sumber: pixabay.com/darkmoon1968

Aku menutup jendela kamarku sambil tersenyum. Ah, malam ini sudah lama kutunggu. Aku melongok melihat langit yang dipenuhi bintang-bintang. Sayangnya, bulan tidak terlihat dari sisi jendela kamarku. Setelah menutup tirai, aku bergegas mematut diriku di hadapan cermin. Memastikan tidak ada yang kurang di penampilanku.

Tidak. Aku bukan mau pergi kencan kok.

Nduk, keluar deh sini.”

Aku menghampiri ibuku yang berteriak di depan pintu kamarku. Ah, wanita di depanku ini membawa 2 baju di tangan kanan dan kirinya. “Bagus mana?”

Aku menghela napas. “Ibu kok belum dandan sih? Sebentar lagi jam delapan lho,” kataku sambil melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 19.30.

Malam ini aku, ibu, dan adikku akan makan malam bersama ayah. Makan malam yang menurut kami amat spesial. Jelas, karena malam ini kami akan makan bebek. Makanan kesukaanku, ibuku, dan adikku. Eh sebenarnya bukan karena itu. Malam ini spesial karena merupakan hari pernikahan ayah dan ibuku yang ke-20.

Ayah sesungguhnya tidak suka bebek. Sebenarnya kami bertiga sudah menawarkan restoran lain dengan menu yang ayah sukai. Tapi ayah memaksa makan bebek. Kami dengan senang hati mengiyakan. Ditraktir lagi, siapa yang tak mau?

“Habis kasihan, ibu jadi jarang makan bebek gara-gara ayah,” ucap ayah lewat telepon kemarin yang kami dengarkan bertiga melalui loud speaker.

“Tapi ayah makan apa dong?” tanya ibu khawatir. “Masa iya istri dan anaknya makan dengan lahap, suaminya bengong ngeliatin?”

Kami tertawa. “Ya pokoknya ayah mau coba. Tenang, anggap aja ini hadiah dari ayah buat kalian.”

Kami sudah sampai di restoran bebek favorit kami ketika jam menunjukkan pukul 8 malam tepat. Kami memilih tempat duduk di luar ruangan, sehingga dapat memandang langit dengan bulan purnama dan bintang-bintang yang indah. Ah, untung hari ini tidak mendung.

“Bu, nanti adek mau makan satu ekor ya, berdua sama kakak,” kata adikku sambil tersenyum jahil. Aku jadi membayangkan bebek goreng yang lezat itu kumakan sepuasnya. Hmm pasti enak sekali. Lalu nanti aku akan membujuk ayah supaya doyan bebek yang super lezat itu.

“Kok ayah nggak bisa dihubungi ya?” Ibuku tiba-tiba menggoyang-goyangkan ponselnya. “Apa nggak ada sinyal?”

“Coba deh Bu, biar kakak yang telfon,” tawarku melihat ibu yang mulai khawatir.

Ah benar. Ponsel ayah berdering tapi tidak diangkat. “Mungkin lagi perjalanan, Bu. Kalau nyetir kan nggak boleh mainan hape.”

Kami menunggu, hingga sekarang pukul 20.45. Ayah masih belum sampai. Berkali-kali telepon tidak diangkat, dan pesan tidak dibaca.

“Sabar, Bu. Kayaknya macet deh.” Kini giliran adikku yang menenangkan ibu.

Perutku sudah berkali-kali berbunyi. Adikku mulai bosan sedari tadi main game di ponselnya. Ibu yang tadi masih terihat ceria sekali kini menekuk wajah. Khawatir.

Pukul 22.00. Restoran tutup satu jam lagi. Ayah belum kunjung datang.

Ibu sedari tadi tak henti-hentinya memandangi ponsel. Menunggunya berdering tanda ayah menjawab. Berkali-kali juga ibu meneleponnya yang lagi-lagi tidak diangkat.

Pukul 22.05. Kami tersentak ketika ponsel ibu berdering. Seketika wajahnya kecewa karena tahu yang menelepon bukan ayah.

“Ya, halo?”

“APA??”

*

Aku memandangi ruang ICU sambil meneteskan air mata. Ayah, dengan penuh luka dan darah yang merembes dibalik balutan perban yang menutupi hampir seluruh tubuhnya kini terbaring tak berdaya.

Ibuku yang tampak lemas kini bersandar di bahu adikku sambil menggenggam tisu. Ya, ayah mengalami kecelakaan sewaktu hampir sampai restoran bebek tempat kami makan.

Aku lalu berjalan ke dekat taman rumah sakit. Menyendiri sambil memandang langit. Apa yang baru saja terjadi benar-benar belum bisa kucerna dengan baik. Hatiku … hancur.

Malam yang pilu. Bintang-bintang masih berkedip. Dengan setianya menemani sang purnama yang bersinar gagah. Andai malam ini kalian bukan mengiringi kesedihanku. Andai kalian mengiriku yang makan bebek bersama. Menyambut ayah dengan bahagia.

Hingga hampir tengah malam, ponselku berdering. Ibu menelepon.

“Ayah kritis,” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.

Aku lantas berlari kembali ke depan ruang ICU. Ayah sudah dikerubungi beberapa perawat. Jantungku berdegup kencang. Mulai membayangkan yang tidak-tidak. Jangan. Ayah tidak boleh kenapa-kenapa.

Lalu tiba-tiba tubuhku seperti mati rasa setelah mendengar bunyi “piiiip” panjang yang amat menyedihkan. Pikiranku membayangkan bintang-bintang yang tersenyum ke arahku. Dan tiba-tiba semuanya gelap.

***

12 KOMENTAR

  1. Kadang malam tak selalu sedih
    Hitam tak selalu gulita
    Dan buram tak selalu buruk

    Semua cerita ada makna,, kadang malam bisa indah saat kita hadir diantara bintang” malam

    Gelap juga indah, saat kita hadir dalam pesta kunang”

    Buram juga bisa jadi senyum,, saat kita ditemani sosok yang menghibur saat bersedih

    Selamat malam kak vera