Image by pexels/machol butler

Dua bulan lalu

“Tahun ini Abang harus bisa membawa kamu dan kedua anak kita pulang kampung ke Pulau Jawa. InsyaAllah.”

_______
“Bang, tidak usa dipaksa jika masih belum memungkinkan,” kataku berusaha memberi pengertian sambil menyantap nasi dengan menu ikan sambel siang ini di meja makan bersamanya. Seperti biasa masih sepiring berdua.

“Dek, Abang tau ini akan berat buat kita. Tapi coba kamu pikirkan lagi, sejak dua bulan lalu aku mengutarakan tekadku untuk pulang kampung ke Jawa bersama kalian lebaran ini, rezeki kita sedikit demi sedikit bertambah. Lah, kemarin bosku menawarkan penyelesaian proyek pembangunan Masjid besar selama sebulan penuh di Pekanbaru dan kamu tau betul gajiku akan cukup untuk membiayai ongkos naik ALS plus THR untuk kita dan keluarga di Jawa. Abang yakin ini bukan cuma kebetulan. Kita gak boleh menyia-nyiakannya.”

Mendengarkan penjelasannya, aku menghela napas sambil menyudahi suapan terakhir ke mulutku. Kami hampir selalu bebarengan selesai, padahal walau sepiring berdua, porsi suamiku tetap lebih banyak. Aku satu centong nasi sedangkan dia dua atau bahkan tiga kalau sudah kelaparan. Namun kali ini aku sedikit lebih cepat habis.

Hampir 15 tahun sejak ia masih lajang dan merantau ke Medan. Lalu bertemu aku seorang gadis Pujakesuma (Putri Jawa kelahiran Sumatera) kemudian menikah, sama sekali belum pernah pulang kampung. Aku tahu bagaimana rasanya. Apalagi Ibu dari suamiku sangat mengharapkan betul kedatangan sang anak sulungnya tahun ini. Ridho orang tua sangat penting. Semoga kepatuhannya menjadi jalan keberkahan untuk hidup dia dan keluarga kecilnya ini.

Seminggu setelah percakapan itu, Ramadan pun semakin di depan mata. Lebih tepatnya seminggu lagi. Dari Medan ke Pekanbaru memakan waktu 14 jam kalau naik bus. Sampai di sana harus langsung mulai bekerja.

“Tahun ini Abang akan usahakan full puasa ya, Dek.”

Aku mengangguk sedih. Walau tidak yakin. Pasti pekerjaan dia sangat berat di sana. Pengerjaan masjid sangat mengejar target lebaran, mau tidak mau Ramadan ini harus bekerja maksimal. Menambah kuli bila perlu, dan suamiku termasuk yang kebagian rezeki itu.

Sebelas tahun berumah tangga, baru kali ini dia rela meninggalkanku jauh bahkan bukan hanya sehari atau dua hari. Tapi sebulan penuh.

Selama ini kami berusaha untuk hidup berkecukupan dan layak. Tiap hari walau hanya kuli bangunan dan juga kerja sana-sini kalau lagi tidak ada proyek, tapi tetap saja ada uang yang ia bawa untuk keluarga.

Hidup kami memang tidak mewah. Masih jauh dari level menengah keatas bahkan rumah masih mengontrak. Tapi rasa cukup dan keharmonisan dalam rumah tangga berusaha untuk kami jaga selalu.

Sepiring berdua sejak awal menikah hingga sekarang, berpelukan selama empat menit setelah seharian tidak berjumpa dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan biasa yang dilakukan tapi cukup menjadi tali kekuatan cinta kami selama ini.

Mungkin menurut kalian lebay dan zaman sekarang sangat sulit melakukan itu. Disaat suami lebih suka makan di luar ketimbang masakan istri yang kadang alasannya hambar padahal karena untuk beli garam saja harus ngutang, disaat lelah pulang kerja adalah waktu tepat untuk langsung merebahkan tubuh di kasur, tapi sepiring berdua dan menyempatkan duduk bercerita sebelum tidur masih saja ada hingga sekarang. Contohnya saja kami.

Hari ini suamiku harus pergi. Sebulan lebih sungguh waktu yang lama buatku menahan rindu. Aku tak tahu bagaimana nanti saat kujalani hari-hari Ramadan tanpa suami di sampingku. Cerita sahur dan berbuka pasti tak seromantis kemarin. Malamku pun pasti terbalut keinginan bertemu tiap hari. Makan tanpa sepiring berdua selama sebulan lebih, aku tak tahu sesesak apa kelak.

“Bang, di sini aja. Kita nabung beberapa tahun lagi ya. Tidak harus seperti ini.” aku menahannya lagi dengan pelukan erat saat dia hampir beranjak keluar kamar dengan sudah membawa tas besar.

Aku tahu ini salah. Seharusnya tidak mematahkan semangatnya seperti ini. Tapi mau bagaimana, aku memang takut. Sangat takut tanpanya di hari-hariku.

Dia tidak bergerak. Membiarkanku memeluknya erat cukup lama. Kamar pun dibiarkan hening seketika. Kali ini aku benar-benar menghirup aroma alami tubuhnya sangat dalam. Mencoba menyimpannya dalam ingatan hingga tidurku serasa masih di sampingnya selalu nanti.

Sampai setelah sekitar lima menit hening, ia menghela napas panjang kemudian mengelus lembut rambutku lalu mengecupnya. Berlahan ia lepaskan pelukan dan menatapku tenang.

“Sayang, Abang pasti kembali secepatnya. Kita akan sepiring berdua lagi nanti di rumah mertuamu. Aku janji.” Nada bicaranya yang seperti ini kadang membuatku tak kuasa untuk memberontak.

Senyumku pun merekah. Harus. Aku harus kuat dan tabah. Demi lebaran tahun ini agar lebih bermakna. Berkumpul dengan keluarga besarnya di pulau Jawa. Cilacap.
_______

Sirup Mirjin mengucapkan Selamat Hari Lebaran

Ah, mendengar iklan sirup fenomenal itu di televisi sore ini sambil motongi bawang di dapur, aku jadi ingin melihat kalender.

Dan waaw, betapa terkejutnya saat kulihat tanggal, ternyata hari lebaran kurang lebih seminggu lagi. Aku langsung meloncat-loncat kegirangan. Kamu tahu pasti apa penyebabnya. Dia janji pulang seminggu sebelum lebaran karena mengejar perjalanan naik bus yang memakan waktu beberapa hari ke pulau Jawa.

Jadi pengen nelpon si abang deh. Namun belum sempat mengambil handphone tinut tinutku, eh dari pintu sudah terdengar suara khas tak terlupakan mengucap salam masuk ke rumah. Kedua anakku yang masih menonton televisi sambil menunggu buka pun langsung berlari ke pintu dan berteriak,

“Ayah!!!!!”

Jantungku bergemuruh. Bukannya menyambut, aku langsung berlari ke kamar mandi. Seharian belum mandi, malas karena sedang tidak puasa dan agak depresi karena lagi rindu setengah mati. Lagian salah sendiri gak mengabari. Setidaknya bilang kek lagi di perjalanan. Duh. Iseng banget suamiku.

Aku tetap masih sibuk dengan diri sendiri, sedang dari ruang tamu terdengar suara-anak-anak bersorak gembira, “Yee, baju baru. Yee.”

Beberapa menit kemudian…

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi. Aku melonjak terkejut hampir terpeleset sabun yang spontan meloncat dari tangan kemudian jatuh ke lantai. Jangan-jangan itu dia.

“Mak, ou Makk. Mak, Ayah pulang, Makk. Mak ee!! Cepat mandinya! Mamak dibelikan baju baru sama Ayah.”

Ah … ternyata anak sulungku, Ilhan. Jantungku hampir saja copot kalau saja  benar suamiku yang mengetuk pintu. Mana rencanaku mau berdandan dulu sebelum bertemu. Gagal total.

“Iya-iya, tau Mamak.” Agak kesal tapi lebih banyak senangnya. Hehee

___

Terinspirasi dari kisah nyata cerita beberapa keluarga di Medan. Sepiring berdua bertahun-tahun dan dilema pulang kampung anak perantauan seberang pulau.

 

 

1 KOMENTAR