Sumber: pixabay.com

“Minum dulu, Fi.”

Kak Nugraha menurunkan dua cangkir kopi di meja. Lantas dia duduk di depanku terpisah oleh meja bulat. Sedang perhatianku lebih tertarik pada grafik laporan yang tadi dia berikan. Cukup mencengangkan, saat kutahu fakta yang ada, tenyata jauh dari kata baik, bisa dibilang buruk dan bagiku sangat buruk.

“Recorded paling baru sudah ada belum? Oh ya, kulihat pasien yang tadi, lumayan stabil. Pas aku tanya-tanya tatapan matanya fokus, percaya diri. Kuharap dia konsisten ya, hasilnya nggak mengecewakan,” ucapku senang.

Tiga jam perjalanan kutempuh untuk sampai ke salah satu desa di Gubug Kabupaten Grobogan. Jauh-jauh aku ke sini, demi meneruskan riset tentang pasien pecandu narkoba. Salah satu tema yang akan kuangkat dalam bentuk novel. Tak ingin setengah-setengah dalam memberikan kontribusi. Aku mendatangi panti rehabilitasi di Semarang beberapa waktu lalu. Guna riset lanjutan, aku meminta salah satu konselor untuk bersedia ditanya-tanya lebih banyak lagi. Pun, aku menemui langsung beberapa pasien, baik yang sudah keluar panti atau yang masih dalam penanganan.

Bertolak dari tempatku berdomisili jam lima pagi. Aku sampai di rumah konselor pukul delapan karena mampir dulu ke pasar Godong, cari kuliner pagi yang murah-murah dan mengenyangkan perut. Bagiku ketika bepergian, tidak ada yang lebih menyenangkan selain perjalanan naik motor. Sebelum duduk di teras rumah sang konselor ini, aku minta diantar dulu ke rumah salah satu pasien yang masih satu daerah dengan Kak Nugraha.

“Dia tidak terlalu parah, masih tahap coba-coba. Bahkan dia ndak pakai caregiver personal,” terangnya.

Oh pantas saja. Aku mengangguk lantas meraih gagang cangkir kopi.

“Aku minum ya.” Kusesap kopi pelan-pelan, mengecap rasa pahit yang kental, dengan aroma buah yang khas, namun sedikit ada sensasi rasa asam. “Arabica Lembang ini,” terkaku.

“Kamu tahu aja. Arabikanya bener, Lembangnya salah. Hehee.”

“Yang penting Arabika. Iya kan?”

Kak Nugraha mengangguk sebelum meminum kopinya sendiri.

Maklumlah pecinta kopi, sedikit banyak aku tahu dan bisa membedakan. Asal bukan yang latte-latte, nggak cocok denganku. Bahasa jawanya ampang, nggak berasa ngopi.

Ada diskusi panjang antara kami berdua, tentang apa saja yang harusnya diangkat dan mana yang bisa dihilangkan. Tantangan yang paling sulit adalah membawa nonfiksi rasa fiksi, ini tugas berat. Sekitar pukul sebelas, hujan mengguyur daerah ini, terpaksa kami yang tadinya duduk di teras melanjutkan obrolan di ruang tamu.

Kuberitahu padamu, kalau sebagian masyarakat di daerah Jawa, lebih merasa dekat dan dianggap saudara ketika berbincang di teras rumah, ketimbang ngobrol di ruang tamu.

Beda cerita kalau tuan rumah mengajak duduk di teras, itu artinya yang bertandang sudah bukan lagi tamu. Tetapi, orang yang dirasa nyaman untuk diajak bicara, tentu sudah tidak dianggap orang lain.

Percayalah, misal kamu main dan diajak ngobrol di teras, itu pertanda bahwa tuan rumah ingin bicara banyak, entah sebagai teman, saudara, atau lebih dari itu.

“Makan dulu ya, Fi. Nanti baru lanjut perjalanan. Masih lumayan jauh loh, sejam lebih,” ucap Kak Nugraha ketika adzan Dhuhur berkumandang.

“Rencana sih, mau langsung jalan lagi setelah adzan ini,” kataku.

Kami merapikan berkas yang berserakan di meja. Beberapa sudah kusalin dan kuarsipkan versi digital, nanti tinggal dibaca-baca lagi.

“Aku temani sampai depan, nanti kita makan di sana,” ajak Kak Nugraha.

Selepas makan siang, aku pamit pada Kak Nugraha. Dia ingin mengantarku sebenarnya, tapi aku menolak. Alasannya, satu karena dia sudah banyak membantu, dua karena pukul satu nanti, dia ada janji temu dengan pasien. Duh, makin nggak enak, misal ganggu jam kerja dia.

Menerobos genangan air hujan dibarengi rintik gerimis yang belum reda, aku melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Angin dingin menembus kemeja lengan panjang yang kupakai. Aku ceroboh karena melupakan jaket yang kusiapkan. Tapi tak apa, satu jam lebih seperempat menit itu tidak terlalu lama.

Ketika melirik speedometer yang ternyata jarumnya hampir menyentuh garis merah. Wah harus isi bensin sebelum kehabisan, motor injeksi telat ngisi bensin bisa bahaya. Belok lah aku ke SPBU terdekat.

Sembari rehat kuaktifkan paket data. Banyak pesan masuk dan salah satunya dari seseorang.

“Yuke jadi ke Semarang kah?” isi pesan itu.

“Jadi dong. Sekalian ada urusan tadi.” Ketikku di pesan balasan.

“Udah sampek mana?”

“POM bensin, mana ya?”

Asli aku nggak tahu itu pom bensin tepatnya. Mau buka maps kelamaan, mending lanjut perjalanan ajah. Pesannya nggak kubalas.

Satu urusan selesai, masih ada urusan yang lain. Semarang aku kembali bertandang.

 

Catatan perjalanan 10 Maret 2019

Ditulis 14 Maret 2019

Depan rumah, ditemani kopi sareng, Lhokseumawe

 

 

 

 

19 KOMENTAR

  1. Wih, riset buat novel baru, ya Kak Fi. Semoga lancar. 😇
    Maaf, ya Kak aku baru bisa merecoki “Dilema” cuma sampai bagian dua saja. Ada sesuatu yang harus aku kejar wkwkwk. Sik sibuk ceritanya. Wkwkwk.🤓🤓

    • Pasar Godong
    • pencinta, bukan pecinta
    • enggak, bukan nggak (kalau dalam percakapan biasanya sih bebas, kecuali dalam narasi😉)
    • azan, bukan adzan
    • beloklah (dirangkai karena ini partikel, baca deh penulisan pertikel)

    Kalau ada yang mau menambahkan silakan. Mataku enggak selalu jeli. Hehehehe. Suka sikap juga.👻👻