https://pixabay.com/images/search/rindu/

Yang tua, pasti sudah tak muda. Betul? Anggap aja gitu ya.

 

Kota rantauku sedang diguyur hujan lebat malam ini. Bagaimana kotamu? bagaimana kota kecilmu? atau sama sepertiku, bagaimana kota rantaumu? apakah saat ini sedang diguyur hujan lebat juga? atau malah sebaliknya? panas, gerah, dan sumuk? atau justru malah pebuh sesak, karena dijejali terus menerus oleh masalalu?

masalalu? hallow, Makhluk jenis apa ya?

Baiklah, bagaimanapun kondisinya, Rindu selalu berharap yang terbaik, seperti hubungan kita. Eh, Iya, hubungan kita dengan Tuhan dan dengan semua makhluknya maksudku. Jangan shaudzan, nggak baik.

Baiklah, ketimbang basa-basi yang hampir basi. Izinkan mahasiswa tingkat akhir ini berkeluh-kesah lewat jemarinya merasakan rindu, seperti namanya.

Menjadi mahasiswa semester tua, apa yang ada di bayangan kalian? Bahagia, karena sudah tidak ada kuliah? tidak ada kelas? Gembira, karena sudah tidak bertemu dengan dosen-dosen yang … (isi sendiri)? Hey, itu hanya prasangkamu saja, jika menjadi mahasiswa semster tua itu menyenangkan, penuh kebahagiaan. Faktanya?

Kalian akan rindu. Rindu pada kebisingan kelas yang tiada habisnya, rindu pada tugas yang tak hanya menguras waktu, tapi juga kantong. dan yang paling penting adalah, rindu pada teman-teman yang sudah menemani perjuangan di kelas, kantin, mengerjakan tugas, main selama awal perkuliahan. Iya kan?

Ah, jadi rindu. Rindu harus masuk kelas pagi-pagi. Berpacu dengan waktu, melanggar lampu merah karena alasan “aku kan pakai sepeda”.  Rindu pada wajah-wajah yang polos dulu. Alah. Rindu deh.

Yakin, masih pengen cepet-cepet semester tua? Nggak enak loh. Selain ketidaksedapan d atas, semester tua juga harus sadar, kalau bakalan banyak tuntutan dari sana-sini. Nggak percaya? Udah, percaya aja, Rindu udah ngalamin gaes. Ditagih skripsi, ditanyain mau kerja dimana. Ribet? Alah, nggak ada yang ribet kan ya? adanya Robert Kali. Eh, pinjem nama bang. Ya entah abang siapa dah.

Yakin, pengen banget cepet-cepet lulus? Hhahai, kehidupan baru akan dimulai setelah lulus. Jadi, sekarang kita masih jadi embrio, yang harus berebut menjadi sang juara. Kompetisinya ya, bukan melawan oranglain, tapi melawan kemalasan diri sendiri yang sukanya nunda-nunda waktu pengerjaan tugas akhir, alias skripsi.

Yakin? Akg, yakin aja gaes, iya, yakin aja kalau sripsi itu mudah, asalkan selalu rajin, rajin mikirin kamu misalnya. Eh, bukan, tapi rajin membaca, iya membaca pikiran kamu. Ngawur deh. Serius-serius.

Buat kalian yang nganggap kalau skripsian itu sulit, ya jangan dianggap sulit. Gampangkan? Tau kenapa? Karena sesuatu itu, tergantung dengan dugaan dan prasangka kita. Lupa po, kalau Allah itu bersama prasangka hamba-Nya? Yaudah, kan udah tak ingetin.

So, yang sekarang masih sibuk ngerjain proposal, semangat gaes. Santai aja, nikmati prosesnya. Semangat.

Ada tips nih buat kalian, sederhana sih, tapi bisa dicoba, kalau nggak berhasil, yaudah, hehehe.

  1. Tentukan target – Gaees, menentukan target itu perlu, dan amat perlu. Tau kenapa? Karena, kalau sudah ada target, kita akan berusaha untuk memenuhi dan mencapainya. Kalau aja nggak punya target. Nggk punya target kapan mau wisuda, kapan mau nikah, dll-nya, kita kayak nggak punya tujuan gitu, nggak punay sesuatu yang bisa nyemanagatin kita. Inget loh ya, yang nyemangatin itu, nggak meski PACAR. Makanan jenis apa itu (?).
  2. Berikan Waktu Spesial- Waktu spesial? maksudnya? Halah, kalau aja disebutin seseorang yang spesial, pasti pada dong. iya kan? Alah yauwes. Gini, maksud dari waktu spesial adalah, dalam setiap hari, kalian harus menyisihkan waktu khusus untuk mengerjakan skripsi, ataupun proposal kalian. Ya, buat aja minimal 3 jam, maksimal 6 jam. singkatkan? misalnya, ketika selesai shubuh, sampai dzhur. Bentar kok itu. Seriusan. Kita itu, kenapa ngerasa susah melakukannya? karena kita terlalu enggan untuk memulainya. Seriusan deh. Coba aja udah dimulai, pasti ngerasa kayak, kok waktunya bergulir cepet banget. Silahkan dicoba.
  3. Sediakan Bahan-bahan. -Pertama, silahkan ke pasar. eh, emang mau masak? Untuk bahan-bahan, agar teman-teman tidak sakit matanya, bisa diprint out, seperti referensi-referensi yang berasal dari online. Untuk mempermudah.
  4. Istiqamah, ini penting. Tau kan?
  5. Ponsel bisa dimatikan- Benda kecil itu memang kecil, tapi mengganggu. Bener ? Jawab aja sendiri. Apa sih susahnya mematikan ponsel selama 6 jam sehari doang? Gampangkan? Lagian, emang 24 jam ada yang ngechat? wk. Burjo aja udah nggak 24 jam. Beneran
  6. Kamar, Biarin berantakan dulu- Untuk membuat teman-teman nyaman mengerjakan tugas akhir, tak perlulah punya kamar bersih-bersih, yang ada, kesulitan nyari data dan referensinya. Biarkan saja ia berantakan selama beberapa bulan, kan alasannya mempermudah. Jika ada teman? Halah, kan bisa diomongin. Gitu aja kok repot. Biarkan berantakannya kamar kita menjadi saksi, bahwa kita pernah berjuang. Biar kayak orang-orang.
  7. Minta doa kepada orantua- Ya, meski tanoa diminta, orangtua kita akan mendoakan, tapi, apa salahnya? Dengan doa mereka, kita akan semakin mudah mengerjakannya. Nggak yaqin? Lah kok ora yaqin, koe ki piye toh?
  8. okeh, Udah kebanyakan, terakhir nih gaes, jangan lupa, main. Hehehe. Main itu penting gaes, kamu juga butuh bahagia. eh. Jangan sampai, karena terlal serius, kamu mengabaikan me time, dan refresh ya. Ini penting, jangan sampai jadi kurang piknik. Ya, sediakan saja satu hari full untuk membahagiakan diri sendiri. Misalnya, Hari Ahad, khusus buat main.

Simpel kan? Ah, aku cuma rindu. egh salah, lagunya bilang “Aku cuma punya hati”, yauwes, padahal aku nggak tanya loh mbak.

Masih deras gaes, semoga hati kita tidak seperti hujan rintik-rintik malam ini ya. Kita perlu bahagia. Sekuat apapaun oranglain mengganggu hidup kita, kita harus terus bahagia.

Dari sependek kalimat-kalimat di atas, aku cuma biang, Rindu gaes. Rindu kelas Tafsir Hadis ’15.

Rindu juga ke kalian, kalian siapa ya. hohoho.

Map ya, kepanjangan. wk

Udah hampir seribu kata aja ya~

RINDU

Jogja, 06 Maret 2019

 

10 KOMENTAR

  1. 👹👹👹 Astaga, kepalaku mendadak berasap dan tumbuh tanduk saat baca tulisan kamu ini. Ish, aku kecewa terhadap seorang Rindu yang mengaku semester akhir, tetapi tidak menghargai tulisannya sendiri. Waktu di sana kamu enggak separah ini juga kali. Pengen nangis deh bacanya. 😭😭😭

    Aku protes, Rindu. Terserah kamu atau siapa pun yang baca komentarku mau menilai aku bagaimana. Kok bisa seorang Rindu yang selalu diminta dosennya menulis di blog tidak memedulikan tanda baca dan penulisan huruf yang benar serta tetek bengek lainnya.Kamu enggak serius deh untuk tulisan ini. 😢😢

    Haloooo, Rindu-ku tulisanmu kali ini benar-benar parah deh. Kasihani kami yang sudah membacanya. Hiks hiks hiks. Tega banget kamu! Sebelum kamu kirim, seharusnya kamu baca lagi deh. Coba kamu baca lagi! Meskipun ini curhatan, tetapi enggak separah ini juga, Rindu. Jangan sampai orang lain mencibir Penakata karena hal ini. Ah, malam ini aku benar-benar membencimu. Terlalu banyak kesalahan yang kamu buat di tulisanmu kali ini. Maaf, aku kecewa dan kesal. Sangat kecewa. Kamu pasti mengerti apa yang aku maksud. 😢😢😢😭😭😭

    * Hai, apa kamu mau mogok bicara atau membenciku karena aku protes?! Sebenarnya, isi kepalaku penuh sekali, tetapi aku sudah minum cokelat instan dulu agar tenang. Baiklah, aku akan menerima konsekuensi dari komentarku ini. Peace.✌💜✌

  2. Kurasa, tidak ada yang salah tanda bacanya mbak. Wkwkwk

    Coba sebutin 😂😂. Karena itu, ditulis dengan niat yang tulus hahahaha.
    .
    .
    .
    Perjuangan itu. Ngumpul semangatnya. Ahai.

    Aku selalu menghargai apapun yang ada dalam diriku, termasuk tulisan yang kubuat. 😁

  3. Ah, kamu benar, Rindu. Kayaknya mataku yang bermasalah. Baiklah, aku mau memperbaiki diri untuk kesalahan yang aku buat.😒

    Tidak ada lagi yang harus aku sebutkan karena tidak ada yang salah. Jadi, bagaimana bisa aku menunjukkan kesalahan itu?😮😱

    Benar, butuh perjuangan untuk menghasilkan satu tulisan. Aku mengalaminya. Karena itu, aku enggak punya banyak tulisan. Enggak produktif juga.😑

    Syukurlah kalau kamu begitu, Rindu. Aku senang. Apa pun itu. Semoga tetap begitu, ya? Menghargai apa yang ada pada dirimu. Lanjutkan, Rindu. Tetap semangat dan tidak tergoyahkan. Hmmmm.😶😳

  4. Rinnnnnduuuuuu. eakk

    Wahaha. Kamu mengingatkanku dengan masa2 itu. Wah luar biasa sih perjuangan. Salah satu kalimat yang menguatkanku dulu ” Hasil tidak pernah mengkhianati usaha” Makanya kalau pas lagi gak dapet hasil maksimal, aku yakin karena usahaku yang kurang. Beruntung banget aku gk dapet doping yang killer. Tapi malah akunya yang jadi manja. Ahaha.

    Tapi teteplah cukup perjuangan luar biasa juga. Untung diawal aku udah nyiapin trik, judul skripsi yg gak ngeribetin diri sendiri (supaya di bilang keren) dan tempat penelitian juga harus disesuaikan dengan budget. Wahaha. Soalnya temen bnyak yg ngasal comot tanpa menyesuaikan dengan biaya dan lingkungan, keren kerenan judul dan perusahaan, eh malah menyulitkan diri sendiri. Hmm 😌

    Syemangat Rindu 🙌

    *Menyesuaikan dengan panjang komen kalian di atas. 😁ahihi