Sumber gambar pixabay.com/aliceabc

Kadang saat kata-kata puisi itu mampu meruntuhkan dan menghanyutkan hati. Ingin sekali aku kirim sebuah balada. Ya, cerita atau kisah yang sekarang lebih dikenal dengan puisi naratif.

 

Balada Rindu Kelabu

Sebut Dini yang pilu
Gadis manis dari paras asri
Merantau mencari ilmu
Di celah-celah gedung dan bangku

Dini perawan desa yang pintar
Hatinya mulai tertawan rindu
Seseorang yang tidak mau tahu
Pada laki-laki dingin yang membuatnya beku

Rasanya kelabu
Dini membisu dengan rasa kelu
Lantaran cinta sudah bersangkar
Jangan sampai hati Dini dimadu

 

Mungkin bagimu itu gaya kuno dan ketinggalan zaman. Tapi tidak masalah. Sekarang kita berbicara tentang curahan rasa cinta atau asmara. Kau tahu apa itukan? Yups, puisi romansa. Rasa cintaku padamu yang terhalang oleh dia.

 

Romansa di Ruang Tamu

Sepiring tempe tidak percaya diri
Kau suguhkan di hadapan
Meski aku sendiri gemetaran
Ingin berkata tapi tidak bisa

Segelas teh panas yang besar
Agar lama kita bisa bertukar cerita
Mulai dari tanganku
Lalu mataku
Dan semua kata-kata cinta

Aku tidak mau juga pergi
Membiarkanmu dengan pria lain
Tamu yang tak diundang
Tapi dia akan bersamamu

 

Sebenarnya adalagi yang ingin kulukis dengan puisi-puisi lain. Namun apakah kamu akan suka? Sajak-sajak lama yang terasa hambar dan norak. Mirip bapak-bapak menembang asmaradana. Sedang kamu tidak pernah paham bahasanya.

Apalagi kata-kata itu cukup sumbang untuk kamu dengar. Memekik dan menggelikan seperti bulu ayam yang menari-nari di telinga. Kamu biasa memakai makna sedang di sini lewat bahasa prosa. Ku harap kamu tidak alergi dan risi. Meski hanya selayang memandang saja.

Bahasaku jiwa kamu pakai hati. Aku ucapkan suka kamu bilang rasa. Kita harusnya berkomposisi. Ku buatkan romansa kamu lengkapi dengan imaginasi. Indah bukan perkawinan sajak lama dan baru. Memadu di persandingan melebur dalam satu ungkapan.

Rindu itu hanya batu gunung. Jangan sampai jatuh lalu hancur. Jaga agar tetap melekat. Biarpun retak cepatlah katakan tanpa rasa malu-malu. Kalau ibarat belum juga membuat sadar. Sarkas juga lebih baik untuk menohok dan menyadarkan. Aku rela, kamu juga harus mau.

Besok akan kulukiskan sastra lama lagi. Supaya kamu tidak lupa masa lalu. Meski langkahmu sudah di puncak. Kaki gunung tetaplah penting untuk menompang pengetahuan. Selamat pagi rindu dan rasa yang dibiarkan berceceran.

4 KOMENTAR