Malam merangkak makin larut, dia dan aku memandangi bianglala besar di depan sana. Dia akhirnya membuka percakapan tentang lelahnya, dan aku hanya mendengarkan mencoba memendam rindu.

*****

“Aku pokoknya nggak mau naik, kamu naik aja sendiri” dia memarahiku karena telah jauh-jauh mengajaknya ke pasar malam hanya untuk naik bianglala.

“Kenapa nggak bilang dari awal?” lanjutnya lagi.

“Kalo aku bilang sebelum berangkat, kamu nggak akan ikut” jawabku masih dengan muka memelas agar dia mau naik bianglala.

“Ya jelas nolak lah, kan kamu tahu aku takut ketinggian” muka marahnya berubah jadi muka takut setelah kami makin dekat dengan bianglala.

“Beneran nggak mau naik nih? Nggak mau dicoba dulu” tanyaku lagi, masih berharap.

“Kalo sudah takut, ya masa main coba-coba La, hadeh kamu ini” dia kemudian balik arah, ingin pulang.

“Baiklah…tapi kita beli cucur dulu ya, biar takutmu hilang…ha…ha…” candaku karena muka takutnya terlihat lucu dan aku mendahului langkahnya menuju penjual kue cucur.

“Kue sogokan nih?” tanyanya setelah kami jalan beriringan.

“Bukan sogokan lah…kue permintaan maaf.”

“Jangan salahkan aku ya kalo aku pesannya banyak” akhirnya dia mulai tersenyum lagi.

Dia memang sangat menyukai kue cucur, setiap ada pasar malam dia selalu minta dibelikan kue cucur. Nitip dibelikan kue cucur lebih tepatnya, dianya nggak mau diajak jalan ke pasar malam, takut kuajak naik bianglala.

Dan…seperti perkataannya tadi, dia memesan 10 kue cucur yang hampir habis dimakannya ditempat, jika saja aku tidak mengajaknya pulang, bisa namba lagi dia. Bukan masalah banyaknya, tapi aku akan lebih senang jika ia mau makan kue cucur yang banyak itu sambil menemaniku naik bianglala malam ini.

*****

Dia masih berceloteh tentang lelahnya dunia pekerjaan, dan aku masih mendengarkan sambil memendam rindu.

“Mau naik bianglala?” tiba-tiba ia bertanya.

Aku tergagap dan tidak mampu mengatakan apa-apa. Dia berdiri dan mendekati bianglala, setelah 11 tahun berlalu akhirnya ia memberanikan diri naik bianglala. Bianglala di depan kami tidaklah sama dengan bianglala di pasar malam di kampung, lebih besar dan tentunya lebih tinggi berkali-kali lipat daripada bianglala di pasar malam kampung kami dulu.

Dengan genggaman tangan yang mantap, ia langkahkan kaki menaiki bianglala, dengan senyum kecut bercampur takut dia tertawa kecil. Ada yang menggenggam tangannya sekarang, seorang wanita yang membuatnya berani menghadapi ketakutan. Dan itu bukan aku.

I could be anything in the world
But tonight I want to be her

 

15 KOMENTAR