Gelas yang pecah berkeping-keping tak mungkin bisa dikembalikan seperti semula, seperti halnya yang buruk di dalam diri. Mungkin bisa untuk diperbaiki, namun akan ada bekas meski dalam bentuk kenangan masa lalu.
Sekuat tenaga kamu mencoba mengubur semua masa lalu itu. Semua jejak tentang dirimu, kamu musnahkan. Tak luput juga dengan jejak digital yang dulu pernah begitu kamu puja sebagai wadah dari segala bentuk aktivitasmu.
***
Pada malam itu, angin sedang bertiup membawa hawa dingin. Desir dedaunan pun begitu jelas terdengar di telinga. Dari balik kegelapan dengan berjuta bintang berkelap-kelip, ada satu cahaya dengan cepat melesat jatuh dan menghasilkan ekor berwarna putih agak kebiru-biruan muda. Kamu yang duduk di teras rumah tanpa sengaja sempat melihat kejadian itu sebelum akhirnya cahaya itu hilang di makan pepohonan nun jauh di sana.
Entah ada bisikan dari mana, namun seakan begitu jelas suara itu terngiang di telingamu, bahkan terasa merasuk hingga ke dasar hatimu.
“Tak ada yang abadi di dunia ini. Hidupmu harus berubah, jika tidak, merugilah kamu dengan apa yang tidak pernah kamu dapati.”
Kalimat itu yang berkali-kali terdengar setelah kejadian jatuhnya sebuah cahaya yang kamu lihat baru saja. Hatimu pun bergetar. Perlahan menyadari diri yang penuh dengan kekurangan.
Malam itu juga, air matamu menetes, hatimu terserang rasa penuh penyesalan. Malam itu juga, setelah melalui perenungan singkat, kamu putuskan untuk merubah hidupmu.
***
“Bismillah,” ucapmu di depan kaca dengan penampilan yang sudah 180 derajat berubah.
Selain Sang Khalik dan dirimu yang tahu, adalah kedua orang tuamu yang tengah sarapan. Mata mereka seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat kamu berjalan mendekati meja makan.
“Ada apa denganmu, Nak?” tanya Ibumu.
“Semua yang ada di dunia ini pasti berubah, Buk. Begitu pun dengan hidup. Setidaknya aku ingin merubah hidupku menjadi lebih baik dan dekat dengan-Nya,” jawabmu setelah duduk bersama di meja makan.
“Alhamdulillah,” ucap kompak kedua orang tuamu.
Dengan wajah haru, Ibumu pun menghampirimu. Memberi satu hadiah paling hangat. Bersama linangan air mata yang mulai menetes, Ibumu memeluk penuh kasih sayang. Seakan penuh rasa bangga dengan perubahan yang terjadi padamu. Kamu melihatnya seperti itu.
***
Dua tahun sudah berlalu. Sebagai orang yang mencintai literasi, kamu masih sering menulis di media sosial yang ada. Kini media sosialmu penuh hanya dengan tulisan-tulisanmu tanpa ada satu pun foto diri yang terpampang di sana. Bagimu, berubah bukan hanya menutupi, tapi merubah segala laku diri untuk meminimalkan kemaksiatan yang mungkin akan timbul dari mana saja, termasuk foto diri di media sosial.
Tak sedikit para pecinta tulisanmu yang begitu penasaran dengan sosok aslimu. Bahkan banyak yang berani mengirim pesan untuk sekadar bisa melihat sosokmu seperti apa. Namun dengan jelas kamu menolak itu semua. “Jika kamu suka dengan tulisanku, nikmati saja tanpa perlu tahu wajahku. Jika kamu melihat keindahan alam semesta ini, apa kamu juga harus melihat Sang Penciptanya? Nikmati saja dan aku akan berterima kasih untuk itu.” Jawaban seperti itu yang selalu kamu lontarkan kepada orang-orang yang merasa penasaran denganmu.
***
Hari itu, di grup kepenulisan, kamu dipertemukan dengan seseorang. Meski hidup dan penampilanmu telah berubah, namun sifatmu yang supel tak banyak berubah. Setiap orang tetap kamu izinkan untuk menjalin pertemanan denganmu, selagi itu tidak keluar dari syariat agama yang telah kamu genggam erat.
“Hai, Kertas, salam kenal, ya. Panggil saja aku Pena Kecil,” ucap seseorang itu dalam chat.
“Pena Kecil?” balasmu.
“Itu nama penaku di dunia kepenulisan. Seperti kamu. Aku tahu Kertas juga nama penamu, kan?”
“Bagaimana kamu yakin itu?”
“Entahlah, aku hanya menebaknya. Jadi maafkan kalau tebakanku itu salah. Tapi terlepas dari itu, aku tak ingin mempertanyakan lebih jauh tentang nama Kertas yang kamu pakai itu. Aku sudah cukup senang bisa kenal dengan penulis hebat seperti kamu, Kertas.”
“Ah, bisa saja kamu. Puisimu juga keren-keren, kok.”
Dari situ, kamu dan dia mulai akrab, mulai sering mengirim chat. Bahkan saling tolong menolong dalam dunia literasi. Entah itu musikalisasi puisi maupun saling meminta penilaian mengenai tulisan.
Selain itu, tak jarang kamu dan dia saling menanyakan kabar dan bercerita yang jauh dari literasi. Misalnya tentang aktivitas dan pekerjaan masing-masing.
***
Mungkin benar pepatah jawa bilang, weting trisno jalaran soko kulino. Ada perasaan yang mengalir menghangatkan hati. Bahkan tanpa bertemu, ada yang tumbuh subur di hatimu, benih-benih cinta.
Di saat benih cinta itu mulai tunas oleh waktu, ada satu badai yang mampu memporak-pondakan tunas itu. Ada suatu kabar cerita yang kamu dengar tentang Pena Kecil dari salah satu temanmu yang juga mengenal Pena Kecil.
Sungguh hal itu mampu membunuh benih cinta di hatimu dan mulai menjauhi Pena Kecil. Kamu merasa apa yang sudah kamu perjuangkan, tidak boleh hancur kembali, seperti masa lalumu.
Kamu merasa Pena Kecil tidak cocok denganmu. Dalam pikiranmu, dia akan menjadi penghalang antara hubunganmu dengan Tuhanmu.
“Astagfirullah. Ampuni aku ya Allah. Aku ingin tetap di jalan-Mu, jalan yang sudah aku pilih ini. Aku tak ingin ada yang merusaknya kembali. Jika Kau ingin menghadirkan seseorang, hadirkan seseorang yang mampu membawaku lebih dekat dengan-Mu,” ucapmu dalam doa tengah malammu.
***
“Kamu kenapa?” tanya teman sekantormu.
“Aku baik-baik saja, kok.”
“Ah, aku ini temanmu. Aku tahu mimik wajahmu saat kamu seneng dan sedih. Dan saat ini, mimik wajahmu menampakkan kesedihan. Galau masalah cinta?”
“Hehe, iya.”
“Sini cerita, siapa tahu aku bisa bantu.”
“Jadi gini ceritanya, singkat cerita, aku jatuh cinta seseorang. Tapi ternyata dia memiliki kepribadian yang sungguh buruk. Aku takut jika dengannya, perjuanganku di jalan Allah bisa berakhir sia-sia dan aku jatuh ke lembah hitam seperti dulu.”
“Seperti itukah dia?”
“Ya katanya sih begitu.”
“Sebentar …”
“Sebentar apanya?”
“Sebentar, kamu tadi bilang katanya? Jadi kamu tahu tentang seseorang itu dari katanya orang lain?”
“Iya. Ada yang bercerita semua tentang dia.”
“Ya ampun! Kamu itu baru denger kata orang sudah begini. Bagai mana kalau orang itu salah?”
“Siapa tahu bener juga.”
“Siapa tahu juga orang itu ada masalah atau dendam terhadap orang yang kamu suka. Kalau boleh tahu, yang bercerita kepadamu itu cewek atau cowok?”
“Cewek.”
“Nah, kan! Siapa tahu cewek itu ada dendam dan sakit hati karena ditolak oleh seseorang yang kamu suka itu. Lalu bicara yang bukan-bukan agar dia patah hati juga denganmu. Siapa tahu, kan?”
Kamu diam. Seolah ucapan itu mampu bersarang dan mengganggu pikiranmu.
“Oke lah, jika semua yang dikatakan cewek itu benar, tapi bisa juga kan itu hanya masa lalu dan sekarang mungkin sudah berubah. Maaf, seperti kamu,” lanjut temanmu
Kamu tetap diam.
“Who knows? Tidak ada yang tahu, kan? Sebelum kamu cari tahu sendiri, sebelum kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri. Seperti kata-kata orang, kenali seseorang bukan dari katanya,” ucap temanmu lagi.
Seperti sebelum-sebelumnya, kamu masih diam.
***
“Apa benar ya yang katakan Feni?” ucapmu dalam diri.
Seolah apa yang dikatakan Feni memang benar adanya. Mengenali seseorang jangan dari katanya orang lain. Sebab segala kemungkinan itu bisa terjadi. Pikirmu.
Tapi semua sudah terlambat. Seperti ada perasaan malu jika harus menghubungi Pena Kertas lebih dulu, sedangkan sepertinya Pena Kertas pun sudah enggan menghubungimu setelah hampir dua bulan kamu acuhkan segala chat yang masuk ke ponselmu.
“Ya Allah, aku harus apa?” keluhmu kepada Tuhan.
Doa demi doa terbaik kamu panjatkan kepada Tuhanmu setiap kali selesai sholat. Dan kamu begitu sabar menunggu jawaban dari semua doamu. Kamu akan terima apa pun jawaban itu. Kamu sangat yakin, apa yang terjadi nanti adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan kepadamu.
Lima bulan berlalu. Hingga di sebuah acara peringatan literasi tingkat nasional, kamu dipertemukan kembali dalam bentuk nyata. Memang sebenarnya sejak awal bertemu dalam sosmed, kamu sudah tahu bahwa Pena Kecil berdomisili satu kota denganmu, tapi takdir yang belum pernah mempertemukan kalian secara nyata.
Ada rasa senang bercampur bingung seketika hinggap di hatimu saat kamu duduk berada di kursi yang bersebelahan dengan dia.
Ingin sekali menyapanya, namun mulutmu seakan dikunci. Entah apa jadinya jika Pena Kecil tahu yang duduk di sebelahnya adalah dirimu.
Memang selama kalian berkenalan, kamu tak pernah sekali pun menampakkan wajahmu, meski pun dalam bentuk foto. Beda denganmu yang begitu hafal dengan wajahnya. Kamu menemukan foto-foto miliknya bertebaran di sosmed.
Dari awal hingga pertengahan acara itu berlangsung, kamu belum juga mampu menyapanya. Hingga sampailah pada saat pengumuman pemenang lomba puisi itu dibacakan, namamu ikut disebut sebagai pemenang juara ke dua dan kamu diminta untuk naik ke atas panggung. Saat itulah kamu melihat matanya yang juga melihatmu penuh rasa heran. Dari sorot matanya, kamu bisa melihat bahwa kini ia sadar kalau itu adalah kamu. Kamu yang sudah dikenalnya.
Keadaan itu tak berlangsung lama, kamu harus tetap berjalan menuju panggung. Dari kejauhan, matamu tak rela untuk tidak mengarah kepadanya. Pun begitu juga dengan Pena Kecil yang terlihat begitu tajam mengawasimu.
“Kamu …” ucapnya ketika kamu sudah kembali ke tempat duduk semula. Berada di samping Pena Kecil.
“Iya, ini aku, Kertas,” jawabmu. “Kamu apa kabar?” lanjutmu.
“Aku …”
“Iya, kamu. Kamu apa kabar?” ucapmu sekali lagi. Sungguh kamu ingin sekali tertawa melihat ekspresi Pena Kecil yang seakan masih tak percaya, seperti dirimu tadi.
“Kamu ke mana saja? Aku mencarimu.”
Kata-kata itu mampu membuatmu terdiam sejenak. Dalam hati, kamu sedang menerjemahkan kata-kata itu.
Obrolan berpindah tempat setelah acara itu selesai. Di salah satu tempat ngopi menjadi pilihan untuk melanjutkan obrolan.
Di situ kamu tak bisa membendung lagi apa yang sudah menumpuk dalam hatimu, cinta, keresahan dan rasa penasaran. Kamu bercerita banyak tentang semua yang kamu rasakan itu.
Sungguh kaget Pena Kecil mendengar apa yang kamu katakan. Setidaknya seperti itu yang kamu tangkap dari wajahnya.
“Sekarang gantian aku yang bicara, boleh?” ucapnya.
“Silakan.”
“Asal kamu tahu, begitu kamu menghilang secara tiba-tiba, aku sungguh kelabakan. Aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya apa yang sudah alu perbuat kepadamu sehingga kamu menghilang begitu saja. Apa aku ada salah? Sebenarnya jika kamu ingin menghilang atau menjauhi aku, silakan, tapi setidaknya aku tahu apa penyebabnya.”
“Aku minta maaf untuk itu.”
“Tak apa, sudahlah, lupakan saja. Aku memang sempat mengira seperti itu dan ternyata benar dia bicara kepadamu. Dan akhirnya aku sadar, bahwa aku memang tak pantas untukmu.”
“Maksudmu?”
“Apa yang dikatakan dia benar. Aku bukan orang baik. Aku tak pantas untuk memintamu jadi milikku, bahkan mencintaimu saja aku serasa tak pantas. Sejak saat itu aku putuskan untuk tidak mencari dan menghubungimu lagi.”
“Tapi kamu juga belum mengenal aku.”
“Aku memang belum mengenalmu lebih jauh, bahkan wajahmu baru kali ini aku melihatnya. Tapi setidaknya kamu gadis yang taat dalam agama. Sungguh aku tak pantas menjadi milikmu. Lelaki seharusnya mampu menjadi seorang imam bagi wanita yang kelak menjadi istrinya, sedangkan aku jelas tak bisa.”
“Tapi …”
“Sudahlah, tak apa. Kita masih bisa berteman. Aku ingin melihatmu bahagia dengan lelaki yang tepat, lelaki yang baik, lelaki yang mampu membawamu ke surga.”
Perlahan air matamu menetes. Saat ini kamu tidak bisa berpikir apa-apa. Bahkan untuk mengatakan sesuatu pun tak sanggup.
“Kenapa kamu menangis?”
“Maaf, aku tak apa-apa.” Tanganmu segera mengusap air mata yang sudah membasahi pipimu.