“Mbak Inneke, Anda tidak sopan berlaku seperti itu pada saya.” Tian tergelak.

Aku bersidekap, membuang muka dan menatap ke luar jendela. Meski deretan ruko-ruko di sepanjang jalan yang kulewati, tak lebih menyenangkan dari memandang wajah Tian. Biarkan saja dia. Aku kesal.

“Inneke, ngambek nih? Makin ngambek makin cantik sih.”

“Nggak usah modus,” kataku jutek.

“Tapi kamu suka kan?”

Ih dasar gede rasa. Tapi ya, iya sih. Meskipun, Tian menyebalkan aku tak pernah bisa marah padanya. Sekejap, aku pasti sudah memaafkan dia.

“Sudah sampai nih, turun yuk.” Ajakan Tian mengejutkanku.

Aku menautkan alis saat tahu di mana taksi yang kami tumpangi berhenti, sebuah mall ternama. Kutatap wajah Tian yang lagi senyum-senyum tidak jelas. Apa yang dia pikirkan. Mau apa main ke mall?

“Ayo turun,” ajaknya lagi.

“Ke mall?” tanyaku memastikan.

“Oh atau kamu mau ikut ke rumah Pak Sopir saja? Ya sudah aku turun sendiri.”

“Tiaaan tunggu aku!” seruku bergegas membuka pintu mobil. Sedang Tian tertawa renyah, puas apa berhasil mengerjaiku.

Aku pasang muka masam saat menghampiri Tian yang berdiri di trotoar jalan.

“Kamu mau beli sesuatu?” tanyaku kala kami berjalan masuk ke pusat perbelanjaan.

Tian menggeleng.

“Lalu?”

“Cari inspirasi untuk nulis, nonton yuk? Kamu ada rekomendasi film yang bagus tidak?”

Tian nampak antusias. Matanya berbinar dan senyum senantiasa menghiasi wajahnya yang ganteng. Sedikit ganteng. Sedikit saja sudah menarik perhatianku, apalagi kalau banyak. Ish, mikir apa aku ini.

“Ke, aku tadi nanya. Kok malah bengong.”

“Eh iya, aku lagi mikir film apa yang bagus,” jawabku bingung. Ya ampun, kenapa aku menghayal yang tidak-tidak.

“Genre apa yang kamu suka?” Nada bicara Tian begitu ceria. Sekarang kami berdua sudah berdiri di depan loket, hendak mengantre tiket.

“Yang pasti bukan roman,” ungkapku.

“Lah kok bisa, kamu kan penulis cerpen roman. Inspirasinya dari mana?”

“Kamu mau tahu?” tanyaku retoris.

“Tidak, aku mau tempe saja,” kelakar Tian.

Kami berdua tergelak.

“Inspirasi bisa dari mana aja Tian. Ini berdasarkan pengalamanku pribadi ya. Inspirasi menulis itu, kudapat dari ….” kujabarkan panjang kali lebar pada Tian darimana kudapatkan inspirasi untuk menulis.

  1. Nonton film, sangat kusarankan nonton film kalau ide lagi mentok. Kadang di tengah nulis satu cerita, ide mendadak hilang, tidak tahu mau nulis apa. Nonton film bisa jadi mode refresh pikiran yang lelah. Tidak perlu pergi ke bioskop untuk bisa nonton film. Teknologi semakin canggih, banyak layanan streaming dengan film-film bagus. Aku sendiri langganan Netflix, atau kalau mau cari film lawas ubek-ubek YouTube. Banyak film-film lama yang bisa didownload dan ditonton sewaktu-waktu. Baiknya, jangan membatasi genre tontonan, dalam artian tontonan harus yang layak ditonton loh. Jangan nonton yang aneh-aneh. Banyak kan ya, genre film yang bisa dipilih, mulai dari film aksi, fiksi ilmiah, roman, fantasi, sejarah, bahkan film biografi. Tergantung selera, mau cari referensi film apa. Oh ya, lewat nonton film kita jadi banyak tahu, beberapa scene klise yang bisa dihindari. Karena, tak jarang dalam membaca dijumpai adegan klise yang sudah banyak digunakan.
  2. Mendengarkan lagu, lirik-lirik lagu pun bisa jadi ide cerita. Apalagi sekarang ada yang namanya songfiction, yaitu mengembangkan lirik lagu jadi sebuah cerita. Terlebih kalau lagu yang kamu pilih sesuai selera. Pasti ide akan muncul dengan sendirinya. Mendengarkan musik, sangat bermanfaat untuk kesehatan otak, agar berpikir kreatif, kritis, meningkatkan daya ingat. Pun, mendengarkan lagu-lagu dari ragam bahasa merupakan sarana yang baik untuk mempelajari bahasa lain.
  3. Baca buku. Membaca ibarat makan. Menulis adalah energi yang didapat dari makan. Jadi seorang penulis yang hebat juga harus jadi pembaca yang tak pernah bosan membaca. Kamu tahu tidak, dengan membaca, penulis akan semakin kaya diksi. Pun, wawasan yang didapat jadi semakin luas, banyak hal baru yang bisa kita tahu dengan membaca. Kusarankan seimbangkan bacaan yang dibaca, antara fiksi dan non-fiksi. Agar imajinasi dan realita bisa berimbang. Aku pribadi sih, membaca buku fiksi dan non-fiksi dengan perbandingan 3: 7. Lebih banyak baca buku non-fiksi. Karena lebih banyak realita yang bisa dijadikan tema dalam menulis cerita.
  4. Mengamati lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dengan orang-orang terdekat, bisa teman, tetangga, atau keluarga sendiri. Semua sumber kehidupan bisa dijadikan inspirasi. Misal saja, perjuangan saudara untuk mendapatkan beasiswa. Atau seorang anak yang bekerja untuk membantu orangtuanya. Atau kisah seseorang yang berjuang sembuh dari sakit. Bahkan, hal kecil dengan siapa hari ini kita berbicara, apa pula yang kita bahas dengan orang lain.

 

“Banyak hal yang bisa dijadikan inspirasi, Tian,” pungkasku mengakhiri pendapat.

“Iya sih, kamu sendiri lebih sering dapat inspirasi dari mana?”

Ish Tian, pertanyaan apa itu. Jawabannya, kuingin terus bersamamu, inspirasiku.

“Malah senyum sendiri sih, Ke?” cecar Tian.

Alih-alih menjawab, aku mengalihkan pembicaraan. “Maju sana, mau nonton film apa jadinya?”

Tian berbalik badan, karena antrian sudah sampai giliran.

Kamu menepati janji, Tian. Tidak ada yang berubah darimu, sebagai penulis ataupun redaktur. Sama saja. Aku memang belum tahu benar, apa tujuanmu tak berkata jujur. Tetapi, itu tidak masalah. Aku menyukai sikap baik dan perhatian yang kamu berikan. Semua itu terlepas dari apa pekerjaan yang kamu genggam sekarang.

“Ke, ayo masuk. Tidak perlu memikirkan aku. Aku tidak kemana-mana, kok.”

Tian menghempaskanku dari lamunan.

“Ih, nggak usah GR!”

*****

“Ketika aku tahu kamu membohongiku tentang pekerjaanmu,” protesku.

Bukan cuma sekali kamu berbohong. Untuk apa tak berkata jujur kalau memang benar cinta. Mendapatkan aku? Untuk jadi yang kedua? Siapa yang egois di sini, aku atau kamu.

“Maafkan aku, Ke. Jika kamu anggap aku berdusta, aku terima, tapi bagiku tidak. Kamu tahu, aku juga penulis sepertimu dengan nama pena Ti-Tian Hati. Pekerjaan redaktur kujalani tapi menjadi penulis adalah passion-ku.”

Dulu aku bisa menerima alasanmu, Tian. Tetapi sekarang? Tidak semudah itu.

Kami sama-sama diam. Benakku membongkar memori terungkapnya kebohongan Tian, tentang pekerjaan dia sebenarnya.

“Inneke, kenapa kamu diam? Sekarang tidak ada yang kusembunyikan darimu. Kamu tahu semuanya. Dan aku mau kita bisa saling menerima. Satu yang pasti, kamu bukan penyebab perceraianku dengan Lisa.” Tian berusaha meyakinkanku.

Jujur, hati ini tak bisa menolak apa yang Tian janjikan. Aku bersedia menerimanya. Bagaimanapun, aku memang tidak tahu apa-apa.

“Tapi Tian ….” Aku ragu untuk mengatakan semuanya. Tetapi, tidak ada pilihan. Kukatakan semuanya atau tidak sama sekali.

“Tapi apa? Katakan padaku. Jangan lagi ada ragu di hatimu. Karena, aku memilihmu atas dasar cinta yang nyata.” Tian menggenggam kedua tanganku lebih erat.

Aku menghela napas, meyakinkan diri untuk mengutarakan semua yang ingin kukatakan. Tian harus tahu.

“Bagaimana dengan Bapak dan Ibuku? Aku takut mereka tidak menerimamu, dengan status pernah gagal menikah. Dan perceraianmu dengan Lisa. Bahkan, belum terjadi. Orangtuaku pasti keberatan,” ungkapku jujur.

Tak ada orang tua yang ingin anaknya terjerat masalah, bukan. Begitu juga bapak dan ibu, mereka pasti menginginkan aku jadi wanita terhormat yang menikah dengan laki-laki yang baik. Tak merusak batasan apalagi menjadi perebut pasangan wanita lain.

“Aku juga tidak mau dianggap sebagai penyebab hancurnya rumah tanggaku dengan Lisa,” kataku lagi.

Apa yang akan orang kantor katakan jika mereka tahu. Aku menjalin hubungan dengan Tian, dalam artian sudah saling suka sebelum Tian berpisah dengan istrinya. Tidak mungkin aku bisa menjelaskan pada semua orang. Bahwa aku pun tak tahu apa-apa tentang keretakan rumah tangga Tian dan Lisa. Bahkan, aku tidak tahu Tian sudah berkeluarga.

“Jangan memikirkan apa tidak perlu kamu khawatirkan.”

Tian melepas genggaman lalu  menangkupkan tangannya di kedua pipiku.

“Akan akan bilang pada orang tuamu. Bahwa, aku dan Lisa memang sudah tidak cocok sejak lama. Hanya saja belum resmi berpisah. Jika nanti aku sudah berganti status, kita bisa menunggu beberapa bulan sebelum melangsungkan pernikahan. Apa yang kamu cemaskan, ada aku Inneke.”

Penjelasan Tian membuatku sedikit yakin untuk melanjutkan hubungan ini. Aku tak ingin berpisah darinya. Apalagi dia berjanji akan menjadikanku satu-satunya. Tak ada yang lain, hanya aku yang dia perjuangankan saat ini.

“Aku masih tidak yakin, orang tuaku akan setuju,” kataku lirih.

“Aku yang akan meyakinkan mereka. Sekarang, katakan padaku. Apa kamu bersedia menikah denganku? Tolong katakan, agar aku semakin yakin untuk meminangmu.”

Aku menunduk. Kujawab lirih, “Aku bersedia.”

Tian memelukku, menciumi puncak kepalaku. Aku bahagia. Menjadi wanita yang dipilih dan diperjuangkan. Atas dasar takdir kami dipertemukan. Semoga cinta yang bersemai di hatiku akan terus mempersatukan. Aku dan Tian selamanya dalam ikatan pernikahan.

“Persiapkan diri, Ke. Aku akan melamar dengan cara yang baik, di hadapan bapak dan ibumu,” bisik Tian di telingaku.

Aku bergeming.

“Sekarang?” cercaku seraya mengurai pelukan Tian.

“Kapan pun kamu siap. Hari ini juga kalau perlu!”

 

—— Bersambung PoV Tian —–

Pembahasan Bagian Tiga Belas: Sumber Inspirasi Untuk Menulis       

 

Bagian tiga belas ditulis oleh, Yuke

 

 

9 KOMENTAR

  1. Sabar Inneke. Banyak cara untuk mencintai, walau tak harus memiliki. Banyak waktu untuk memiliki, walau tak harus hari ini, bahkan besok atau lusa. Mungkin saja menahun. Jika takdir, selalu dan pasti ada jalan untuk kembali ke pelukannya. 😊

    Kasih waktumu untuk menetralisir hati, sampai mantap dengan keputusan yang gak diambil dari emosi hati sesaat.

    Tian, kamu bisa berpikir lebih baik daripada Inneke. Kenapa memburu? Santaii. Jangan lampiaskan kekesalan hatimu pada gadis manis yg terlalu polos ini. Jernihkan dulu hati dan pikiran kemudian berbicara lagi.

    Hihii. Udah berasa penasihat hukum owe, kak Ke. Ahahaa 😄🏃

  2. Inspirasi menulisnya luar biasa. Btw langganan Netflix mahal gak sih Kak? Hiyaah fokusnya ke sana 🏃

    Wah waaah. Kalo gini kan lega-lega was-was. Lega karena alasan cerainya bukan Inneke. Tapi tetep aja was-was karena belum terlaksana. Huaaa 🙈

    Lanjut Kak. Heheh

    • Mahal enggak mahal sih, Kak. Abisnya gimana lagi, aku enggak dapet asupan gizi dari nonton tivi. Bioskop di sini juga enggak ada. Adanya di Bojonegoro sana. Huaaa nyesek dah.

      Siap-siap makin was-was sama kelanjutan merek berdua bakal gimana.

  3. 😂😂😂 Aku juga bingung, mengapa yang suka menulis fiksi roman enggak suka nonton film yang sejenis. Wkwkwwk. Sukanya yang thriller. Huaaa, itu aku banget. Duh!😱

    Poin 1, 2, dan 3 selalu aku lakukan. Yang poin 4 enggak terlalu tertarik tuh. Wkkwkw. 😉

    Hmmmm, lumayan juga tuh typo dan yang enggak sesuai dengan …. Aku cuma mau protes yang “cerca” saja deh. Seharusnya “cecar”. Beda arti tuh. Hehehe.😆😉

    * Tian, secepat itu? Aku tidak suka. Sebagai pembaca aku menyangsikan cintamu. Bhaks. Si Tian gercep banget. Jangan sampai cerai, ya? Harus langgeng sampai ujung usia. Menua bersama. Tidak mendua lagi. Apalagi berbagi hati. Ish, aku tidak menyukaimu, Tian.
    ** Wah, kayaknya aku yang labil nih? Di bagian Uda Arie suka, eh di bagian ini enggak. Hahahahha. Tidur ah, ngantuk. Mataku perih banget. 😴😴

    • Wah samaan kita, Kak. Aku juga tuh, nulis roman, tapi nonton sama baca roman kurang suka. Wkwkwkwk

      Iya, aku makasih udah dikasih tahu beda cerca sama cecar. Kudu lebih tepat penggunaannya.

      Wah wah, jangan-jangan terpesona sama sosok Uda bukan sama Tiannya. Hahaha ngadu ah ngadu.