“Jawab saja! Anggap aku sedang survei dan riset kepenulisan.”

Survei? Apa aku mesti barhalu ria hanya untuk survei. Ini sangat konyol.

“Jika ada pria tampan. Bahkan, nyaris sempurna menawarkan cinta, tapi kamu menjadi yang kedua. Bagaimana, maukah kamu?”

Belum sampai benakku merangkai kata untuk mengutarakan jawaban. Dia sudah melontarkan pertanyaan lain.

Tian mendesakku mengemukakan pendapat. Ini semacam kode atau apa sih? Kurasa tidak penting pula, apa jawabanku.

“Surveimu nggak lebih penting dari dialog tag yang monoton ini!” kilahku.

Kukritisi beberapa dialog tag yang diulang-ulang. Ada banyak ragam kata yang bisa digunakan. Kenapa hanya kata itu-itu saja yang kerap dipakai.

Tian menggeser kursinya, mendekat ke sisiku. Kami membaca ulang naskah cerbung yang dia tulis. Sesekali kutunjuk layar laptop, agar dia tahu mana yang kumaksud monoton.

“Yang mana?” tanya Tian dengan mata menyipit.

“Yang ini, coba baca ulang. Kenapa yang kamu pakai cuma kataku, ujarku. Ragam kata yang termasuk dialog tag itu banyak, Tian.”

Laki-laki yang duduk di sebelahku menggaruk kepalanya. Entah benar gatal atau tidak. Sekilas kulirik dari sudut mata, dia meringis seusai aku mengomel.

“Yang kuingat ya, itu-itu saja. Bingung pula penggunaan yang tepatnya,” jawabnya.

“Ada dua klasifikasi dialog tag. Begini yang kutahu ….” Kujelaskan pemahamanku pada Tian.

~Beberapa dialog tag datar; kata, ujar, gumam, ucap, tutur, imbuh, timpal, celetuk, anjur, balas, batin, bisik, cakap, canda, sanjung, sapa.

~Beberapa dialog tag yang menunjukkan emosi; bentak, cerca, caci, keluh, gertak, hardik, geram, gerutu, teriak, sentak, sindir, tuduh, cela, raung, protes, sorak.

~Dialog tag selalu diikuti subyek atau kata ganti subyek yang sedang berbicara. Contoh subyek dan kata ganti selain nama orang; -mu, -nya, dia, ia.

~Kalimat dialog yang diikuti dialog tag tidak boleh diakhiri dengan tanda titik di akhir kalimat. Contohnya begini;

“Dia sudah pergi,” kata Inneke.

“Kapan kamu pulang?” tanyaku.

“Sini cepat!” panggil Tian.

Kesimpulan dari contoh, boleh menggunakan tanda apa saja sebelum tanda petik penutup. Lalu diikuti dialog tag.

~Catat dan perlu sekali diingat. Tanda titik di akhir dialog, hanya dipakai jika dilanjutkan dengan kalimat baru. Contoh;

“Kamu nggak perlu ke sini.” Aku berlalu pergi.

‘Aku berlalu pergi’ adalah kalimat baru. Bukan dialog tag. Bisa dipisahkan dengan dialog langsung. Jadi menggunakan tanda titik di akhir dialog. “Kamu nggak perlu datang ke sini.”

“Teknik dasar ini perlu diterapkan dalam menulis karya apapun,” pungkasku mengakhiri penjelasan.

“Baiklah. Nanti bantu aku menulis rumusnya, biar tidak lupa. Makan dulu, Ke.”

Tian menegakkan punggung, membantu pramusaji meletakkan makanan dan minuman yang kami pesan.

“Makasih,” ucapku sebelum mbak itu berlalu pergi.

“Tian, boleh kutahu alamat emailmu?” tanyaku kemudian.

“Septiannaya.*** Double ‘N’.” Tian menjawab singkat.

Kubiarkan Tian mulai melahap makan siangnya. Pandanganku beralih ke layar komputer jinjing milikku sendiri. Tanpa diminta, kukirimkan template ke alamat surat elektroniknya. Template yang kubuat cantik, dengan deretan calibri merangkai lebih dari delapan puluh kata yang termasuk dialog tag.

“Aku mengirim sesuatu ke emailmu. Buka aja pesan itu,” ucapku kemudian.

“Sebentar.” Tian mengutak-atik keyboard.

Aku yang juga lapar, tak ingin membiarkan makan siangku dingin.

“Wah, ini bisa dijadikan wallpaper. Biar tidak mudah lupa,” seru Tian. Dengan sorot mata belum beralih dari template yang terpampang.

Aku tersenyum kecil. Tak elok bersuara sambil makan. Adab kesopanan kita, haruslah baik, sopan dan santun untuk menjaga citra diri.

“Abisin dulu itu,” perintahku seusai menghabiskan menu favorit, salad buah.

“Mendadak tidak selera.” Tian menggeser piringnya menjauh ke sisi kosong meja.

“Kenapa?” cecarku.

“Kamu tidak menjawab survei. Padahal, setiap jawaban bisa kujadikan pertimbangan. Agar cerita yang kutulis tidak berhayal tingkat dewa. Seperti katamu.”

Aku terhenyak.

“Masih tidak ingin menjawab!?” Tian terus mendesak.

Baiklah jika kamu ingin tahu, apa yang aku pikirkan saat ini.

“Hidup itu memilih, bukan menjadi pilihan,” tegasku.

“Kalimatmu ambigu, Ke. Mau atau tidaknya, jadi samar. Punya banyak makna dan mengarah ke beberapa kemungkinan.”

“Ya memang punya banyak makna. Bisa jadi, ada perempuan yang mau, ada juga yang nggak mau. Tergantung mana yang dipilih. Setiap individu, pasti punya latar belakang dan motivasi yang berbeda saat menentukan pilihan yang diambil,” terangku padanya.

Jika Tian pandai menafsirkan. Harusnya dia tahu makna tersirat dari uraianku tadi.

Kulihat Tian menautkan alis, nampak berpikir.

“Jadi, kamu pribadi. Tidak akan mau jadi yang kedua?”

Seketika kuingin tertawa melihat reaksinya.

—- Bersambung PoV Tian—-

 

Pembahasan Bagian Tiga: Ragam Kata Yang Termasuk Dialog Tag

 

03.49

20 Februari 2019

 

Bagai Tiga Ditulis Oleh Yuke

 

 

4 KOMENTAR