www.pixabay.com

Waktu itu aku akan pergi ke pasar yang ada di pusat kota, pasar semi tradisional. Letak rumahku lumayan jauh jika mau ke jalan raya. Tidak ada angkutan umum ke daerah rumahku.
Akhirnya aku pergi jalan kaki sendirian.

Aku menikmati perjalanan pagi itu. Melewati sawah dan beberapa rumah. Jika dihitung dengan langkah yang cepat, sekitar 15 menit aku bisa sampai ke jalan raya.

Lain lagi dengan keadaan saat itu. Rasanya, terlalu lelah jika harus cepat-cepat. Di tengah perjalanan, seseorang memanggilku. Aku menoleh dan menanyakan apa keperluannya. Ternyata dia adalah Dini, temanku.

Tanpa berbicara lama, aku langsung melanjutkan perjalanan. Tidak ada satu pun yang aku pikirkan saat itu. Aku berjanji pada Dini, akan segera mampir ke rumahnya jika aku pulang nanti.

Tidak begitu banyak barang yang aku belanja di pasar. Perlengkapan sekolahku hanya ada di toko buku yang besar. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Suasana di jalanan sedang bisa diajak kompromi. Aku senang, perjalanan tidak macet, walaupun hari libur. Pun di dalam angkutan tidak penuh penumpangnya. Aku bisa leluasa bernafas di dalamnya.

Syukurlah. Aku mencintai perjalananku kali ini.

Setelah aku memberi kode kepada mamang angkot untuk berhenti di depan sebuah konter. Aku segera turun, lalu melenggangkan kaki menuju rumah Dini. Aku sudah berjanji akan menemuinya.

“Kamu sendiri aja?”

“Iya, kenapa Kak Din?” tanyaku penasaran.

“Tidak ada apa-apa, kok”

Begitulah jika aku sudah kumpul dengannya. Segala hal pasti menjadi pembahasan di dalamnya. Hingga hampir menjelang sore, aku pun segera berpamitan pulang.

Beruntungnya aku kali ini, di perjalanan pulang ada tetangga yang memberikan tumpangan padaku, jadi aku tidak capek lagi.

Kurebahkan badan di atas kasur sambil menunggu air hangat untuk mandi. Setelah siap, aku segera membersihkan badan dari baunya keringat di seharian penuh.

Setelah selesai mandi, aku mendapat SMS dari Dini.

πŸ“© : Rin ada yang minta nomor hp kamu

πŸ“© : Siapa Kak Din?

πŸ“© : Rizki

πŸ“© : Kok bisa?

πŸ“© : Iya, tadi pas kamu di rumahku, dia ada di dalam kamar. Dia malu, jadi gak keluar. Pas kamu pulang, eh dia minta nomor kamu. Boleh ‘kan?

πŸ“© : Untuk apa?

πŸ“© : Ya untuk kenalan aja. Dia sepupu aku loh, baik kok orangnya.

πŸ“© : Oh, ya udah.

Sebenarnya aku tipe orang yang gengsi sekali urusan begituan. Tapi, kali ini tidak. Dia sepupunya temanku.

Tanpa kutahu, ternyata yang dikatakan Dini benar, tidak lama dari itu Rizki ada menghubungiku.

Dia bilang, dia sedang liburan di rumah neneknya. Kebetulan kuliahnya libur. Jadi agak lama dia di sini. Dan selama ini baru hari ini dia melihatku.

Singkatnya, dia jatuh cinta padaku. Pun aku jatuh cinta padanya. Tapi, betapa menyakitkannya ketika Rizki harus kembali ke Jakarta dan melanjutkan kuliahnya.

Rizki mulai senang bercerita tentangku pada ibunya. Aku pun menceritakan tentang Rizki pada ibuku. Sejak Rizki menceritakan tentangku pada ibunya, ibunya sering diam dan tidak merespon apa pun.

Perubahan sikap Rizki padaku, mengundang banyak pertanyaan yang tidak bisa kutemukan jawabannya.

Hingga suatu hari datang tante Nina, tantenya Rizki dan berkata “Ibunya Rizki adalah mantan ayah kamu”

Kita boleh saja mengingat masa lalu, tapi tidak untuk diulangi

Brina, 02 April 2019

18 KOMENTAR

  1. Masa lalu kalau enggak layak untuk dikenang dan menyakitkan, lupakan saja. Kalau aku sih maunya menghilang diam-diam. Melegakan rasanya. πŸ˜‘

    Brina, ada titipan salam dari Nemoo buat Babang Dondon. Sekadar menyampaikan loh. πŸ˜„πŸ˜†