Sumber gambar pixabay.com/bru-no

 

Untuk pikiran ibu yang luar biasa, harus kuacungkan jempol sebanyak empat buah, meski harus menarik dua jempol kakiku ke depan. Belum ada manusia seobjektif dia yang pernah kutemui. Mungkin, dan bisa saja karena memang mainku yang kurag jauh. Namanya juga anak desa, yang kalau keliling, ya akan ke situ-situ jua, dan ya kalau keluar, nggak jauh-jauh.

Tema politik adalah hal yang membuatku melihat dengan benar, siapa wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku. Sebuah pikiran jernih, yang lahir dari sesoerang yang tak sempat alias tidak berkesempatan mengenyam bangku sekolah menengah atas, namun pikiran-pikirannya membuatku tersadar, bahwa ia bahkan menembus pikiran-pikiran yang mengenyam bangku kuliah.

Jika saja ada nobel penghargaan, maka akan kuberikan padanya. Pada ibu yang sudah semakin tua, namun jiwanya terus memuda, memutih rambutnya, namun memutih pula hatinya. Semakin renta tubuhnya, semakin kuat dan kental pemikirannya. Meski di rumah, tak banyak buku yang dibaca, bahkan nyaris tak ada. Karena memang jumlah buku terbatas, itupun tak sebuahpun yang membahas soal duani. Buku-buku di rumah yang jumlahnya tak sampai dua puluh itu hanya berputar soal agama, soal surga dan neraka, soal dzikir dan ibadah.

Namun pendapat objektifnya benar-benar mnegalihkan duniaku, dan tak mampu diwariskannya kepadaku. Entah tidak mampu diwariskan, atau memang aku yang tidak ingin diwariskannya. Kejernihan dan kesabarannya dalam menghadapi badai dan polemic, dinamik selalu mengagumkan. Tak pernah mau menyalahkan, namun terus memberikan keterangan-keterangan yang membuat tercengang meski sederhana, amat sederhana, dan sangat sederhana.

Ia bagaikan Jalaluddin Rumi bagiku, yang pola pikirnya selalu tidak pernah ingin mencari siapa yang salah, tetapi lebih kepada bagaimana semuanya dapat diubah ke arah yang lebih baik. Tak sedikitpun ada kalimat menyalahkan yang terlahir dari mulutnya.

“Tunjukkan padaku sebuah keburukan yang tidak mengandung kebaikan di dalamnya atau sebaliknya. Seseorang yang hendak membunuh tiba-tiba berhasrat untuk berzina, akibatnya dia tidak jadi membunuh. Benar bahwa zina adalah perbuatan tercela, tapi ia menjadi penghalang bagi terjadinya pembunuhan. Pada sisi inilah zina mengandung kebaikan” ~ Jalaluddin Rumi

Jika netizen berkomentar, maka akan muncullah komentar-komentar pencelaan yang menyakitkan. Misal, “Halah, karena perempuannya yang pakaiannya tidak bisa dijaga”, “Kan dia bisa melawan”, dan berbagai nyiyiran pedas yang menusuk hingga ke ulu terdalam bagian hati.

Ah, ibu. Seseorang yang paling tulus dalam bersikap dan bertindak. Tempat belajar menafsirkan kata mulai dari mengejanya. Tempat menangis dan tertawa. Termasuk di dalamnya tempat belajar melihat seseuatu dengan mengedepankan pandangan positif. Tidak melulu menempatkan kesalahan yang menjadi unggul.

Jika dibayangkan, memang sesederhana itu. Tapi jika dipraktekkan, sungguh manusia lebih suka mengedepankan yang buruk-buruk kepada oranglain baru kemudian kebaikannya, itupun justru kebaikan kadang malah terlupakan. Aku, ya itulah aku.

Yang suka berkata kasar ketika sudah kesal sampai di ubun-ubun. Tidak peduli apapun. Betapa, buruknya pikiranku yang sudah disekolahkan hingga setinggi ini. Budi pekerti seolah hilang dalam diriku, semua yang diajarkan ibuku yang sederhana-sederhana lenyap dilahap oleh api kebencian dan kekesalan.

Betapa, buruknya aku. Sampai tadi malam, kekesalanku tentang kondisi yang seperti ini ingin kuluapkan dengan penuh, justru menghantam diriku sendiri. Kalap. Betapa bodohnya kepala yang sudah disekolahkan dan dididik ini. ya, bisa saja apa yang kupelajari selama ini, mengalir kepada mereka yang menyekolahkan bukan? Ibuku dan ayahku misalnya. Hingga yang terlihat terdidik adalah mereka, bukan aku yang dungu ini.

“Bu, ndak liat TvOne?”, tanyaku. Sebab bagiku, dengan menonton yang disiarkan di sana, bisalah melihat-lihat. hehe, sekedar lihta-lihat tanpa berkomentar.
“Ngapain? Emang ada apa di sana?” malah ditanya balik.

Ya manaku tahu sedang ada siaran apa di sana, aku hanya menduga, bahwa mungkin sedang ada berita menjelang pemilu, maybe. Namanya juga anak kost, TV warisannya sudah rusak, jadilah media satu-satunya yang lebih canggih dari tv menjadi alternative, apalagi jika bukan YouTube?

Manusia lebih leluasa di sana. melihat potongan-potongan video yang disajikan dengan rasa bersalah atau tanpa rasa bersalah. Sebab tidak sedikit yang memotong sesukanya untuk menjatuhkan lawan. Akh, mbuh lah.

Sampai kepada pesannya,
“Nak, sudahlah, jangan hanya melihat buruknya . Selama ini, pasti ada hal baik yang diperbuat. Jangan ikut campur untuk hal-hal yang hanya engkau ketahui lewat bacaan dan tayangan. Dunia yang nyata, lebih dari sekedar bacaan dan tayangan nak. Sudahlah, doakan saja yang terbaik. Jangan melihat yang buruknya saja, cari dulu kebaikannya. Toh kalau kamu mau dinilai, engkau lebih suka dinilai subjektif kan? maka, subjektiflah.”

Sesederhana itu, tapi sulit. Terimakasih Ibu, yang di dunia nyata kupanggil emak. Semoga sehat selalu dan selalu dalam lindungan-Nya. One more, semoga selalu menjadi orang baik yang selalu melihat sisi baik dari oranglain. dan maafkan, jika perilaku-perilaku baikmu sulit untuk kutiru. Doakan saja~

 

Jogja. Rindu. 13 April 2019.

3 KOMENTAR