foto: dok. pribadi

“Mari kita bertemu di tempat yang paling jauh dengan perpisahan,” katamu.

Lalu kau berjalan terlebih dahulu. Aku menyusul perlahan, tanpa tahu tempat yang kau maksud.

Hingga kurasa tempat itu sebentar lagi kutemukan, aku tak menemukan adamu. Salahkah tempat yang kutuju ini?

Karena tak mungkin kau salah menyusuri jalan yang kau buat sendiri. Kecuali … kau sengaja mengubah tempat pertemuan itu. Atau … kau sudah tak sudi lagi menujunya?

Aku sendiri. Tanpa tahu tempat apa yang hampir kupijak dan sudah kupandang di pelupuk mata. Yang jelas, aku tak menemukanmu.

Sampai jumpa di persimpangan. Akan kutunggu dirimu hingga persimpangan itu tak lagi layak untuk kupijak. Akan kuikuti dirimu, untukku melangkah selanjutnya. Bersama.

Jika tak berkenan, kau boleh memilih jalan memutar, tanpa sedikitpun memijakkan diri di persimpangan.

Namun, semoga kau ingat. Aku di sini karena mengikutimu.

Rupanya, tempat yang kau maksud, tak pernah kita temukan.

Kau sudah sampai mana? Persimpangan sudah hampir lenyap. Habis bersamaku. Hanya tersisa ucapan selamat tinggal, yang semoga tak lancang menemuimu. Atau aku yang tak menyadari bahwa kau sesungguhnya sudah terlebih dahulu melambaikan tangan untuk pergi?

*

Mari kita berjalan sendiri-sendiri saja. Karena bersama hanya keinginanku. Bukan keinginanmu.

Mari kita sudahi saja ‘ikatan’ ini. Karena yang terikat hanya aku, dengan bayanganmu.

Mari tak usah ada lagi sapa, cerita, apalagi kata sayang. Karena bahkan mengucap satu kata saja kau enggan.

Maaf, inilah aku yang tak bisa seperti orang tertidur dalam mencintaimu.

Karena tak ada lagi kata, maka kuanggap tak ada bela bagimu atas semua prasangkaku.

Karena tak ada lagi kata, maka kusadari bahwa aku hanya sendiri dan tak berarti. Bermain-main ditertawakan kesunyian.

Terima kasih untuk sebagian hidup yang berani kau berikan padaku. Terima kasih atas harapan yang tak sepenuh hati kau utarakan.

*

Pada akhirnya, tempat yang kita temui adalah perpisahan. Masih saja membisu, membingungkanku yang tak tahu lagi harus kepada siapa bertanya. 

Namun, setiap tanya akan terbalas jawab. Meski jawab tak harus kata. 

Ya, diam adalah jawabmu. Jika kau saja boleh seenak sendiri menjawab dengan diam, maka aku juga akan seenak sendiri mengartikan.

Tak perlu repot-repot kau kirim krisan kuning. Sebab, diammu saja aku sudah paham.

Selamat tinggal.

***

Tulisan ini adalah ungkapan hati yang bertahap. Serupa hati yang terkoyak sedikit demi sedikit. Syukurlah, sudah berakhir sebelum habis.

26 Mei 2019, 24 Juni 2019, dan 27 Juni 2019

5 KOMENTAR