“Tian,” panggilnya lirih.

Mendekapku erat, akhirnya Inneke buka suara. Gadis yang tingginya tepat di daguku mendongak. Jejak tetesan bening itu membuat wajahnya sungguh menggoda.

Ah, aku tak kuasa lagi meredam gelora. Berteman tanpa ada sentuhan sebagai prinsip yang kupegang, kini lolos dari genggaman. Menunduk, aku memagut bibirnya. Mengikuti gejolak jiwa, aku mengembara menikmati sensasi kehangatan terpautnya hati dua insan.

Tersipu, Inneke kembali membenamkan kepalanya di dadaku. Di sana dia akan mendengar semuanya, alunan primitif yang semakin liar berdetak demi sebuah rasa purba yang bernama cinta. Mengurai pelukan, aku mendudukkan dia di tepi dipan. Mengambil kursi tanpa sandaran aku duduk posisi berhadapan.

“Ke, aku di sini untuk mendengarkanmu. Katakanlah!”

Dia tadi memanggilku, mungkin akan menjawab tawaranku atau bisa jadi menolaknya.

“Tian,” ucap Inneke menyebut namaku sekali lagi. Mendengarnya jantungku berpacu dengan kecepatan maksimal.

“Aku tidak pernah menyangka kalau pertanyaanmu tentang menjadi yang kedua itu beneran. Aku pikir kamu hanya bercanda.”

“Aku suka kamu sejak pertama kita bertemu. Cinta hadir tanpa direncanakan. Dia mencari jalannya sendiri. Rasa itu menemukanmu tanpa pernah meminta izin dariku. Ke, yakinlah cintaku padamu bukan fatamorgana belaka. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”

“Tian … em … tapi aku bingung bagaimana akan menjelaskannya pada orang tuaku,” lanjutnya.

“Menjelaskan tentang?”

“Tentang hubungan kita … tentang statusmu … em … tentang perceraianmu.”

Pecahan kristal meluncur dari mata indahnya. Dengan ujung jari aku menghapusnya.

“Tian, tahukah kamu …?” lanjut Inneke dalam isak tangisnya.

Menggeleng kujawab pertanyaan retorik itu.

“Ketika aku kecelakaan dulu, dulu di awal aku mengenalmu, orang tuaku pernah menanyakan hubungan kita.”

Inneke menghela napas.

“Bapak berkata, “Kalau Tian serius. Suruh dia menemui bapak!” Kedatanganmu juga ditunggu orang tuaku. “Bapak tunggu kedatangannya sebelum bapak dan Ibu pulang ke kampung,” pesannya waktu itu.”

“Lalu, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Mengapa kamu biarkan aku harus menerka isi hatimu? Mengapa kamu tidak memberiku ruang untuk menyatakan, bahwa aku mencintaimu? Kenapa, Ke?”

Rentetan pertanyaan itu tersembur, mencurahkan isi hati yang kupendam selama ini. Kegalauanku dalam bersikap, bertahan atau bercerai juga tak lain, karena Inneke tak pernah memberikan sinyal padaku untuk melangkah lebih jauh.

“Iya, kesalahanku memang fatal. Andai bertanya padamu waktu itu, aku akan mudah mengetahui pria macam apa yang kucintai.”

“Jadi, benar kamu mencintaiku?” Senyumku mengembang atas pengakuan yang tidak dia rencanakan.

“Masihkah perlu aku menjawab pertanyaan itu, Tian. Masihkah perlu?” Memukul gemas dadaku wajah Inneke bersemu merah jambu.

Menggenggam tangannya aku menghentikan pukulan.

“Baiklah jika itu maumu … Septian Rahadi, I love you,” pekik Inneke. “Puas? Sekarang kamu puas, Tian?”

Terkekeh aku mengecup tangannya. Bahagia.

“Terima kasih, Ke. Janji jangan pernah pergi dariku!”

“Entahlah, Tian. Bukankah … cinta tak harus memiliki.”

“Apa maksudmu, Ke?”

Baru membumbung membawa cinta aku dihempaskan.

“Tian, seandainya aku bersedia, itu berartikan kamu akan berpisah dengan Lisa. Apakah aku tidak egois namanya?”

“Jangan pernah berpikir seperti itu! Perceraianku memang sudah seperti bom waktu.”

“Kalian tampak bahagia. Keluarga yang sempurna.” Menunduk, Inneke seakan ingin menyembunyikan kegelisahan hati.

“Bersama Lisa aku tidak menemukan cinta. Kami menikah karena perjodohan keluarga.”

“Kamu bisa berkata seperti itu, tapi buktinya kalian punya anak.” Aku merasa Inneke tidak rela jika ada wanita lain sebelum dirinya.

“Ke, karena kita sudah dewasa, aku beri tahu kalau sebagian besar pria, menempatkan hubungan intim sebagai kebutuhan pertama yang harus dia berikan kepada pasangan setelah resmi menikah.”

Terdiam Inneke mendengarkanku. Namun, dia tak bisa menyembunyikan wajah merahnya.

“Kalian sering bertengkar?” Masih dengan nada sedih, ia mengalihkan topik pembicaraan.

“Ke, jujur aku tak ingin memonopoli kebenaran atas istriku. Keburukan dan kesalahan yang dia punya ,tak lantas menghapus perannya sebagai ibu dari anakku. Aku juga tidak lebih baik dari dirinya.”

Menatapku lekat seolah bola mata itu menuntut penjelasan yang lebih rinci. Menyudutkanku.

Aku kemudian memberikan contoh sebuah perselisihan yang pernah terjadi. Em … anggap saja aku sedang memberitahu Inneke apa yang kuinginkan setelah kami menikah nanti.

Aku menceritakan padanya peristiwa yang terjadi Kamis malam itu, malam di mana Naya belum terlahir di dunia.

Sepulang dari kantor aku sangat lelah dan butuh istirahat. Lisa yang tidak ada rencana keluar dengan teman-temannya menemaniku makan.

“Tian, bagaimana pekerjaan hari ini di kantor?” Aku belum memasukkan makanan ke mulutku Lisa sudah bertanya.

“Lumayan banyak pekerjaan.”

“Apa saja?”

“Pekerjaan mingguan karena besok deadline pengumpulan naskah.”

“Pekerjaan apa misalnya?”

“Lisa, apakah kita bisa makan terlebih dahulu, kita bicara setelah makan saja?” pintaku yang sudah mulai jengah.

Istriku menurut. Ia diam, tapi tak sampai lima menit dia sudah memulai lagi bercerita.

“Tian, tadi Mama telepon cari kamu. Katanya ponselmu mati.”

“Terima kasih, nanti habis makan aku hubungi mama.”

“Kira-kira Mama mau apa, ya?”

“Mana aku tahu Mama mau apa. Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau aku belum telepon balik? Akan kuberitahu setelah aku tanya Mama,” kataku dengan nada yang tak biasa.

Aku hanya ingin makan tenang, karena bagiku rumah adalah tempat istirahat. Susah sekali.

“Oh iya, kalau Mama ajak keluar hari Minggu seperti biasa, kamu bilang ke Mama untuk makan di restoran Jepang saja, ya.”

“Baik aku akan bilang ke Mama, tapi apakah tidak bisa kita makan dengan tenang?” pintaku untuk yang kedua kali.

“Baik jika maumu begitu.” Lisa menanggapiku dengan intonasi kesal. Ia menutup mulut, terdiam, sayangnya tidak bertahan lama.

“Tian, jangan lupa Sabtu ada acara di rumah Mami. Kita berangkat pagi-pagi,” katanya mulai bicara untuk kesekian kalinya, padahal aku sedang menyantap makanan.

“Aku ingat. Tolonglah, aku hanya ingin makan dengan tenang. Bisakah aku minta kamu diam? Sebentar saja, kita ngobrol nanti.” Datar, aku mencoba menahan emosiku yang mulai tidak terkendali.

“Ya ampun Tian, ada apa dengan kamu? Aku tahu kita nikah karena perjodohan apakah haram kalau aku bicara padamu? Aku ini istrimu. Kenapa kamu seperti ini? Aku pergi dengan teman-temanku kamu tidak suka. Aku di rumah kamu tidak mau bicara. Apa sih mau kamu?” teriaknya keras. Lisa meninggalkan meja

Lalu terdengar suara gelas pecah … PRANG!

“Lisa, kamu itu aneh! Aku tidak tahu apa masalahmu yang sebenarnya. Aku lelah pulang kerja dan ingin istirahat sebentar, makan dengan tenang. Kita bisa ngobrol nanti, malah kamu tidak mau berhenti bicara,” cerocosku tak mau kalah.

Membanting pintu, Lisa pergi meninggalkan rumah dengan mobil. Kubiarkan saja. Aku tahu dia ke rumah maminya. Benar dugaanku, setengah jam kemudian, via telepon papi dan maminya menceramahiku.

“Dasar manja sedikit-sedikit mengadu.” Aku menggerutu dalam hati.

Di saat seperti itu, aku teringat Ike. Jika lelah kuliah atau kegiatan, aku ke kosnya. Ia akan menyambutku dengan tersenyum dan menyajikan teh panas.

Duduk di sampingku Ike akan bertanya, “Banyak tugas ya, Mas? Capek tampaknya.”

Mendapatkan jawaban sebuah anggukkan, ia akan diam tidak bertanya lagi. Dia membiarkanku berusaha mencari kelegaan sendiri. Tidak berbicara ia memberiku ruang ketenangan, tanpa bising polusi suara.

Dia paham, di saat letih aku selalu menghindarkan diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun. Maka, Ike tidak pernah memancingnya, beda dengan Lisa. Ike setia menunggu keceriaan muncul di wajahku. Setelahnya, ia akan mengajakku kembali berkomunikasi.*

Ah, tentu saja bagian Ike tidak aku ceritakan pada Inneke. Aku menyimpannya sendiri, kenangan terindah dalam hidupku.

“Tian, terima kasih. Aku jadi belajar, tapi menurutku kalian hanya punya masalah dalam seni berkomunikasi saja,” komentar Inneke di akhir ceritaku.

“Iya termasuk komunikasi bercinta. Menyatukan raga, tapi tidak melibatkan jiwa. Hambar.”

“Ish, kamu larinya ngomongin itu.” Memprotesku ia nampak malu.

“Ke, aku tidak ingin mengumbar kehidupan ranjang atau vulgar. Aku mengajakmu menikah. Jadi, kamu juga harus paham agar kesalahan lama tidak terulang. Romantisme pasangan tidak terlepas dari service yang bergelora dan menyenangkan.”

Aku memberitahu salah satu hal yang diinginkan suami dari istri. Hobi Lisa keluar malam membuatku enggan tidur di kamar. Aku terganggu saat dia pulang. Menemani Naya menjadi pilihan. Hakku tidak terpenuhi sebagaimana mestinya.

Inneke hanya membisu. Malu.

“Ah, sudahlah kita tidak perlu membicarakannya sekarang. Ke, aku hanya ingin kamu tahu kalau bukan kamu penyebab retaknya rumah tanggaku. Bom waktu itu siap meledak kapan saja, ada kamu atau tanpa kehadiranmu.”

Aku terdiam menunggu reaksinya.

“Bagaimanapun juga, cinta  merupakan  kekuatan  yang  mampu  menarik  dua  orang  dalam  ikatan  perkawinan. Artinya, pernikahan akan kuat jika cinta mendasarinya. Aku mencintaimu, Ke. Menikahlah denganku.”

Aku menyampaikan pandangan betapa cinta penting dalam sebuah rumah tangga. Aku menyakinkannya, bahwa dia bukan pelakor seperti dalam drama sinetron keluarga.

“Aku juga mencintaimu Tian, tapi … untuk menikah denganmu aku nggak tahu. Apakah aku mampu bertahan seperti dulu.”

“Seperti dulu?”

“Ketika aku tahu kamu membohongiku tentang pekerjaanmu.”

“Maafkan aku, Ke. Jika kamu anggap aku berdusta, aku terima, tapi bagiku tidak. Kamu tahu aku juga penulis sepertimu dengan nama pena Ti-Tian Hati. Pekerjaan redaktur kujalani tapi menjadi penulis adalah passion-ku.”

Ya, aku teringat kejadian di kantorku Jum’at sore, medio tahun 2017.

—–

Jum’at siang itu jadwalku untuk diskusi dengan Inneke, tapi tiba-tiba papa datang. Menjemput untuk sholat, beliau juga mengajakku makan. Jadi, aku mengirimkan pesan pada cerpenis itu kalau aku tidak bisa datang. Ada meeting dadakan kupakai sebagai alasan.

Kembali ke kantor cabang tempatku mengabdi sebagai redaktur papa mengajak diskusi bagaimana keadaan perusahaan. Dalam kesempatan ini, aku bercerita tentang karya-karya Inneke. Secara objektif aku memberikan penilaian yang bagus, terlepas dari rasa rindu yang menuntut untuk bertemu.

“Pa, di kantor pusat ada cerpenis berbakat, Inneke namanya. Tian mengoreksi tulisannya.”

Aku mulai membahas gadis yang bayangannya sering hadir tanpa mampu aku halau, walaupun kami tidak ada ikatan apa-apa, selain urusan penulisan.

“Papa bangga, sebagai redaktur kamu jeli melihat potensi. Papa juga memiliki pendapat yang sama denganmu. Jujur saja, selain cerbung yang di tulis oleh Ti-Tian Hati, papa selalu menantikan cerpennya setiap penerbitan. Penulis-penulis yang mampu menghadirkan cara mengemas cerita yang berbeda.”

Hatiku berbunga mendapatkan apresiasi dari papa tanpa beliau tahu sedang memujiku.

“Tian, papa sudah lama bergelut dengan dunia jurnalistik. Jadi, sebagai penikmat karya sastra, papa menilai bahwa melalui cerita bersambung itu, Ti-Tian Hati sedang menceritakan dirinya sendiri. Menurut papa, cerbung itu semi fiksi karena ada beberapa bagian yang memang benar-benar terjadi, entah bagian dia selingkuh atau bagian penulis patah hati,” kata papa memberikan penilaian atas cerbungku.

Aku berusaha menguasai diri agar tidak tampak grogi.

“Tian, membaca bagian patah hati itu papa teringat hubunganmu dengan Ike. Maafkan papa dan Mama yang telah memaksakan perjodohan dengan Lisa. Kami hanya punya kamu sebagai anak semata wayang, hanya kamu sebagai penerus keluarga.”

Papa memandangku, namun aku tak mmapu mengurai makna air mukanya. Mungkinkah papa benar menyesal.

“Tian, kami menaruh harapan dan tumpuan masa tua padamu. Papa berharap kamu tidak terlibat dengan orang ketiga seperti dalam cerita itu. Dan satu hal lagi, mulailah mendalami agama agar kalau papa meninggal nanti ada yang mendoakan.” Pesan dan permintaan papa membuatku semakin terjerat dilema.

Tak ingin ketahuan gugup, aku mengalihkan pembicaraan. Topik untuk menghadapi tantangan internet bagi perusahaan koran kupilih. Aku memberikan analisis terkait oplah koran kertas yang terus menurun dari hari ke hari.

Masyarakat lebih tertarik membaca melalui perangkat elektronik karena lebih praktis. Oleh karena itu, buku pun dikemas menjadi buku digital atau buku-e atau ebook. Artinya, perusahaan harus mengambil langkah menjawab kemajuan jaman. Mendapatkan beberapa gagasan, papa pamit pulang.

Membuka pintu ruang kerja hendak mengantar papa ke halaman aku dikejutkan Inneke. Duduk di kursi tunggu ia menatapku tajam.

“Selamat sore Mbak Inneke, seperti punya telepati datang kemari. Kami tadi menelaah karya-karya Anda. Oh iya, beliau Pak Wongso, pemilik redaksi.” Bersikap layaknya redaktur dan penulis aku mengenalkan papa sebagai pemred, bukan sebagai sosok ayah.

“Mbak Inneke, Anda cerpenis berbakat. Asah terus kemampuan menulisnya. InsyaAlloh Anda akan menjadi penulis sukses suatu hari nanti.” Papa memberikan pujian kepada gadis di depannya.

“Wah, sebuah kehormatan bagi saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bapak. Terima kasih atas apresiasi yang Bapak berikan. Sebuah motivasi bagi saya.” Sopan, Inneke tahu cara bersikap.

“Mbak Inneke, tolong tunggu sebentar, ya.”

Meninggalkannya, aku menemani papa ke mobil. Berjalan menuju bagian depan gedung papa membahas karya Inneke dengan penilaiannya yang positif.

“Maaf membuat Anda menunggu.” Setelah papa pergi, aku menemui Inneke.

Aku tidak memberi kesempatan padanya untuk menjawab. Berpesan kepada sekretarisku agar tidak ada seorang pun yang menggangu, aku membuka pintu ruang kerjaku.

“Mari kita berbincang di dalam. Silakan masuk, Mbak Inneke.”

— bersambung PoV Inneke —

 

Bagian sepuluh: psikologi suami-istri, episode seni berkomunikasi.

*Catatan:

Seni Berkomunikasi menurut Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi.

Sudah umum dikatakan bahwa perempuan adalah makhluk cerewet yang banyak omong. Sebenarnya pendapat itu tidak salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Kaum lelaki juga sangat suka berbicara. Kaum lelaki banyak berbicara saat di luar rumah, saat ia berjuang dan berkorban untuk mendapatkan kebutuhannya.

Saat di rumah ia menjadi pendiam karena baginya rumah bukan tempat untuk berjuang. Rumah adalah tempat untuk beristirahat, mengistirahatkan otaknya. Berbeda dengan kaum perempuan yang merasa rumah adalah tempat yang tepat untuk berbicara terutama dengan suaminya. Lagi-lagi, keadaan yang sangat jauh berbeda. Lalu bagaimana mengatasinya?

Tentu saja harus melihat kondisi dan situasi. Lelaki yang sedang memiliki masalah di kantor akan terus membawa masalahnya itu sampai ke rumah. Ketika suami sedang dalam kondisi letih dan mempunyai masalah, maka perempuan harus memahami hal itu bahwa suami sedang lelah, butuh istirahat, dan ketenangan.

Kewajiban perempuan adalah memenuhi hal tersebut. Jika tidak, akibatnya akan buruk. Jika suami telah menemukan pemecahan masalahnya, letihnya telah habis, maka ia akan terlihat gembira. Pikirannya menjadi baik kembali. Mukanya menampakkan senyuman yang lebar. Siap diajak untuk berkomunikasi.

Sumber : Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi, 2009, “Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri”, Mitra Pustaka. 702 hal.

Pembahasan di bagian ini adalah tema yang perlu saya angkat, untuk pembelajaran sebagai pasangan, baik yang belum, akan, atau sudah menikah.

Arie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15 KOMENTAR

  1. Mau komentar lagi aku merasa Tian ini sosok yang labil dia sedang berusaha mempertahankan keduanya wkwkk. Kadang dia merasa nyaman dengan ike kadang merasa nyaman dengan Lisa. Hellow manusia nggak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Alloh SWT. Jika tetap dalam kondisi seperti itu bisa jadi si cewek justru yang akan meninggalkannya. Eh, tapi kecuali jika ada yg lebih ingin sekali memilikinya pasti dia akan memperjuangkannya mati-matian. Oh my God cowok nggak cuma satu di dunia ini.
    Aduh bon-bon mendadak esmosi wkwkkw.

  2. Tampaknya bab ini lebih panjang. Syukaaa 😍😍 heheh

    Seni berkomunikasi. Bagus sekali ilmunya kak 👍

    Luar biasa sekali kak yuke. Dengan alur yang jungkir balik begini, apa nulisnya gak bingung? Hueheheh

    Mudah dipahami pembaca lagi. Pasti penulisnya mumet. 😂😂🏃

  3. 👻👻👻 Ah, sosok Tian buatku sosok yang entahlah. Aku hanya kesal saja. Senang sekali berbagi hati. Huuuuuaaaaa, aku selalu kesal dengan sosok seperti Tian. Aku mau bilang pada dia, “Tidak cukupkah hanya aku di hatimu?” 😭😭😭 Enggak setia banget nih lelaki. Kalau ada di depanku mau aku tendang ah. Wkwkwkkw. *Aku menikmati ceritanya dari awal kok. Lanjut! 😉

    Oya, aku sempat syok 😱😱😱 pas awal baca. Aku kira si Tian ular. Main sosor dan pagut saja. Batinku, wah seorang Yukeneyza berani vulgar juga. Wkwkwk. Ternyata Uda Arie. Kalau lelaki sih biasa wkwkwkkw. *Colek Uda Arie, salam kenal dan gabung sini dong, Uda. Kasih kami artikel tentang psikologi atau apa pun itu. 😍😍