credit: Penakata, designed by @cipulipul

Bulan Ramadan katanya bulan penuh rezeki. Ya betul, karena rezeki bisa datang dalam bentuk apa saja. Jelas, belum tentu uang yang kuhasilkan dari hasil berdagang sehari-hari juga rezeki.

Nyatanya, semakin banyak uang yang ingin kudapatkan, harus semakin keras pula usaha yang kulakukan. Kalau boleh memilih, sebagai janda aku tentu memilih bulan-bulan biasa, bukan bulan Ramadan.
Alasannya, kalau bulan Ramadan, tenagaku bagai dieksploitasi habis-habisan. Sudah badan puasa, tapi tenaga yang dikeluarkan harus melebihi hari-hari biasa kalau sedang tidak puasa. Sudah begitu, hati juga harus ikut puasa. Betul, ingin sambat ya ditahan, ingin misuh-misuh juga ditahan. Tenagaku banyak keluar untuk ‘menahan’.

Setiap hari aku harus menitipkan gorengan dan kue-kue yang kubuat ke penjual-penjual takjil dekat rumah sampai kampung sebelah. Kalau mau libur sehari saja, anak misuh-misuh buka puasa cuma pakai nasi dan gorengan sisa jualan.
Eladalah, untung kok anak sendiri.

Syukurlah, suamiku sudah diambil Tuhan di usianya yang masih cukup muda: 42 tahun. Jadi tidak merasakan susahnya momong anak. Kata orang sih karena Tuhan tahu aku kuat hidup sendiri dengan mengasuh 2 anak. Duh, orang-orang kok bisa-bisanya sok tahu menduga-duga maksud Tuhan!

Siang ini, ketika matahari sedang terik-teriknya, seperti biasa aku harus mengantar jualanku sesegera mungkin. Buka puasa memang masih 5 jam lagi, tapi jangan salah. Sainganku semakin banyak. Yang bukan pedagang makanan, ikut-ikutan transmigrasi jadi pedagang makanan. Tidak peduli skill memasaknya pas-pasan. Pasti laku.

Belum lagi, emak-emak maunya menang sendiri. Kalau tidak mendapatkan tempat strategis untuk dagangannya, dia tidak akan segan-segan melakukan berbagai cara. Salah satunya, menggeser jualan orang lain ke tempat yang tidak terjangkau oleh pembeli. Ini jahat sebenarnya. Tapi ya bagaimana lagi? Persaingan!

Setelah menitipkan makanan, aku akan langsung ke pasar untuk belanja bahan-bahan jualanku besok. Jangan bayangkan kalau belanja di pasar itu seperti di mall. Adem ayem. Beuh, sudah empet-empetan dengan emak-emak saingan, tawar-menawar pake otot, juga kadang harus menahan bau telek ayam dan bau keringat yang harum semerbak. Mendapatkan bahan bagus dengan biaya murah memang butuh perjuangan.

Baru saja sampai rumah dan hendak menghempaskan pantat ke kasur kamar, handphone kunoku tiba-tiba berdering. Sudah kuduga, dari si anak wadon yang sedang merantau di luar kota untuk meraih gelar sarjana. Sarjana sih sarjana, tapi emaknya harus sengsara.

“Halo.”

“Halo, Mak. Lagi apa?”

“Lagi mau merem bentar, kenapa? Uang habis?”

Anakku memang begini. Telepon emaknya cuma kalau minta uang. Ya, walaupun aku juga tidak suka sering-sering ditelepon cuma mau sayang-sayangan sama anak. Wagu. Cukup didoakan saja aku sudah senang.

“Yang pertama, mau minta doa Mak. Beberapa hari lagi aku sidang. Kedua, mau menyampaikan kalau aku ndak bisa pulang, Mak. Mau penelitian skripsi, tak selesaikan sekalian. Ketiga …”

“Sek, sek …,” potongku. Dia terdiam.

“Lebaran ndak pulang?”

“Maksudku, aku pulangnya mepet banget lebaran Mak, mungkin dua hari sebelum lebaran.”

Aku mengangguk mengerti. “Oh, ya wis. Wis, to? Mak tak merem. Ngantuk.”

Sengaja aku memotong pembicaraannya begini supaya dia lupa kalau dia mau minta uang. Bukan bermaksud setega itu. Setidaknya, sampai aku ada uang.

“Sek, Mak. Ketiga belum.”

Weladalah, malah inget!

“Mak, aku dari kemarin makan sama mie instan, Mak. Mana besok harus ikut bukber-bukber. Pakai apa, dong Mak?”

Aku menghela napas. Menahan supaya tidak misuh-misuh. Bukber? Memangnya kalau hidup di kota itu harus ada acara bukber yang menghabiskan uang, ya?

“Besok, ya. Tak cariin dulu.”

“Oke, Mak. Aku ndak buru-buru, kok. Masih ada mie instan buat buka sama sahur.”

Anakku memang pintar. Pintar bikin emaknya merasa bersalah dan kasihan. Bayangkan, orang tua mana yang tidak iba mendengar anaknya makan mie instan tiap hari? Duh, Gusti.

“Yo,” jawabku pendek.

Telepon ditutup. Rasa kantukku menguap sudah entah ke mana. Anakku yang telepon minta uang memang stressor terberat. Untuk bisa mengirimi uang anakku, biasanya aku harus hutang dulu. Baru kukembalikan dengan nyicil sedikit demi sedikit dari uang laba jualanku. Ya maklum, aku bukan pegawai yang mendapat gaji secara jelas tiap bulan.

*

Esok hari, aku masih saja belum mendapat uang hutangan. Tidak sampai hati aku berhutang ke orang yang biasanya kupinjam uangnya. Lha hutang kemarin saja belum lunas, sudah mau ditambah.

Setelah bertebal muka dan mengorbankan harga diri untuk nembung sana-sini, aku berhasil mendapatkan hutang 200 ribu rupiah dari tetangga yang jualan kelontong.

Yaaa, meskipun berisiko digosipin ibu-ibu sekampung. Namun, otak agak cerdikku tak lupa mengatakan kepada beliau dengan bilang, “Bulan puasa ya, Mbak. Aku kapok ah, mau ngurangin ghibah. Kayak makan bangkai saudara sendiri, kan ngeri!”

Aku tak peduli responnya. Setidaknya, perkataanku tadi akan terngiang-ngiang di otaknya nanti.

Tak lama, aku bergegas membawa uang itu ke bank untuk kutransfer ke anakku. Sayang, kata mbak-mbak teller yang cantik itu, bank lagi trouble. Makanya proses transaksi apa pun baru bisa dilaksanakan besok pagi.

Meski begitu, uang sudah kutinggal di sana. Soalnya kalau tak ambil lagi, takutnya aku tergiur pakai untuk kulakan dan beli gas. Walah, walah. Uang 200 ribu kok cuma lewat!

Sore hari menjelang berbuka puasa, tiba-tiba anak bungsuku masuk rumah sambil teriak-teriak kegirangan. “Maaak, rezekiiiii!” Ia baru pulang sekolah, jadi masih pakai seragam yang bau keringatnya luar biasa ra nguati.

Aku baru saja hendak ngukus kue, langsung bergegas keluar dapur. “Opo to, Nang?”

“Mak, dapet ayam pop 2, Mak. Kita buka enak hari ini!” katanya sambil memindah ayam goreng dari kardus nasi box ke piring.

“Dapet dari mana?”

“Rezeki to, Mak. Pas lewat tiba-tiba Pak Haji ngasih berkat. Dua lagi.”

Ia lalu bergegas ke kamar mandi. Sementara aku buru-buru mengambil ponsel dan menelepon anak wadon. Rasanya kok tidak tega, aku bisa makan ayam pop bumbu laos begini, sementara anakku cuma makan mie goreng.

“Pripun, Mak?” tanyanya.

“Uangnya baru bisa ditransfer besok. Rapopo?”

“Ya, Mak. Aku masih punya mie. Pas tinggal dua Mak, buat buka dan sahur.”

“Yo wis, syukuri aja.”

“Iyo, Mak. Semoga ususku nggak bolong kebanyakan mie instan,” jawabnya melas.

Sudah hafal. Anakku memang punya jurus memelas yang luar biasa bikin orang kasihan. Namun menyebalkannya dibalut dengan nada sok kuat. Ealah Nduk, untung anakku!

Tak lama kemudian, azan magrib tiba. Masih saja aku kepikiran anak wadon yang cuma makan mie. Haduh, padahal di sini aku makan ayam pop dengan bumbu lengkuas yang sebegini lezat.

“Enak, yo Mak? Coba tiap hari begini,” kata anak bungsuku.

“Iyo, Nang. Tapi ojo tuman. Maunya makan enak-enak terus.”

“Sekali-sekali lah, Mak.”

Sehabis buka, aku langsung bergegas salat magrib dan mengambil dagangan. Jalan kaki ke kesana-kemari bahkan ke kampung sebelah kutempuh dengan cepat supaya salat tarawih tidak tertinggal. Selain itu, juga tidak terlalu banyak antrean emak-emak mengambil laba.

Ah sial sekali, rupanya hari ini daganganku masih sisa banyak. Gorengan hanya laku dua biji, sementara kue bolu 3 biji.

Untung saja ayam pop yang tadi lebih banyak kumakan lengkuasnya sehingga ayamnya bisa untuk berjaga-jaga untuk kusantap sahur. Setidaknya untuk si bungsu anak lanang.

*

Tiga hari berturut-turut Ramadanku berlalu dengan penuh cobaan. Pertengahan bulan puasa begini dagangan semakin sepi. Dagangan basah seperti yang kujual ini tentu mudah basi. Jadi jika sisa, bingung mau diapakan. Mau dimakan sendiri kebanyakan. Mau diberikan ke masjid untuk takjil berbuka dan untuk jaburan waktu tadarusan kok orang-orang mulai bosan.

Seringkali ketika melewati masjid hendak ke pasar, makanan dariku ada di teras, dikerubungi lalat. Ya jangan ditanya, sebentar lagi akan melayang ke tempat sampah.

Selain itu, untuk berbuka dan sahur aku harus berhutang ke tetangga. Lagi-lagi hutang! Maunya tidak sahur, tapi kok tubuhku adalah aset termahal untuk daganganku.

Entah apa maksud Tuhan memberiku cobaan di tengah bulan suci ini. Yang pasti, aku tidak mau menduga-duga maksud-Nya seperti kebanyakan orang. Lakoni wae, legowo! gumam diriku sendiri.

Halah plekenyes! Saben mbengi yo sambat! protes diriku yang lain.

Lamunanku ketika sedang menunggui gorengan matang terbuyarkan oleh dering ponsel. Anak wadon ngopo meneh?

“Mak …,” katanya tanpa basa-basi. “Ndak ada uang ya, Mak?”

Gusti, apa lagi ini?

“Ngerti sendiri, kan? Jualan Mak ndak laku. Uang kemarin emang udah habis?”

Anakku terdiam cukup lama. Aku paham, ia pasti sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Ya sudah, Mak. Tak tutup dulu, ya.”

Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Jelas aku amat merasa bersalah, tapi aku tak punya pilihan.

*

Ternyata Tuhan tak akan memberi cobaan hamba-Nya terlalu berat. Syukurlah, hari ini jualanku lumayan. Meski sisa, tapi tak sebanyak beberapa hari terakhir.
Rezeki juga rupanya datang tiba-tiba. Menjelang berbuka, persis seperti beberapa hari yang lalu, anak bungsuku masuk rumah sambil berteriak, “Maaaak, rezekiiiii!”

Aku menyambutnya dengan banyak pertanyaan. “Kok bisa? Dapat dari mana? Kamu habis ngapain?”

Ia bergegas melepas seragam SMA-nya dan langsung menyambar handuk.

“Tenang, Mak. Aku habis ikut panitia kajian sore. Nasi boxnya sisa banyak, jadi bisa bawa dua.”

Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hati. Sering-sering saja begini, Nang!

Azan magrib tepat berkumandang setelah kusiapkan nasi, teh, dan lauk gratisan tadi ke meja makan. Anak lanang sudah dari tadi standby di depan meja makan sambil main game setelah mandi.

“Tambah gorengan pas nih, Mak,” usulnya sambil menyiduk nasi dari dalam cething.

Aku terkekeh. “Mak-mu jualan gorengan, kamu masih pengen gorengan?”

Seperti biasa ketika bisa makan enak, aku selalu teringat anak wadon. Baru satu suap lauk gulai ayam itu masuk mulutku, ingatanku seketika terbawa jauh ke luar kota. Membayangkan seorang gadis yang dengan menyedihkannya merebus mie instan. Semoga saja tidak lebih parah dengan tidak punya apa-apa untuk berbuka.

“Kok Emak kasihan sama Mbakmu yo, Nang. Uangnya udah habis lagi.”

“Yo wis, Mak. Paling dia bentar lagi telepon, ngabari, sambil bilang gini, ‘Mak, doakan ususku nggak bolong, ya. Aku makan mie lagi’,” tiru anak lanang. Aku hanya tertawa, tanpa sedikitpun hati ini terhibur.

“Enak aja!”

Tiba-tiba terdengar suara anak wadon menyahut. Walah, lapar ya lapar. Tapi masa aku sampai berhalusi begini?

Baru saja dipikirkan, anak wadon-ku sudah menyembul di pintu ruang makan.

“Assalamualaikum …”

Rupanya aku tidak halusinasi. Aku hanya ternganga melihatnya.

“Waalaikumsalam.”

Entah habis dapat apa, dengan wajah girang ia menyerahkan kantong plastik hitam yang ketika kubuka isinya gorengan. Anakku lalu menyalami tanganku.

“Mak, aku ndak betah. Mending di rumah aja deh. Daripada di sana, kalau bukber makan enak, kalau pas buka sendiri harus sengsara. Lagi pula uangku udah habis. Kalau bukber terus-terusan, Emak bangkrut nanti. Skripsiku, ben lah Mak. Kata Pak Ustaz, bantuin Emak jualan lebih penting daripada menyelesaikan skripsi.”

Aku hanya tersenyum lega. Bergegas kuambilkan sepiring nasi untuknya dan lauk yang belum kuhabiskan.

***

Hai goodwriters. Bagus kan, ilustrasi cerita di atas?

Pengin nggak sih, tulisan loe didesainin dengan keren begini? Dijamin ori, dan Penakata punya. Selain itu, gambar yang didesain juga bakalan lebih “masuk” ke cerita loe.

Nah, tulis aja cerpen / story seputar Ramadan. Tulisan terbaik akan dipilih setiap minggunya untuk didesain oleh desainer-desainer Penakata.

Jangan lupa gunakan tag ramadanpenakata, ya!

Tunggu apa lagi? Tulis sebanyak-banyaknya! Cus!!!

Penakata, place of collaboration for goodthinkers.

5 KOMENTAR

  1. 😭 Aku kok sedih yo, Min.

    Mamakku juga gitu. Kalau abis makan enak, pas nelpon, ya mirip gitulah ngomongnya. “Mamak abis makan enak, Dek. Mamak mikir, anakku makan apa ya di sana? Kalau bisa dikirim ini.”

    Ternyata Ibu2 memang gitu yaa. Ramadhan kali ini gak bisa kumpul full sebulan. Hiks. Kangen..

    Min, Ilustrasinya keren. 😍😍 Nanti aku buat ah. Dipilih ya Min. Hihi..