Sumber gambar : pexel/ snapwire

Lagi-lagi rindu. Maaf, sejak dahulu 2 kata yang paling kusuka adalah Rindu dan Kamu. Dan satu kalimat yang ingin selalu kulantun adalah Rindu Kamu. Meski kamu yang entah di mana, mesti kamu yang entah siapa. Tapi kupastikan kelak kamulah yang paling berhak dan pantas atas sepenuhnya cinta tulusku ini. Aku rindu kamu. Kamu rindukah padaku?

Sepenggal puisi untukmu, bukan untuk dia apalagi dia dan kenangan,

Jika ditanya hatiku seperti apa sekarang?
Kujawab masih sama seperti dulu
Sama ketika aku belum bertemu denganmu
Sama seperti aku masih menunggumu
Dan sama seperti sekarang aku masih tetap menunggumu..
~Mueeza~

Puisi bukan sekadar deretan kata-kata. Bukan hanya media penyampaian rasa dan makna. Tapi jauh dari itu, puisi bisa menjadi mantra yang luar biasa manjur. Puisi membuat hari lebih berwarna. Tidak perlu bersusah paya menjadikannya istimewa, karena ia istimewa sejak goresan pertamanya.

Puisi juga bukan hanya untuk dibaca, puisi haruslah diresapi, amati, dan pelajari. Puisi tidak semata hanya tulisan galau alay tanpa faedah. Luar biasa ilmu terselip di dalamnya. Kau bisa temukan lewat celah-celah perasaan dan pikiranmu di kala membacanya.

Puisi itu bunyi kata pak Sapardi. Puisi itu harmonisasi. Irama hidup dan lantunan hati. Kau seharusnya menyanyikannya. Tidak hanya disimpan sampai bersawang. Tidak hanya dinikmati sendiri namun sebar sampai penjuru bimasakti.

Bernyanyilah puisimu, biarlah mereka mau berkata apa. Toh, itu hanya cara basa-basi mereka yang perhatian dan sayang padamu. Salurkan saja apa yang ada dalam pikiran dan hatimu. Zaman sekarang banyak yang tak mau berpuisi karena sedikit-sedikit dibilang galau. Padahal selain suara hati, puisi itu adalah seni.

Jika puisi adalah seni, ia juga bagian dari larik-larik yang boleh jadi nyanyian. Puisi diciptakan bukan hanya untuk dibaca atau dideklarasikan. Puisi ber-hak punya nada. Nyanyikanlah puisi-puisi itu, kata Pak Sapardi. Maka ia akan semakin sampai pada para penikmatnya yang terlalu banyak untuk dihitung.

Seperti salah satu puisinya yang berjudul Aku Ingin telah dijadikan lagu oleh Ari dan Reda hingga kemudian semakin banyak yang tahu dan menjadi puisi fenomenal sampai saat ini. Berikut puisinya,

Aku Ingin
~Sapardi Djoko Damono~

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada ~

Ada satu puisi pertama dari seseorang yang (katanya) dituliskannya untukku dengan disertakan gambar yang sangat unik yaitu perpaduan antara namaku dan namanya. Dan kemudian kucoba menjadikannya lagu untuk diriku sendiri.

Biar pun tidak
Ya akan kuperjuangkan
Ini tidak untuk memaksa
Tapi iya yang kuharapkan

Meski keras terlihat
Tiada peduli apapun
Susah tiada, harap peluh
Peluk tidak butuh
Sayangnya kau berpaling berteduh

~September manis di taman kenangan~

Ya, aku pernah memberi penghargaan atas satu puisi pertamanya itu. Kunyanyikan dengan nadaku sendiri. Walau puisi itu hanyalah bentuk kekecewaan pertamanya untukku, tapi tetap kujadikan kenangan. Walau sepertinya ia kurang tertarik mendengarkannya, tetap kuputuskan untuk menyimpan dan menyanyikannya saja sendiri hingga sekarang. Karena menyukai segala tentangnya adalah urusanku, bukan urusannya.

Puisi tidak melulu tentang cinta, rindu, resah dan lara. Puisi juga penyuaraan pendapat. Penyampaian aspirasi dan inspirasi. Maka terciptalah puisi bebas untukmu yang suka berimajinasi dan berkreasi tanpa batas.

Para musisi Indie pun tak kalah hebohnya memadukan larik puisi ke dalam lagu-lagunya. Menyuarakan aspirasi tidak melulu lewat mimbar dan berpolitisi. Tapi dari karya-karya seni yang sepertinya bisa lebih cepat sampai kepada pendengarnya. Akan beda kondisi saat aspirasi itu hanya sekadar tulisan beropini, selesai dibaca habislah waktunya. Namun jika dilagukan, setiap konser kecil maupun besar, yang menyuarakan bukan hanya satu atau dua orang saja. Tapi seluruh penonton ikut menyanyikan. Dan sampai sekarang musik dari zaman apapun masih selalu relevan di telinga masing-masing penikmatnya. Maka mudahlah sampai pesan tersebut merasuk hingga ke jiwa sanubari kita. Bernyanyi bersama dalam sebuah konser adalah cara tersendiri dan terasyik untuk memahami sekaligus meluapkan berbagai bentuk emosi.

ERK atau Efek Rumah Kaca, salah satu band indie yang bermusik lewat genre Pop, Rock Alternatif ini sering menyuarakan aspirasinya lewat lagu-lagunya yang bersejarah. Khususnya tentang isu-isu sosial. Kasus Munir berakhir di lirik lagunya yang berjudul Di UdaraΒ dan kasus penyitaan buku-buku ‘sayap kiri’ yang sempat santer akhirnya mereka salurkan ke dalam lagunya yang berjudul Jangan Bakar Buku. Lirik lagu-lagu mereka jika tanpa didasari musik dan hanya dibaca saja dapat kita lihat menjadi bentuk puisi-puisi bebas yang biasa ditulis para penulis di koran maupun web berita dan lainnya. Misalnya dibawah ini,

Di Udara
~ERK~
Aku sering diancam
Juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
Sampai di mana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Sebenarnya banyak tulisan-tulisan yang membahas kasus Munir. Tapi yang sampai saat ini tak bosan disuarakan dan mengingatkan selalu tentang kasus Munir yang selalu ingin dilupakan adalah lagu ERK yang berjudul Di Udara.

Jadi, mana yang paling kelihatan dan tersampaikan? Ya benar, puisi yang dinyanyikan. Puisi-puisi yang dijadikan aspirasi dan opini maupun dengan cara tersembunyi atau bahkan terang-terangan.

Puisi punya kekuatan tersendiri. Jangan menyepelekan. Erdogan sang presiden Turki saja pernah di penjara juga karena puisinya saat masih menjabat walikota yang dirasa pemerintah mengancam paham Sekularisme yang sudah mendarah daging di negara Turki itu sendiri sebelum beliau berkuasa. Sepenggal puisi yang memenjarakan.

Sederhananya, kekuatan puisiΒ  bisa membuat si dia jatuh cinta setengah mati padamu, atau malah jadi kenangan yang tak terlupakan. Puisi itu punya rumus ajaib.

Puisi, maafkan aku yang belum memaksimalkan kekuatanmu. Baru saja sampai pada kesedihan dan rasa gembira. Andai suatu hari puisiku bisa punya andil mengubah negaraku bahkan dunia menjadi lebih baik. Andai saja dan pasti.

Jangan takut bersuara Goodwriters. Setiap individu punya pandangan masing-masing. Dan ber-hak mengutarakannya.

Atau agaknya quote dari Bapak Sudjiwo Tejo di bawah ini bisa sedikit menampar kita.

Lama-kelamaan orang akan malas romantis karena takut disebut galau
Malas peduli karena takut disebut kepo
Malas mendetail karena takut disebut rempong
Malas berpendapat karena dikira curhat

~Sudjiwo Tejo~

Jadi sobat, hati-hati dengan kata Galau, Kepo, Rempong dan Curhat. Yang biasanya di singkat menjadi BAPER. Karena katanya bisa mematikan jiwa kritis para generasi masa kini. Pandai-pandai bersikap. Iya, saya juga kadang khilaf kok. Sama-sama belajar ya.

Selamat jatuh dan bangkit kembali. 😊

9 KOMENTAR

  1. Kak, aku speechless sama tulisanmu 😭

    Menyatukan hati dan logika. Ada sisi dimana hati bersuara, lalu logika menggunakannya untuk belajar. Tidak hanya belajar untuk hati, tapi juga untuk kemampuan. Dan untuk orang lain.

    *Ngomong opo -_-*

    Aku padamu 😘 aku padamu juga Pak Sudjiwo Tedjo πŸ’™