Pixabay.com

Buat goodthinkers and goodwriters yang ada di tanah rantau, menjelang bulan puasa pasti banyak yang membayangkan bisa makan sahur dan buka puasa di rumah orang tua. Iya tidak? Tenang kawan, kamu tidak sendiri, sebab aku pun sama. Lagi homesick stadium akut.

Oleh sebab itu, kemarin aku nekat pulang. Hehe … beruntungnya jarak yang harus kutempuh tidak terlalu jauh untuk sampai ke kampung halaman. Bapak, ibu juga adik, mereka terkejut ketika aku pulang, sengaja memang tidak memberi kabar lebih dulu. Sesekali, aku tidak mau membuat orang tua repot menyiapkan masakan ini itu, membersihkan kamarku yang berdebu. Tidur di karpet depan TV pun tidak masalah bagiku.

Selepas isya’ kuhubungi teman-temanku yang rumahnya dekat, kuajak mereka ketemu, berkumpul di serambi mushola tempatku belajar ngaji jaman dulu. Dari sepuluh orang, yang datang cuma tiga, sisanya absen dengan alasan yang beragam.

Niatku mengumpulkan mereka yang tidak pergi ke mana-mana alias sebagian besar sudah berkeluarga dan menetap di desa, aku ingin tahu ada kegiatan apa menyambut bulan Ramadan tahun ini. Salah satunya menjawab, β€œOra ono Yuk, saiki sepi. Bedo karo jaman awake dewe mbiyen.”

Ada kecewa yang terbersit dalam hati, sebab kepulanganku ingin mengulang kembali kisah lalu. Mengenang sewaktu kecil dan kebersamaan yang dulu pernah kualami.

Balik lagi ke rumah dengan banyak pertanyaan yang hinggap, aku tidak bisa tidur. Bayangan lembar demi lembar tawa dan banyak cerita terputar jelas dalam benakku.

Dulu ….

Empat hari sebelum masuk hari pertama bulan Ramadan, kami kompak mengadakan warming up, mengurangi makan dan minum, ada yang diniatkan puasa sekalian. Selepas ashar, teman-teman yang sudah lancar baca Alqur’an mengajar ngaji iqro anak-anak kecil.

Tak hanya itu, kami juga gotong royong mengecat Mushola, mencuci mukena, horden, apa saja yang tidak baik alias buruk cepat diperbaiki. Pernah satu kali, aku diminta memperbaiki amplifier, kerusakan umum distorsi suara dan yang dipakai setiap hari ampli cadangan. Dengan kesoktahuanku yang masih minim ilmu, pun aku tidak tahu pula kenapa malah disuruh ngecek bukannya dibawa ke tukang reparasi.

Aku bongkar ampli itu, aku cek satu-satu perangkatnya. Ketemulah menurut analisisku apa yang menjadi sebab alat elektronik tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tidak lain adalah power supply dioda. Lantas aku minta dibelikan benda mungil yang bernama dioda itu, begitu terbeli langsung kucopot yang lama ganti baru, lantas kupasang ulang PCB aka Printed Circuit Board di tempat semula. Pas kucolokan ke soket listrik, blame ada letupan kecil diikuti percikan api. Kami semua kaget, tak lama kemudian malah tergelak, entah apa yang lucu sampai kami tertawa. Tetapi, ada juga yang menyalahkanku, kenapa tidak mengecek berapa ampere dioda tadi. Karena memang, kode voltase sudah hilang, jadi tidak bisa nebak ampere. Lagipula, aku tidak punya amperemeter, okelah itu kekonyolan yang berakhir harus ganti pula perangkat lain karena secara otomatis malah ikut rusak.

Guys, semoga yang awam tentang elektro, enggak pusing baca ceritaku. Misal tidak paham, silakan baca-baca atau browsing di internet.

Dan aku tertawa sendiri sewaktu ingat kejadian itu.

Kembali menelisik ke untaian childhood memory, masih lekat dalam ingatan ketika sholat subuh kami memilih ada di shaf belakang. Karena aku dan teman-teman punya rencana kabur agar tidak diminta ikut tadarus pagi.
Turun dari Mushola, pulang ambil sepeda, itupun sering kucing-kucingan sama emak. Soalnya beliau yang terhormat selalu ngomel kalau tahu aku ikut sepedahan pagi. Bukan masalah bersepedanya, tapi ke mana tujuannya dan apa yang biasa kulakukan bareng teman-teman.

Kami menempuh jarak yang cukup jauh, sekitar tiga puluh menit untuk sampai di perbatasan desa. Di sana adalah titik tengah, letaknya di area terbuka, sawah milik perangkat desa setempat yang bagian tepinya ada pohon-pohon rindang. Guys, dulu selepas subuh itu masih gelap banget yak, penerangan yang dipakai cuma korek api yang ada senternya. Itu pun punya bapak yang kubawa.

Aku sih cuma nonton teman-teman cowok main mercon bumbung, mereka sudah prepare banget dari rumah, ada yang bawa ini dan itu. Tidak jarang, kami mengerjai orang yang melintas, sengaja menyalakan mercon itu di tepi jalan raya. Bahkan pernah, ada anak MTS yang nangis karena tidak berani lewat.

Tahu tidak apa yang sangat terkenang dalam benakku tentang tempat itu. Matahari terbit. Iya, matahari terbit-nya cantik sekali. Itu momen yang kutunggu setiap pagi di bulan Ramadan, apalagi bersama teman-teman yang salah satunya dulu pernah aku suka.

Kala matahari sudah meninggi, kami pulang ke rumah masing-masing, mandi lagi lalu berangkat ke sekolah.

Sekarang, aku kembali berpijak pada masa kini, ternyata tidak ada lagi keseruan menyambut Ramadan.
Dengan kecewa yang kupendam, aku memilih balik meski emak menahanku untuk sahur dan buka puasa pertama di rumah. Dengan sedikit penjelasan, kutolak permintaan beliau.

Sebenarnya, ada tanggung jawab yang kutinggalkan misal tetap bertahan di rumah.

Kemarin sore, aku lewat Mushola yang kudatangi. Rasanya getir. Kenapa sekarang hanya dinginnya keramik yang menyapa? Ke mana perginya mereka, orang-orang yang bisa terbilang punya wewenang. Kenapa suka cita menyambut bulan penuh berkah itu tidak ada lagi?

Tergeser oleh hal penting apakah kemeriahan bulan yang hanya ada setahun sekali ini? Apa yang akan jadi cerita anak-anak jaman sekarang ketika mengingat masa kecil mereka, saat beranjak dewasa nanti?

Miris sekali. Semua lini postingan sosial media ramai mengucapkan selamat berpuasa, tapi keramaian semu itu tak terealisasi dalam kehidupan nyata. Itu yang terjadi di tempat tinggalku, aku tidak tahu hal yang sama kalian temui di daerah sendiri atau tidak.

Tetapi, mungkin kamu akan tergelitik dengan fakta yang satu ini, coba kamu bandingkan berapa ucapan selamat berpuasa yang kamu terima di media sosial dan di dunia nyata? lebih banyak mana.

Sambutan untuk bulan puasa memang diukur dari niat setiap manusia, bukan apa yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan tersebut. Tetapi, tidakkah mengucapkan secara langsung akan menjalin keakraban, mengeratkan silaturahmi, pun mungkin terhitung amal kebaikan. Allahualam.

Berharap keberkahan di bulan Ramadan, aku ingin menyambutnya secara nyata lebih dulu. Barulah, kuucapkan selamat berpuasa di kehidupan maya, termasuk tulisan ini.

Untuk semua yang pernah membaca tulisanku, baik kenal secara personal atau hanya sekadar lewat, kuucapkan selamat berpuasa di bulan Ramadan. Mohon maaf, kuucapkan setulusnya jika ada salah ketik, kata, kalimat, pun secara lisan untuk siapapun yang pernah bertemu muka. Sekali lagi maaf dan terima kasih sebab kalian mau mengenal aku yang bukan siapa-siapa ini.

At least, sebelum mengetik postingan atau pesan berupa sambutan untuk bulan penuh berkah, sudahkah kamu mengucapkannya secara langsung pada orang-orang di sekitarmu, keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, sudahkah?

Kalau belum, jangan lewatkan waktu yang masih membersamai.

Di depan meja kerja
Blora, 5 Mei 2019

Tertanda

Yuke, Fiya, Keke, Eneng, Arfi, Rifi, Ayu, T-Rex.

8 KOMENTAR

  1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Aku enggak ngerti dengan segala hal yang berkaitan dengan elekronik. Dengan listrik saja aku trauma karena pernah tuh tersengat listrik. Wkwkwkk.πŸ’₯πŸ’£

    Aku kategori orang yang enggak mudah rindu rumah kalau sudah ada di luar kota. Wkwkwk, entah mengapa. Embuh aku. πŸ˜΅πŸ™„

    • Wah, Kak Ana strong sekali, bisa tidak rindu rumah. Beda sama aku yang suka inget emak, hiks

      Btw, maafken jadi ngelantur bahas elektro wkwkwk bagian dari memori kesoktahuan daku. 🀣🀣🀣 Aku pernah kesetrum juga, tapi dikit doang dan enggak trauma. ✌️

  2. Ya ampun, kak yuke mainannya elektro-elektroan. Aku mah apa, beraninya cuma petasan bawang sama kembang api wkwkwk

    Paling nangkepin kecebong di sawah, trus dibalikin lagi hahsha

    Btw, meski telat, selamat berpuasa Kak Yuke. Semoga lancar dan berkah sampaiakhir ❀