“Maaf membuat Anda menunggu. Mari kita berbincang di dalam. Silakan masuk, Mbak Inneke.”

Dari tadi aku menunggu waktu untuk mencercamu. Duduk di sini menahan marah yang meluap. Aku marah. Kamu membohongiku, Tian.

Aku mengikuti langkah Tian dengan tangan mengepal. Jika saja menonjok orang, tidak berakhir dengan hukum pidana. Sudah kutumpahkan semua emosiku sekarang. Geram. Namun, masih kutahan segala rasa yang menyesakkan dada ini. Menurut saja aku mengekori langkahnya masuk ke ruang redaktur dengan nama tertempel di daun pintu, Septian Rahadi.

Tian, kenapa kamu tak pernah mengaku? Bersandiwara dan berkata kamu hanya penulis, sama sepertiku. Hh kamu mempermainkanku.

“Inneke, aku bisa jelaskan. Tolong duduklah,” pinta Tian seraya menenggelamkan pundakku.

Aku terduduk paksa. Masih diam seribu bahasa, tanpa bisa menahan aliran bulir bening yang menerobos bendungan. Sebodoh inikah aku? Sampai membiarkan cinta yang tidak kuingini terus ada dan bersemi terlalu lama.

Tian menarik satu kursi diskusi, lantas duduk berhadapan denganku.

“Tolong jangan marah padaku. Aku tak menceritakan, apa sebenarnya jabatanku, karena kuingin berteman denganmu sebagai penulis.”

“Terus saja berkilah, Tian,” omelku dalam hati.

Aku mencebik, memalingkan wajah ke samping. Kutarik napas panjang sembari mengusap kasar air mataku. Kenapa harus mengalir untuk seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa? Sungguh, sekarang ini aku merasa perempuan paling bodoh. Apa yang kutangisi? Tidak ada yang pasti. Selain, kekecewaan yang mencekik.

“Untuk apa aku marah?” kataku bohong.

Batinku tertawa mengejek, sudah berapa kali aku menipu diri sendiri? Berkata apa yang tidak nyata. Seolah tegar, padahal cahaya hatiku memudar.

“Benarkah? Tapi aku tetap ingin meminta maaf. Maukah kamu memaafkanku?” tanya Tian.

Aku mengangguk.

“Sekarang senyum,” pinta Tian seraya menarik sudut bibirnya sendiri.

Aku mengukir garis tipis, mencoba senyum. Terpaksa kulakukan untuk menghindari kebodohan yang lebih dari ini. Dalam diam aku merutuk sejadi-jadinya. Bagaimana bisa, aku berharap, pada laki-laki yang belum kutahu siapa dia. Latar belakangnya saja aku tak tahu, tapi menjatuhkan diri dalam buai perhatiannya. Melupakan kenyataan bahwa aku dan Tian bukan siapa-siapa.

Mirisnya, pertemanan sesama penulis pun tak pernah nyata. Karena dia tidak sepertiku. Hanya aku yang membuka diri, sedang Tian adalah insan yang tak mengungkap kebenaran padaku.

“Kamu mau kan, tetap seperti dulu?” Tian membujuk.

“Seperti dulu? Maksudnya?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Jangan ada yang dipermasalahkan. Aku tetap Septian Rahadi yang kamu kenal sebelum ini. Jika boleh, aku ingin tetap sering bertemu untuk sekedar mengobrol.”

“Kalau itu maumu,” jawabku singkat.

Tidak akan ada lagi sama, Tian. Apa yang kamu pinta akan sama? Kalau faktanya seperti ini, kita bergerak dalam kenyataan semu. Palsu. Kamu tak pernah membiarkanku hadir dalam hidupmu.

“Baiklah. Aku senang mendengarnya. Sekarang kamu mau ke mana? Ke kafe atau pulang? Mau kuantar?”

Aku bangkit, kuselempangkan tali tas di pundak. “Aku bisa pulang sendiri!” tegasku.

Wajah Tian berubah pias. Kutahu dia pasti kecewa atas penolakanku. Biarkan saja. Apa yang dia rasakan tak akan lebih sakit, dari apa yang kualami.

“Oh ya, Tian. Sepertinya aku akan sibuk beberapa hari ke depan. Mungkin kita bisa menjeda waktu bertemu. Agar aku lebih fokus menulis cerbung. Banyak revisian,” dalihku untuk menghindar.

“Kita bisa membahas revisi bersama, Ke?”

“Kurasa nggak perlu. Aku ingin lebih fokus. Pergi dulu ya, selamat sore.”

Aku melangkah pergi tanpa menunggu jawaban darinya. Bergegas pulang, menyembunyikan sayatan yang kian terasa perih.

Sampainya di kamar kos, kutumpahkan semua sakit hati yang kurasa. Karena, tak ada yang bisa kuajak bicara selain aksara yang menemaniku dengan setia. Mungkin, deretan kata tak akan mengkhianati kepercayaan yang ada. Kutulis senandika untuk melukis getir yang membuatku dilema.

Judul; Dilema

Jenis karya; Senandika

Di masa aku dan kamu saling bertukar sapa. Kita mengenal tanpa sengaja. Siapa sangka hatiku tak mau berpaling sekejap saja. Terus menatap lamat padamu, seseorang yang diam-diam kusuka.

Seiring waktu, kita sering berjumpa. Membicarakan aksara-aksara yang mendekatkan kita. Telah terukir banyak cerita. Bahkan, ketika sederet duka menghampiri raga. Aku tetap bahagia. Sebab, kamu selalu ada.

Tahukah kamu, ada rasa yang singgah di dalam sana. Lorong-lorong hati yang gelap bak diterangi cahaya. Lalu kuakui dalam diam, aku jatuh cinta.

Namun, sedetik lalu cahaya itu sirna. Hilang tak berbekas meski setitik rona. Dusta adalah belati tajam yang menusuk dada. Kini hatiku perih berbalut kecewa.

Masihkah bisa kusembuhkan lara yang menggumpal dalam raga. Meraba rasa yang kian terasa. Seusai mata ini tahu kamu siapa. Akankah, hakikat rasa akan tetap sama seperti sebelumnya?

Inneke

July, 2017

Tak membaca ulang karya tulisku. Segera kukirim pada redaktur, untuk mengisi kekosongan rubrik sastra yang belum kusetor hari ini. Di dalam subyek email tak lupa kusertakan alasan dan permintaan maaf.

Pada Pak Erwin,

Maaf, cerbung saya belum selesai, Pak. Sebagai gantinya, mungkin senandika ini bisa dijadikan pilihan untuk mengisi kekosongan rubrik.

Terima kasih atas pengertiannya.

Salam

Inneke

—–

“Inneke, kamu ikut rapat kan?” tanya temanku sesama penulis yang duduk di meja sebelah, namanya Anes. Aku cukup akrab dengannya.

Aku mengangguk lalu menjawab, “Penulis baru sepertiku mana mungkin berani absen.”

“Eh, jangan merendah. Kamu termasuk beruntung,” timpal penulis lain yang duduk beradu punggung denganku. Baru-baru ini, kutahu namanya Devi.

“Beruntung karena akhirnya bisa diterima jadi penulis tetap. Itu maksudmu kan?” Aku menegaskan.

“Bukan, karena karyamu dikoreksi langsung sama Pak Septian,” sanggah Devi.

“Iya ih, karyaku aja belum pernah diedit sama Pak Tian,” keluh Anes dengan bibir mengerucut. Nampak sebal.

“Apa bedanya Pak Tian dan Pak Erwin? Sama-sama editor ini,” kataku abai.

Devi sudah berdiri di sampingku, mendekap map yang pasti berisi naskah-naskah. Kulirik Anes pun mulai merapikan mejanya.

“Pak Tian kan baik, Ke. Ramah sama semua orang. Dan lagi … dia tak membedakan dengan siapa sedang bicara.”

Aku mengernyit seraya membenak, “Jadi, sikap Tian memang baik, bukan cuma padaku? Berarti aku yang terbawa perasaan? Bodoh sekali.  Harusnya aku tak bermain hati dengan Tian.”

“Huus jangan ngomongin, Pak Tian. Dasar mulut nyinyir kamu, Dev,” cerca Anes.

“Kok nyinyir sih, apanya yang salah?”

“Udah, udah. Mau ke ruang rapat? Atau berantem di sini!?” gertakku melerai Anes dan Devi.

Dua temanku itu sama-sama melengos.

“Ayok ke ruang rapat. Jangan sampai Pak Erwin ada di sana lebih dulu,” ajakku pada mereka.

Saat kami bertiga masuk ke ruang rapat, kulihat Tian sudah hadir. Anes dan Devi mengambil kursi yang biasa mereka tempati, di antara bangku tunggal yang kerap diduduki Pak Erwin. Aku bingung harus duduk di mana. Sebab, belum ada konfirmasi, karyaku dipegang siapa. Dua redaktur lain juga sudah berkelompok dengan tim penulisnya. Sementara aku?

“Inneke, kenapa masih berdiri di sini?” Suara Pak Erwin yang tiba-tiba berdiri di sebelahku.

“Saya, ikut tim siapa, Pak?” tanyaku lugas.

“Naskahmu ditangani Pak Tian seperti karya-karyamu sebelumnya. Pak Tian ingin memegang hasil tulisanmu. Agar konsisten katanya,” tutur Pak Erwin.

Seketika, Indra pernapasanku kesulitan menghirup oksigen. Kemarin, aku berdalih, mau fokus menulis untuk menghindari Tian. Sekarang, takdir mengharuskanku berinteraksi dengan Tian. Mau tak mau aku mesti bicara dengannya.

Ketika sekretaris redaksi mulai membuka rapat. Dengan langkah malas, kuhampiri kursi kosong di sebelah Tian. Terpaksa kubalas senyumnya saat hendak duduk.

Sepanjang jalannya rapat. Aku mengabaikan keberadaan Tian. Memang sengaja. Agar dia pun tak banyak bicara. Sesekali Tian meminta pendapatku tentang tema, kujawab singkat karena masih kesal.

“Mbak Inneke, bisa tinggal sebentar setelah rapat usai. Ada beberapa tulisanmu yang perlu diperbaiki. Terlebih lagi, saya tidak setiap hari datang ke kantor pusat. Jadi, saya ingin pembahasan lengkap hari ini juga.” Tian berucap cukup keras, tentu aku tak bisa menolak. Di posisi ini, aku dan dia adalah penulis berhadapan dengan editor.

“Baik, Pak,” jawabku.

“Ayolah, Ke. Profesional juga penting. Lagipula, untuk apa kamu marah? Belum tentu Tian ada rasa,” logikaku mengingatkan.

Jika dia membohongiku, bagaimana mungkin aku bisa menyampaikan pesan Bapak. Tian memang baik ke semua orang. Harusnya aku tidak … berharap apa-apa padanya. Sampai terlintas di kepalaku memintanya menemui bapak. “Sadar diri Ke, sadar. Kamu yang salah mengartikan sikap baiknya.”

Sepuluh menit yang lalu rapat usai. Tinggal kami berdua yang masih ada di ruang rapat redaksi. Aku dan Tian masih diam, menatap layar komputer masing-masing.

Apa yang mau dibahas ini? Dia tak memulai obrolan.

“Inneke, senandika yang kamu kirim Jum’at lalu. Kenapa seperti ungkapan hati atau semacamnya, menurutku.” Kalimat pertama yang meluncur dari mulut Tian, sukses membuatku mati kutu.

Astaga. Bodohnya aku. Kujawab apa sekarang? Memalukan sekali. Berpikir, Ke. Berpikir, berkilah. Cari alasan yang logis dan tidak dibuat-buat.

“Apa benar begitu. Menurutku, biasa aja.” Aku tidak bisa melontarkan alasan. Kehabisan akal.

“Baguslah. Karena kecewa itu tidak ada obatnya. Meskipun, yang membuat kecewa sudah meminta maaf.” Tian seperti menganalogikan dirinya.

“Iya, ngomong-ngomong. Mana yang harus kuperbaiki?” Aku mengalihkan pembicaraan. Tidak perlu diperpanjang, dari mana kudapatkan inspirasi menulis senandika yang berjudul dilema itu.

Tian membuka tas ransel yang bersandar di kaki kursi. Mengeluarkan tas kertas yang aku hapal wadah apa itu, seikat bunga. Bukan sekali ini Tian membawakannya. Tak cuma itu, dia pun mengeluarkan sekotak coklat favoritku dari dalam tasnya.

“Yang harus diperbaiki rasa marahmu padaku. Aku tak ingin kamu bersikap begini. Dingin. Ini untukmu … jangan menolak, Ke. Anggap permohonan maafku,” kata Tian seraya menungguku meraih apa yang ada di tangannya.

Kuambil tidak ya?

“Inneke …,” panggil Tian.

“Dasar perayu.” Sebal aku dengan sikap manisnya.

“Terimalah.”

Ragu-ragu kuambil alih pemberiannya. Jangan tanya aku suka apa tidak? Tentu saja aku suka. Dari dulu, aku terpikat dengan perhatiannya, sikap manis dan rasa peduli yang Tian tunjukkan, menggoyahkan pendirianku untuk tidak menginginkan status pacaran.

“Kamu tidak marah kan?” tanya Tian.

“Untuk apa?” Kujawab tanyanya dengan pertanyaan lain. Sebentar aku ingin menahan senyum. Tetapi tak bisa. Hatiku luluh dan memaafkannya dengan mudah.

“Untuk apa yang tidak kamu suka. Kalau ingin marah silakan saja. Menghukumku juga boleh. Asal ….” Tian menggantung kalimat.

Aku menggumam. Menunggunya melanjutkan pernyataan.

“Asal kamu tidak menghindariku dengan berpura-pura sibuk.”

“Ish, jangan GR! Aku nggak marah. Nggak ada alasan untuk marah.”

Tian tergelak. Sedang aku mengatupkan bibir, menyembunyikan malu. Kenapa dia bisa tahu, kalau aku berusaha menghindar. Ini benar-benar menyebalkan.

Tian memang sering membuatku kesal, tapi aku suka. Sikapnya yang tetap baik seperti sekarang tidak bisa kutampik. Pun, aku tak mampu memungkiri kalau semakin mencintainya. Andai saja dia bisa merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Obrolan kami terputus saat mendengar pintu terbuka.

“Maaf mengganggu, di luar ada Pak Wongso ingin bertemu dengan Pak Tian.” Pemberitahuan sekretaris redaksi mengejutkanku.

“Apa ada masalah?”

—- bersambung PoV Tian —-

 

Pembahasan Bagian Sebelas: Senandika

Senandika adalah wacana seorang tokoh dalam karya sastra dengan dirinya sendiri, di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut. Atau untuk menyajikan informasi yang  diperlukan pembaca atau pendengar. Sumber: Kamus Besar Bahas Indonesia.

 

Ditulis oleh Yuke

 

Cepu, Home sweet home

23 Maret 2019

9 KOMENTAR

  1. Kak Fi kurasa sudah biasa menjalin kalimat sehingga ceritanya bisa mengalir walaupun panjang. Pergolakan hatinya juga dapat dan aku bisa menikmati ceritanya.😍

    Oya, senandikanya aku suka. Ya, meski dibilang aku enggak minat pada puisi dan sejenis, tetapi aku berusaha mengerti dan maunya sih bisa juga. 😉 Namun, aku berusaha fokus pada apa yang aku suka dan nyaman saja deh. Asal serius aku jalani, kurasa enggak akan ada yang sia-sia. *Eh, memotivasi diri sendiri ceritanya nih.😂😂

    Karakter Tian bikin Ibbon terusik tuh. Aku memahami sekali karakter kayak Tian. Huuuuaaaaa, ada yang salah dengan isi kepalaku. Maafkan aku, Ibbon. Bip bip bip, sadarlah sadarlah Ana. Ibbon sedang jatih cinta pada cowok di sekolahnya.👻✌😝

    * sekadar
    * cokelat
    * lagi pula (dipisah)

    Yang saltik (salah mengetik) sudah biasa, aku pun tanpa sadar kerap melakukannya. Manusiawi. Seidaknya kita tahu kalau kita salah. Itu aku loh, yang lain sih bebas. Punya pemikiran sendiri.👻👻👻