sumber: pixabay.com/Foundry

Cantik bukanlah standar yang bisa ditentukan seenaknya.

~

Siang itu di lobi kampus, Fio hanya memakan sedikit bekal yang dibawakan Mama dari rumah. Bekal itu dikemas sedemikian rupa membentuk karakter tertentu seperti bekal anak TK yang imut dan menggemaskan.

“Dua centong nasi 195 kkal, telur dadar goreng 135 kkal, dua potong sosis goreng 185 kkal, brokoli rebus 28 kkal, sama mayones 40 kkal. Berarti semuanya kira-kira … lima ratus lapan puluhan kalori. Oh my God!”

Ia hanya memakan satu potong sosis dan beberapa potong brokoli yang mayonesnya sudah ia hilangkan pakai tisu.

“Cukup, 100 kalori,” gumamnya seraya menyeruput kopi hangat yang ia beli di kantin.

“Nih, buat lo.” Fio lalu menyerahkan sisa bekalnya pada sahabatnya yang doyan makan. Namanya Nila.

“Udah? Lo makan segitu doang?” tanya sahabatnya yang berbadan tambun itu. Tak heran, doyan makan sih.

Berbeda sekali dengan Fio yang sungguh kerempeng. Kalau mau dibilang kurus, Fio ini terlalu kurus. Berat badannya hanya 38 kg, dengan tinggi 158 cm.

“Daripada gue muntahin lagi atau gue buang,” jawab Fio sambil tersenyum penuh arti.

Nila tahu, sahabatnya ini mengalami gangguan makan, sepertinya namanya bulimia nervosa. Setiap kali makan, Fio bisa makan banyak, namun akan memuntahkan lagi makanannya. Hanya saja, menurut artikel online yang Nila baca, kalau penderita bulimia berat badannya lebih ideal daripada Fio.

Gadis itu terlalu takut apabila berat badannya naik. Jika Nila selalu menyukai saat-saat makan dan berada di meja makan, maka Fio sebaliknya. Meja makan bagaikan neraka baginya.

“Ya ampun, Fi. Nih, lengan lo udah sekecil ini.” Nila mengapit lengan Fio dengan ibu jari dan jari tengahnya. Nyaris bertaut.

Nila tahu, Fio sebenarnya dulu tidak seperti ini. Gadis itu dulu bertubuh ideal. Ideal secara kesehatan, tapi tidak ideal bagi Fio dan teman-teman masa SMA-nya dulu. Fio dibully habis-habisan gara-gara dalam satu geng, ia sendiri yang paling gemuk alias kurang ideal versi mereka. Sementara anggota gengnya yang lain jangkis-jangkis, alias jangkung tipis seperti anggota Blackpink.

Hal ini yang membuat Fio tertekan tanpa ampun. Sebenarnya bisa saja Fio meninggalkan gengnya, namun selain tidak punya teman lagi, geng-gong menyebalkan itu terus-terusan membully Fio dengan kejam dan perlahan menyerang mental gadis itu. Mereka baru akan berhenti dan bersahabat dengan Fio kalau gadis itu berhasil kurus seperti mereka.

Gila memang! Sejak saat itulah, demi tidak kehilangan teman, Fio mulai mengurangi makan. Setiap sore ia memaksakan diri lari mengelilingi kompleks rumahnya. Tak peduli jantungnya seperti mau meledak dan badannya nyeri-nyeri. Ia juga mempelajari soal kalori dan zat gizi yang terkandung dalam tiap makanan sampai hafal di luar kepala. Perlahan, Fio pun ter-mindset bahwa semakin kurus kita, maka akan semakin cantik.

“Habis ini kuliah lagi, kalo lo lemes gimana?”

Nila masih khawatir. Ia sih senang-senang saja menghabiskan makanan gratis dari Fio, tapi kok tidak tega juga kalau sahabatnya ini tinggal tulang dan kulit. Bahkan saking kurusnya, di halaman kampus yang agak panas ini Fio tetap saja memakai sweter. Padahal Nila sudah mulai keringatan.

Fio tidak menjawab. Hanya menunjukkan cangkir kopinya ke Nila sambil tersenyum. Kopi hitam dengan sedikit gula, tak ada 50 kkal. Tapi cukup meningkatkan pembakaran makanan yang diasup Fio, juga meningkatkan konsentrasinya sepanjang jam kuliah. Ia pun tak masalah jika sehabis itu perutnya mulas-mulas. Justru itulah yang ia inginkan.

*

Meski soal makan Fio ini tidak normal, tapi hatinya tetaplah seperti cewek pada umumnya. Seperti saat ini, saat ia memandangi seorang cowok yang masih satu fakultas dengannya tetapi berbeda jurusan.

Ah ya, karena jam kuliah belum mulai, ia kini berada di kantin menemani Nila makan. Makanan dari Fio itu rupanya tidak cukup bagi Nila. Fio sendiri sibuk membuka laptop, mempersiapkan tugas yang setelah istirahat akan ia presentasikan. Cuma membuka laptop, karena pandangan matanya tertuju ke cowok bernama Dimas yang duduk di belakang Nila, namun menghadap Fio.

“Kalo naksir jangan diem aja! Kenalan, kek. Sampai kapan jadi secret admirer?” sindir Nila sewot.

Fio tertawa. “Kok bisa ya, ada orang seganteng itu? Tinggi lagi. Dan parahnya, dia selalu tersenyum. Nggak salah dah gue naksir dari dulu.”

Tak lama, Fio melihat seorang cewek duduk di sebelah Dimas. Ikut makan, kemudian menangis entah apa sebabnya. Dimas tampak cemas. Kemudian Fio dan Nila mendengar sebuah kalimat yang dikatakan teman Dimas yang persis duduk membelakangi Nila, “Urusin dulu gih cewek lo! Masa nangis di kantin? Malu-maluin, dikira lo apa-apain nanti.”

Fio dan Nila hanya terdiam membeku. Terkejut dengan apa yang dikatakan cowok itu. “Apa? Si ganteng udah punya pacar?” gumam Fio dalam hati.

Gadis itu seketika menutup laptopnya, lalu berlari ke kamar mandi dekat kantin. Nila tahu, sahabatnya itu patah hati bukan main. Jelas saja, karena Fio sudah menyukai Dimas sejak semester satu. Fio yang daya tahan tubuhnya lemah saking kurusnya itu dulu pernah pingsan ketika ada acara latihan dasar kepemimpinan, lalu Dimas lah yang menolong dan merawatnya bahkan hingga Fio sudah siuman. Meski cowok itu tak ingat, namun hal tersebut adalah momen berkesan bagi Fio.

Sampai kamar mandi, Fio menghadap cermin besar di atas wastafel. Membasuh wajahnya yang habis menangis sejenak tadi. Ia ini siapa? Kenal juga tidak. Kok bisa patah hati seperti ini?

Ia memandangi tubuhnya sendiri. Ia sebetulnya cantik. Pipinya tirus, pinggangnya langsing, kakinya pun jenjang. Setidaknya itu yang ia lihat. Bagaimana mungkin Dimas si ganteng itu pacaran dengan cewek yang gemuk, bahkan pipinya tembam, dan perutnya ia lihat berlipat-lipat. Bagaimana mungkin, Dimas jatuh cinta pada cewek yang tidak lebih cantik dari dia? Ia tidak terima. Terlebih, perjuangannya untuk kurus, sungguh menyiksa dirinya.

“Lo nggak pa-pa?”

Tiba-tiba Nila sudah berdiri di belakang Fio. Sosoknya terpantul pada cermin di hadapannya.

Nila lalu memeluk Fio yang lagi-lagi menumpahkan air mata.

“Gue nggak terima, Nil. Cewek itu gendut, bahkan lebih gendut dari lo. Cantikan juga gue. Gue kurang apa?” marahnya sambil terisak.

“Belom juga dia kenal gue. Kenapa dia udah punya cewek duluan? Kenapa?”

Nila mengelus-elus punggung Fio yang baginya tulang punggungnya begitu terasa menonjol. Ah, sahabatnya ini bisa-bisanya begitu menyedihkan.

“Apa dia nggak tau kalau gue dari semester satu diem-diem udah kepoin dia, modusin dia, bahkan gue selalu pengin tampil cantik juga demi dia?”

Hingga Fio berhenti menangis, Nila menghadapkan tubuh Fio ke cermin.

“Coba lepas sweter lo.”

Fio menuruti perkataan Nila yang lembut itu.

“Liat!”

Fio melihat sosoknya di cermin. Entah mengapa ia baru menyadari bahwa sosoknya sungguh mengerikan. Pipinya memang tirus, tapi terlalu tirus, justru terlihat peot dan tua. Matanya cekung. Lalu, meski tertutup kemeja lengan pendeknya, ia dapat melihat bahwa tubuhnya tak berbentuk sama sekali. Datar. Lengannya sungguh kecil dan tidak mulus alias penuh rambut. Rambut yang tumbuh karena tubuhnya mencoba menghangatkan diri akibat selalu merasa kedinginan karena kurang gizi. Nila bahkan yakin kalau Fio membuka baju, tulang rusuknya akan amat menonjol.

“Apa lo merasa cantik dengan tubuh lo yang kaya gini?” tanya Nila miris.

Fio hanya terdiam.

“Enggak, kan?”

Fio masih diam saja. Dalam hati mengiyakan apa yang Nila katakan.

“Lo tau? Cantik bukanlah standar yang bisa lo tentukan seenaknya. Elo tu cantik kok, Fi. Tapi nggak harus begini. Menyiksa diri sendiri, tau nggak?”

“Cantik nggak harus langsing, apa lagi kurus. Cantik nggak harus berwajah tirus dan enak dilihat. Cantik itu kalau elo jadi diri lo sendiri dan elo juga punya hati yang cantik.”

Fio mengusap air matanya yang menetes pelan.

“Sekarang liat wajah lo! Apa lo keliatan bahagia? Apa lo bahagia setiap hari menyiksa tubuh lo sendiri?”

Fio lagi-lagi membenarkan apa yang dikatakan Nila. Wajahnya memang cantik, tapi selalu tampak murung dan tidak sumringah.

“Sampai kapan lo kayak gini? Sampai lo mati konyol karena nggak pernah makan?”

Fio melirik Nila dari kaca. Merasa perkataan Nila ini terlalu sarkas.

Sepertinya memang benar. Pelan-pelan ia harus mengakhiri semua ini. Menilai penampilan hanya dari fisik, menyia-nyiakan makanan, bahkan merepotkan orang lain kalau ia sakit akibat ulahnya sendiri. Benar. Ia tidak bahagia. Ia tersiksa.

“Jadi gue harus gimana?” tanya Fio terbata-bata.

“Berubah, Fi. Pelan-pelan. Lo tenang aja, ada gue.”

Fio lalu menubruk sahabatnya itu. Memeluknya sambil terisak.

 

***

6 KOMENTAR