Sejarah tidak ditulis, sejarah hanya meledak!!

Puluhan tahun kita hidup dengan kebanggaan yang terlahir dari kisah masa lalu. Kita lupa menaruh kebanggaan sampai kabur antara penjaga dan pencuri.

Tonggak kemajuan nasional adalah ditangan kawula muda yang siap meledakan peradaban dan membuat sejarah baru, karena sejarah kita ditentukan hari ini dan oleh kita sendiri, walau mungkin diantara pengontrol yang sedang duduk disinggasana ternyamannya akan terusik, kita harus tetap berdiri dan bertekad.

BIN adalah salah satu contoh yang jelas sekaligus ambigu. Tentang segala pola pikir dan tindakannya. Dia adalah seorang mahasiswa atau menyamar sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Kalau kita cermati “jurusan sejarah” adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah, dan cakupannya sangatlah luas. Dari awal peradaban manusia hingga kemarin bisa kita sebut sejarah. Dengan kata lain dia adalah orang yang seharusnya tahu banyak informasi dan seluk beluk kejadian, bukan mustahil dari data tersebut seharusnya dia mampu memprediksi masa depan atau mungkin bisa memberi solusi atas apa yang terjadi di detik ini.

Namun BIN tidak ambil pusing dengan dongeng – dongeng, dia lebih memilih “belajar sejarah bukan berarti kita ngafalin sejarah orang lain men, kita harus ngelahirin sejarah kita sendiri”. Sebuah pernyataan sikap.

BIN juga mengkritisi tentang pabrik pencetak peradaban. Produknya dinamakan mahasiswa. Bahwa sebuah universitas mengambil peran yang substansial seharusnya atas kelanjutan nafas sebuah bangsa. Bukan rahasia umum bahwa mayoritas mahasiswa sekarang hanya belajar nyontek rangkuman. Seharusnya lebih dari itu, mahasiswa bisa melakukan intifadah untuk kehidupan yang lebih sejahtera. Karena semangat diponegoro masih melekat di umur mereka.

Bukan berarti setelah sang raja adikuasa tumbag kita bisa sesuka hati bersuara. Meski media mendapatkan kemerdekaannya, merdeka untuk berbicara, merdeka untuk menentukan sikap, merdeka memilih kolega, merdeka kepada siapa dia mengabdi. Jika dulu tool yang digunakan adalah serupa geng motor, yang siap menyumbat mulut kita dengan tongkat dan senapan, sekarang tak jauh berbeda, namun sekarang lebih rapi dan lebih halus, menggunakan tool berupa tinta yang membentuk aksara yang senantiasa melekat dalam buku berjudul undang-undang, undang-undang untuk siapa? Untuk kita. Rakyat.

Buku itu bercita-cita menjamin kehidupan yang harmonis dan penuh keadilan. Setuju. Namun berapa persen dari kita yang bisa mempraktekannya? Apakah minoritas patut menganut ini jika mayoritas lebih lihai dalam membongkar sandi-sandi dari buku ini? Amarah di kiri, frustasi dikanan. Mencicil. Itulah kuncinya.

Kukuasaan dicicil, korupsi dicicil, penjara dicicil. Sejenis undrground yang butuh jadi pahlawan. Meski cuma sesaat.

Sebuah generasi akan merebut ruang, membangun dari reruntuhan. Dan mesiu adalah sebagian pengetahuan.

Bangsa kita adalah bangsa yang besar “dimasa lalu”. Kenapa bisa besar? Karena founding father kita berani melawan, berani berbuat. Sangat naif kiranya kita mengaku kita besar jika kita tidak mengikuti tindakan mereka. Sejarah intinya hanya satu. Harus berani melawan.

Memang ada pertarungan yang tidak bisa kita menangkan. Didalam pertarungan hasil sudah pasti ada, menang atau kalah. Berbeda kasus jika kita tidak bertarung, tidak ada kemungkinan menang atau kalah.

Jika kita belum berhenti memukul maka kita belumlah kalah. Salam Damai.

8 KOMENTAR