Halo goodthinkers and goodwriters Penakata di manapun kamu berada. Aku mau tanya sama kalian, ada yang tahu hari ini hari apa? Ada yang tahu? Sebelum kukasih tempe, eh maksudnya sebelum kukasih tahu, aku mau ngetik ocehan dulu.

Sore tadi, aku sama temen-temen masang banner di dekat lapangan. Eit, ini bukan kampanye calon legislatif, masa itu udah lewat. Banner ini inisiatif kita-kita yang jengkel sama warga, orang lewat, atau siapa aja yang suka buang sampah di sungai.

Jadi, sebelum masuk desa untuk sampai di rumahku, rumah yang aku tinggali sekarang. Bukan rumah orangtua yang pasti, hehehe … turun dari jalan provinsi, ada pertigaan belok kiri, ada jembatan, setelah jembatan ada lapangan sepakbola milik desa, terus dari situ rumahku udah deket.

Nah, jembatan yang gunanya sebagai penghubung antar dua desa malah dialihfungsikan jadi arena lomba buang sampah ke sungai. Ngeselin banget, setelah diselidiki ternyata yang buang sampah di situ nggak cuma warga desa. Banyak juga orang lewat dari desa lain yang sekali menyelam minum air, pas nyeberang jembatan ngelempar sampah. Mending kalau sedikit, lah sampahnya karung-karungan, aku pernah lihat sendiri  sampah yang dibuang dua kantong plastik besar. Gila nggak sih?

Jangan tanya, kotornya sungai itu kayak apa, bau pula. Duh ngeganggu banget. Terlebih kalau musim hujan, kasihan yang rumahnya di area bantaran sungai, tiap tahun jadi langganan banjir. Banjir pun belum seberapa dibanding efek ruam kulit dan gatal-gatal yang diakibatkan air tercemar. Udah rumah tergenang air, yang punya rumah malah kena penyakit kulit. Tragiskan, siapa yang berbuat siapa yang kena dampak.

So, kita buat banner, yang tulisannya gini. Buanglah mantan bersama kenangannya seperti membuang sampah pada tempatnya. Font-nya kita buat yang gede dan ilustrasi minimalis aja, biar kelihatan. Kebetulan ada temen yang bapaknya punya percetakan, jadi bisa desain suka-suka.

Aku juga punya usul untuk agenda dua minggu ke depan mumpung belum masuk bulan puasa. Karena jalan ini merupakan akses satu-satunya untuk sampai ke pasar, plus kalau Ramadan pedagang maupun tukang sayur pada berangkat selepas sahur, jalanannya udah rame banget. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan dari tahun kemarin-kemarin, pas dini hari malah banyak yang buang sampah. Kuusulkan, untuk cowok-cowok biar mereka buat semacam pembatas dari bambu yang menjulang cukup tinggi, diikat dengan pembatas beton jembatan.

Gimana jelasinnya ya, kalian tahu pembatas pinggir lapangan yang biasanya ada di lapangan voli? Nah, kurang lebih seperti itu, biar pengguna jalan nggak bisa lagi ngelempar sampah ke sungai.

Alhamdulillah, mereka langsung setuju sama usulku. Pun, pohon bambu milik desa di tepi lapangan bisa dimanfaatkan. Tinggal bilang sama pak lurah, pasti beliau mengizinkan. Ini menyangkut kepentingan masyarakat pula. Malah tadi ada yang kasih saran, gimana kalau di tepi lapangan sebelah barat yang dekat ujung jembatan dibangun gardu buat kumpul-kumpul. Ide yang bagus juga itu, semoga terlaksana sebelum Ramadan tiba.

Goodwriters and goodthinkers yang melek teknologi, kalian pasti tahu berita-berita tentang bencana alam yang sering terjadi. Sebut saja, banjir, tanah longsor, tanah gerak, kekeringan, pencemaran lingkungan, dan masih banyak lagi. yang paling mengkhawatirkan ialah debit air tanah yang kian hari kian menipis. Ya, terancam habis sebab hutan dan ruang hijau sudah banyak yang beralih fungsi.

Efek lebih jauhnya, tidak lain adalah pemanasan global yang tidak bisa dielak.

Banyak slogan untuk menjaga lingkungan dan menanam pohon, semuanya diorasikan tapi kadang lupa direalisasikan. Contoh gampangnya saja, misal si A yang suka buang sampah di sungai, ketika dia tahu sungai tersebut banjir selama berhari-hari, dengan entangnya bilang, “Kasihan yang rumahnya terendam, sungainya dangkal karena sampah menumpuk.” Lah ironis sekali kan.

Kok ya bisa bilang kasihan tapi dia sendiri masih buang sampah di sungai, udah gitu tahu kalau sampah membuat dasar sungai menjadi dangkal. Ujungnya ya pasti banjir. Kesadaran itu ada, tapi prakteknya tidak sesuai. Kalau udah sadar, harusnya bisa dong ya, mulai bersikap secara sadar untuk menjaga lingkungan dari kerusakan. Karena usia bumi yang kita pijak semakin tua, namun segala sesuatunya harus  tetap terjaga demi anak cucu kita.

Merawat bumi tercinta bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita sering abaikan setiap hari. Misalnya, mengurangi penggunaan kantong plastik, kalau belanja pakai keranjang belanja atau kantong kain, karena sampah plastik sulit terurai oleh alam. Bisa juga menanam pohon di sekitar rumah.

Oh ya, ada satu bahaya yang kadang nggak disadari, mungkin kamu juga belum tahu. Kandungan CFC (Chloro Fluoro Carbon) dalam parfum semprot apalagi yang ada logonya danger flammable, kandungan tersebut berkontibusi besar menipiskan lapisan ozon. Padahal, ada banyak jenis parfum semprot yang beredar di pasaran.

Jujur aja, aku belum bisa beralih dari parfum semprot, terlebih yang wadahnya terbuat dari kaleng tanpa penutup. Kalau mau pakai, bagian atas botol diputar dulu nanti kelihatan push here untuk menyemprot, tapi nggak dicelupin, hahahaa … yang cowok pasti tahu yang kumaksud parfum merk apa. Btw, aku emang lebih suka pakai parfum untuk cowok.

Payah kan ya, aku sendiri masih belum sepenuhnya merealisasikan kesadaran. Masih jadi salah satu penyumbang kerusakan bumi tempat hidup kita. Untuk itu, beberapa kali aku mampir ke toko yang menjual parfum isi ulang, biar nggak lagi pakai parfum semprot. Sayangnya belum nemu aroma kece yang sesuai dengan apa yang kumau. Jadi, pencarian masih belum usai.

Temen-temen Penakata, udah banyak yang sadar juga kan ya?

Jangan kayak aku yang ‘Bilangnya mau menjaga tapi perilakunya merusak’. Masih dalam proses merealisasikan kesadaran yang harus benar-benar disadari.

Mari kita rawat bumi kita tercinta.

Selamat Hari Bumi Sedunia, 22 April 2019

 

Blora

Yuke Neza

9 KOMENTAR

  1. Aku enggak suka buang sampah sembarangan loh. Di kamarku ada tempat sampah. Eh, maksudnya di setiap kamar ada tempat sampah, termasuk di dapur. Di tempatku truk sampah datangnya seminggu sekali untuk mengangkut sampah di bak sampah depan rumah (di luar pagar). Jadi, … aku disiplin kok. Wkwkwkk.😉😆

    Selamat hari bumi juga.🌲🌱🌳🌴🌵🌿🍀☘

    • Mari kita jaga bumi kita ini, Kak.

      Dimulai dari lingkungan paling kecil yaitu rumah tangga, di sini sebenernya ada tempat pembuangan sampah umum, dekat pasar. Cuma banyak yang suka seenaknya buang sampah di sungai. Bikin geram, Kak.

  2. Di sepanjang sungai lusi daerah Ki Ageng Selo, di jembatan itu slogan sudah ketinggalan zaman. Kamu tahu mereka menulis apa ? Ya Allah yang buang sampah ke sungai semoga cepat mati. Aku sedikit kaget dan terenyuh, apa sudah sekeras ini yaa hati manusia?

    Kemarin lihat video para aktivis mengembalikan botol plastik ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi. Aku kira ini cara yang tepat– kurangi produksi plastik! 😎😎

    • Aku juga baca tulisan itu, Kak. Ya bisa jadi keras hati karena usah sangat jengkel. Di tempatku sini aja, tempat pembuangan sampah pasar itu sampai dijaga. Ya Allah, bayangin aja sendiri, Kak. Bapak-bapak sama anak muda gantian kalau malam jagain tempat sampah, karena apa? Soalnya pada suka seenaknya sendiri, padahal udah ada tempat pembuangan sampah untuk rumah tangga. Tapi sampah dari rumah tangga di buang di pasar. Lah, pedagang pasarnya yo protes, tempat sampah cepet penuh. Mau buang limbah pasar di mana, dibuang sembarangan kena denda. Ngerasain sendiri jengkelnya jadi pas lihat tulisan yang Kakak sebut tadi, aku gak kaget sama sekali.

      Di desa lain udah ada pemberdayaan daur ulang sampah plastik. Tapi agaknya masih kurang efektif dan belum banyak kesadaran dari perorangan. Langkah yang bagus juga dikembalikan ke perusahaannya. Em, kalau gitu kurangi beli minuman dalam botol juga ya, Kak. 🤣✌️

  3. Tingkat kesadarannya mulai memudar. Miris.

    Malahan, kalau di tempat saya mbak, tulisannya sadis-sadis. Kalau yang di Benner mah kalem, lemah lembut, gemulai😂😂. Kalau di tempat Rindu, tulisannya gini,

    “Dilarang membuang sampai di sini. Jika anda a*Jing, Silahkan”. Begitulah. Ya pokoknya kasar deh kalimatnya.

    • Kalau ngebadword di banner, secara nggak langsung akan mengalami anak di bawah umur untuk berkata seperti itu.

      Niat dan usaha itu memang penting, tapi jangan sampai niat dan usaha untuk kebaikan malah memberikan efek buruk di lain sisi. Ironis kan jadinya?