Ini adalah sebuah cerita perjalanan yang kualami ketika bertemu Mbak Windy Ariestanty tanggal 22 Juni lalu. Jika berkenan membaca, scroll saja. Jangan lupa, siapkan kopi dan cemilan. Setidaknya, kalau cerita ini nggak asik, hatimu akan lebih baik setelah menyesap kopi atau mengunyah cemilan.

Drama Kedinginan di 14 Derajat

Suhu Temanggung di kala subuh lebih dingin dari biasanya selama beberapa hari terakhir. Dari pertengahan sampai akhir Juni, suhu 14 – 16 derajat setiap pagi membuatku harus merapatkan selimut, bahkan melapisinya dua sekaligus. Jangan ditanya, seberapa mager bangun pagi dengan suhu sedingin itu. Tak heran juga kalau selama beberapa hari, perut sering mual karena badan beradaptasi dengan udara dingin.

Termasuk pagi ini ketika aku sudah harus bersiap menuju Kota Istimewa. Begitu bangun tidur, kupaksakan diri untuk langsung ke kamar mandi. Menerjang selimut dan menerabas udara dingin yang bahkan memasuki atmosfer rumahku. Tidak kusangka, saking semangatnya, aku luput menyadari bahwa badanku belum siap menghadapi air dingin.

Keluarlah sudah makanan hari kemarin yang masih mengisi perutku dan belum tercerna betul. Ya, aku batal untuk mandi demi isi perut tidak keluar lagi. Ibuku menyarankan untuk istirahat dan membatalkan rencanaku untuk ke Jogja.

Well, hari ini aku berencana ke Jogja untuk bertemu seseorang yang sangat menginspirasi, yaitu Mbak Windy Ariestanty. Tanggal 22 Juni, Mbak W akan mengisi acara Workshop Content Creator Narasi TV. Berawal dari Kak Textratis yang mendaftar dengan mengirimkan beberapa syarat seleksi, jadilah kami berangkat ke Jogja.

Tidak lolos seleksi sama sekali tidak menghalangi niat kami. Wong proses seleksi itulah yang membuka jalan beliau untuk berkomunikasi dengan Mbak W. Sekadar tahu saja, sebelumnya berbagai upaya bertemu Mbak W kami lakukan, termasuk sebelumnya ketika Mbak W berada di kota asal Pak Jokowi – Solo.

Drama pagi hari belum selesai sampai aku muntah-muntah saja. Sehabis itu, aku istirahat sejenak dan bingung akan nekat pergi ke Jogja atau tidak dengan kondisi tubuh yang embuh ini. Namun, tidak fair rasanya jika kemarin sudah berjanji pada Kak Textra, lalu kubatalkan secara mendadak begitu saja. Dan satu lagi, aku sudah terlalu bersemangat bertemu Mbak W.

Hingga setelah kondisi badan mulai hangat dan mendingan dengan treatment ala-ala, aku nekat berangkat Jogja agak siang hari. Ya mau bagaimana, halangan mendadak juga bukan kehendak kita, bukan?

Yak, berangkatlah aku menaiki bus arah terminal Magelang, kemudian berganti naik bus arah Jogja. Hmm jangan tanya. Perjalanan naik bus itu meski jalannya timik-timik, tapi selalu ada cerita unik. Sadar tidak sih, meski timiktimik dan sering berhenti untuk menurun-naikkan penumpang, bus akan tetap melaju menuju tujuan? Tidak mungkin tiba-tiba mundur berbalik arah hanya karena menyadari bahwa ia berjalan lambat.

Di bus, kejujuran kita juga kadang akan teruji. Bayangkan, sepanjang perjalanan dari Parakan – rumahku – ke terminal Magelang, kenek tidak meminta ongkos bus padaku. Sepanjang perjalanan, tentu saja aku tidak ngeh sampai ketika hampir turun, barulah aku sadar, meraba uang receh yang sudah kupisah di saku jaket rupanya masih utuh. Langsung saja kuberikan ke kenek.

Ah, si kenek yang sudah berusia hampir lansia justru malah lupa aku naik dari mana, sehingga membiarkanku membayar ongkos 5.000 saja. Nah, ini. Kesadaran kita diuji. Bukan kok, bukan aku sok pamer karena berbuat baik atau apa. Namun, di saat seperti ini kita juga harus cermat. Jangan sampai dong, ketidaktelitian dan keacuhan kita malah mengurangi rezeki orang lain. Wong sudah tua begitu masih dibela-belakan kerja jadi kenek. Mana tega, bukan?

Ah, abaikan saja. Di bus, meski bersemangat untuk menyambut Mbak W, tapi dengan menahan agar tidak mabuk, aku harus nyambi membuat tulisan yang direquest oleh salah seorang teman. Maklum saja, di dalam kendaraan yang berjalan, sistem keseimbangan tubuh akan bekerja maksimal sesungguhnya kalau kita mengedarkan pandangan tidak terpaku pada satu objek saja. Pada handphone misalnya. Jadi, menulis memakai handphone di dalam bus yang melaju tidak mulus, bayangkan saja sepusing apa.

Ketika matahari sudah terik, barulah aku sampai Jogja, tepatnya di terminal Jombor. Syukurlah, rupanya memang badanku tadi pagi sedang tak kuat menahan dingin. Buktinya, udara panas Jogja yang suhunya mencapai 30 derajat tak menyebabkanku mual-mual lagi.

Kak Textra sudah di Jogja semenjak hari Jumat, jadi sudah standby atau bahkan mungkin sebelumnya sudah keliling-kelilling Jogja dulu. Hihi.

Menunggu dan Mengejutkan Teman

Begitu aku sampai Jogja, kami langsung menuju Kafe Tujuan, tempat workshop diadakan. Hari masih siang, dan rupanya, acara masih berlangsung. Mungkin kalau kami tebal muka sedikit, bisa saja nekat masuk ke ruangan untuk mengikuti workshop meski tidak lolos seleksi.

Namun, karena selain workshop belum selesai, Mbak W juga rupanya belum datang. Beliau mengisi acara di jam sore. Baiklah, kami memutuskan untuk mengurus perut yang lapar di kafe depan Kafe Tujuan. Mediterranean Resto namanya. Sesuai namanya, tentu saja menu makanan dan minumannya serba western.

Sambil menyesap kopi sebelum makan, Kak Textra menghubungi Mbak W. Bahkan melalui instagram, kami sepakat untuk membuat beberapa story dan menandai beliau supaya dinotice. Dan benar, Mbak W menghargai kami yang menunggu. Beliau sepakat untuk bertemu kami saat acara selesai nanti.

Ah ya, di Mediterranean Resto, sebuah kebetulan yang lucu dan menyenangkan terjadi. Salah seorang teman, sebut saja Kak Dan, datang dan terheran-heran melihat kami di sana.

“Kalian … kok di sini?”

Kami hanya tertawa. Bukan sulap bukan sihir, tapi kejutan. Tanpa saling mengabari, kami bisa bertemu Kak Dan. Aku pun senang melihat ekspresinya yang terkaget-kaget sekaligus kebingungan.

“Kalian WA aku kah?”

“Enggak kok, Kak.”

Kami pun tertawa sambil menjelaskan maksud kedatanganku dan Kak Textra ke Jogja dengan singkat.

Jam demi jam kami lalui untuk menunggu Mbak W sambil makan dan sesekali ditemani Kak Dan. Yaps, kadang perjumpaan yang tidak direncanakan memang lebih lucu, ya?

Mbak W dan Sharing-Sharing Super Singkat

Tepatnya sehabis azan magrib, Mbak W mengabari Kak Textra kalau sudah selesai mengisi acara workshop. Kami pun bertemu di depan Kafe Tujuan dan mengobrol sambil berdiri.

Kami – lebih tepatnya Kak Textra yang menjadi juru bicara – menyampaikan maksud bertemu. Tentu saja membawa rumah kita tercinta Guys, Penakata. Omong-omong, apa yang kami bicarakan ke Mbak W masih rahasia, ya. Hihi.

Intinya, meski obrolan kami amat singkat, banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari dari seseorang yang dikenal sebagai traveller dan editor ini.

  1. Meraih mimpi itu harus keras kepala. Keras kepala akan membuat kita selalu berpikir nekat dan tidak mudah mundur. Namun bukan berarti bebal menerima masukan dari orang lain. Sebagai bukti saja, kalau tidak keras kepala, mana mungkin Mbak W mau menemui kami?
  2. Tidak ada sukses yang dicapai dengan instan. Kita ambil contoh saja keberhasilan Mbak W dalam acara Patjar Merah di Jogja bulan Maret lalu. Kami ingin tahu dan belajar bagaimana beliau bisa sukses memperjuangkan literasi dalam acara yang tidak abal-abal itu. Tentu saja, beliau memiliki relasi yang solid yang sudah didapatkan selama beberapa tahun berkiprah di dunia literasi. Hal ini bisa kita contoh bukan? Untuk konteks apa pun.
  3. Kolaborasi adalah sama-sama, bukan untung satu, rugi yang lain. Bicara soal kolaborasi, Penakata wadahnya. Dari pertemuan dengan Mbak W, kami belajar bahwa kolaborasi berbeda dengan bisnis atau kepentingan komersil. Kolaborasi ya saling bergabung, kamu bisa memberi apa, aku bisa memberi apa, lalu kita satukan. Seperti halnya pasangan yang kompak, kolaborasi memiliki tujuan bersama dan saling ikhlas. Jadi, kamu untung ya aku untung. Kamu rugi, ya kita rugi bersama.

Sebenarnya masih banyak hal-hal luar biasa dari obrolan singkat yang kami dapat dari Mbak W. Hmm, Penakata mau apa sih? Tunggu saja. Aku pun tidak tahu. Mungkin sebentar lagi Penakata akan menyampaikan maksudnya.

Akhir kata, setelah bertemu Mbak W, kami menghubungi Kak Dan dan Rindu untuk berbincang bersama hingga larut malam di Kafe Basa Basi. Ah, pokoknya seru!

Yogyakarta, 22 Juni 2019

 

2 KOMENTAR