Sumber : www.pixabay.com/rosalinda222

Rutinitas di kantor sedang hectic-hecticnya. Memang bukan kali ini saja. Hampir setiap menjelang akhir bulan di perusahaan tempatku bekerja pasti tugas semakin menumpuk. Untuk itu selingan sesaat untuk melepas penat adalah dengan berbincang dengan teman satu ruangan bernama Ya’qub. Meski seorang pria, tetapi dia open minded tentang banyak hal. Jika sudah sama-sama penat dengan pekerjaan, kami saling mencari teman mengobrol.

Obrolan hari ini mendadak fokus membahas politik. Saling bersitegang pendapat beberapa saat, karena kami berbeda pilihan presiden. Wajar saja kan? tetapi bukan berarti kami saling membenci. Menyadari suasana sudah tidak nyaman, ia meredam suasana dengan mengganti pembahsan lain yang lebih adem.

Ya’qub bercerita tentang kehadirannya kemarin pada acara syukuran pembukaan kembali warung nasi goreng milik tetangga rumahnya. Karena sebelumnya gerobak nasi goreng tersebut terseret truk gandeng yang salah lintasan jalan dikarenakan supir mengantuk. Di acara tersebut pemilik warung nasi goreng berkesempatan menyampaikan kata-kata bijaksananya.

Tuhan itu bukan hanya milik satu agama. Justru Tuhan pemilik semua hamba-Nya. Merasa paling benar adalah awal dari kesalahan. Membenarkan bukan dengan menyalahkan. Kebenaran tidak butuh bukti. Kebenaran yang masih membutuhkan bukti adalah separuh kebenaran. Hanya kesalahan yang membutuhkan bukti. Bukankah vonis hukuman di pengadilan akan diberikan bagi yang terbukti bersalah, bukan terbukti benar?

Cinta itu diuji bukan dibuktikan. Pengujian cinta bukan tentang benar dan salah, tetapi tentang kadar. Seberapa besar atau tinggi cintanya, bukan salah atau benar cintanya. Karena cinta tidak pernah salah. Kita tidak berhak memiliki seseorang yang kita cintai, karena kita adalah milik Tuhan. Seharusnya kita tidak perlu merasa kehilangan, karena kita tidak memiliki apapun. Segalanya hanya titipan. Kalaupun harus kehilangan anggap saja itu bagian dari suratan takdir kita.

Perjumpaan adalah takdir. Perpisahan adalah nasib. Percaya bahwa takdir Tuhan itu ada, yang sudah terjadi maupun belum terjadi. Takdir itu tidak bisa berubah, namun nasib bisa. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan mereka sendiri yang merubahnya. Jadi berusahalah dan ikhlaskan. Ikhlas itu tidak ada terjemahannya. Ikhlas harus dimurnikan. Jadi jangan bertanya kalau sudah ikhlas akan dibalas apa oleh Tuhan.

Rasa berterimakasih adalah bagaimana caramu menerima kasih tersebut. Cara menerima kasih adalah dengan bersyukur. Sebaik-baiknya doa adalah doa dengan memuji Tuhanmu. Bukankah Tuhan menjanjikan, semakin kita bersyukur, maka semakin ditambah nikmat oleh-Nya.

Aku terkesima dan berkaca-kaca mendengar cerita tersebut. Seperti petuah yang ringan namun begitu dalam maknanya. Begitu langsung menggerakan hatiku untuk menulis kalimat-kalimat indah tersebut ke dalam tulisan. Berhubung juga ada tantangan menulis dari Penakata dengan tema #musicforwriter. Pasti indah jika dibuat beberapa potongan lirik syahdu beriringan dengan alunan melodi dari Om @trahsakur.

4 KOMENTAR