ingin kita buat puisi. Susun huruf awalnya ke bawah. Puisi ini terikat dengan rima yang sama. Contohnya, silakan baca lagi puisi yang ditulis Inneke.

 

Blora, 27 Februari 2019

Bagian Lima ditulis oleh, Yuke

13 KOMENTAR