Pixabay.com_Buntysmum

Aku tidak sabar menanti penghujung Februari, walaupun tanggal lahirku tidak ada lagi tahun ini, tidak ada lagi ulang tahun untukku kali ini.

Tanggal lahirku yang hanya empat tahun sekali menjadikanku suka menuliskan tanggal lahirku pada buku-buku yang kubeli, sebagai penghibur diri.

Tahun lalu, di tahun yang juga aku tidak menemukan tanggal kelahiranku, ibu menghadiahkan satu pot tanaman carnation warna merah muda. Karena tidak tertarik, aku sering lupa menyirami tanaman tersebut, jadinya ibu yang merawat hadiah pemberiannya itu.

“Pagi Sayang” suara Ibu menyambut pagi sambil menyirami tanaman carnation.

“Helen, kenapa kamu tidak coba mengajak bicara tanaman yang ibu berikan?”tanya Ibuku.

Aku hanya mengangkat bahuku dan melanjutkan sarapan.

“Kita bisa saling berbagi emosi dengan tanaman lho, Helen bisa curhat sama tanaman.”

Kalimat aneh, entah dari mana ibu mendengar kalimat tersebut.

***

Dua bulan terakhir, kegiatan menyiram carnation harus aku ambil alih, karena tak ada lagi yang melakukannya. Hidup segan, mati tak mau, itulah mungkin kalimat yang bisa menggambarkan tanaman carnation yang kusirami ini. Sudah dua bulan tanaman ini nampak layu, tapi tidak ada sinyal untuk mati.

“Kamu harus mengajaknya bicara Helen” suara Bibi Tiara mengagetkanku.

Sama seperti ibu, sering kudapati Bibi Tiara bicara sambil menyirami tanamannya.

“Carnation itu mulai layu semenjak ibumu meninggal bukan?” tanya Bibi Tiara.

“Iya.”

Semenjak ibu meninggal, tanaman carnation ini mulai layu.

“Dia menyadari pemiliknya yang telah tiada, masih baik carnation ibumu tidak benar-benar mati”

Aku masih tidak bisa menangkap maksud ucapan Bibi Tiara.

“Mungkin kamu belum melihatnya Helen, itu karena kamu tidak mencoba peduli. Tanaman bisa mengenali tanda-tanda yang terjadi pada tubuhmu. Sel-sel tubuh kita bahkan telah bersiap saat tubuh akan ditinggalkan nyawa. Coba saja kau periksa, kulit orang yang meninggal tidak akan berbunyi saat digosok, sama dengan tubuh orang yang akan segera menemui ajalnya, berbeda dengan kita yang masih hidup“ lanjut Bibi Tiara dan ia kembali menyirami tanaman yang ada di teras rumahnya.

Ucapan Bibi Tiara membuatku merinding, walaupun aku tidak sepenuhnya percaya dengan hal-hal seperti itu, ucapannya sore ini sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan saat pertama kali aku mendapati Bibi Tiara bicara dengan tanaman.

*****

Saat ingin mengangkat pot tanaman carnation pagi ini aku teringat ucapan Bibi Tiara, dan menggosok kulit lengan kiriku, tidak ada suara. Ayolah Helen, apa kamu harus percaya ucapan Bibi Tiara kemarin.

“Helen, kita harus segera pergi!” Ayah membuyarkan lamunanku.

Aku dan ayah memutuskan untuk pindah ke kota tempat adikku kuliah. Tidak ada lagi alasan kami tetap tinggal di kampung halaman ibu sekarang. Tak lupa, carnation yang baru saja kusiram tadi subuh aku angkut ke dalam mobil.

Aku duduk di dalam mobil dengan pot tanaman carnation dipangkuanku. Jalanan kota kecil ibuku masih sepi pagi ini, hutan di kiri dan kanan, menemani sepanjang perjalanan.

Aku menatap carnation yang kupangku. Beberapa detik kemudian suara klakson mobil saling beradu, semuanya menjadi kelabu.

*******

Aku sendiri di penghujung bulan Februari. Sebelum lupa, aku tuliskan tanggal lahir kakak pada lembar pertama novel yang baru aku beli siang tadi, novel yang rencananya akan aku hadiahkan padanya tahun ini.

Aku letakan novel tersebut di samping pot tanaman carnation merah muda milik kakak, hadiah ulang tahun dari ibu untuknya tahun lalu.

19 KOMENTAR

  1. Aku enggak terlalu tertarik dengan bunga. Lebih suka tanaman hias hijau. Namun, aku suka sansevieria. Aku taruh satu pot kecil di kamarku. Faktor kebutuhan wkwkwkkw. 🍀🍀

    Ah, nama Helen mengingatkan teman masa kecilku. Hiks.😥😢