Sumber gambar pixabay.com/qimono

Kepada semua perkembangan dan kemajuan dunia. Aku ingin bertanya pada dua sisi baik dan buruk. Pada kanan dan kiri yang selalu ada. Teruntuk positif dan negatif bagi umat manusia. Sampai kapan kamu akan selesai? Sampai kapan kamu akan berhenti? Apakah selamanya? Atau sampai kiamat?

Peradaban manusia memang selalu melaju dan bertumbuh. Dari dunia magic sampai pemahaman logic. Mulai zaman mitos sampai dunia logos. Semuanya berkembang dan bertumbuh secara terus-menerus hingga sekarang. Hukum dan penemuan zaman dulu dibedah dan dikaji untuk diterapkan ke dalam teknologi.

Pengembangan IPTEK tidak luput dari berbagai macam percobaan. Tidak hanya berhasil tapi juga aman untuk keberlangsungan manusia. Tidak hanya mempermudah tapi juga ramah dengan alam semesta. Semua itu menjadi tanggung jawab yang tidak bisa dianggap enteng. Bukan hanya berbicara keuntungan tapi juga bencana yang mengancam. Tidak hanya mengunggulkan kepuasan tapi juga dampak negatifnya.

Percobaan juga tidak bisa dipisahkan dari medianya. Tikus dianggap mampu merepresentasikan dampak di sisi manusia. Terlebih pada percobaan-percobaan kimiawi yang akan berdampak langsung pada pemakainya. Sehingga bisa digolongkan berdasarkan skala abjad A , B , C , D. Kriteria A bisa mengartikan bahwa obat ini aman untuk ibu hamil. Karena secara percobaan tidak ada efek kimiawi yang mempengaruhi pertumbuhan janin. Berbeda dengan D yang tidak aman bagi ibu hamil. Sehingga kalau terpaksa digunakan harus dengan pengawasan dokter.

Bagaimana kita bisa tahu kalau tidak pernah dicoba? Padahal semua ilmu pengetahuan mengalami trial and error sebagai proses percobaan. Tidak selamanya suatu ilmu pengetahuan bernilai benar secara mutlak. Begitu pun sebaliknya tidak bernilai salah secara mutlak. Mencoba menanyakan kembali atas jawaban yang sudah ditemukan. Barangkali ada yang lebih efektif dan efisien dibanding hasil sebelumnya. Untuk itulah eksperimen alias percobaan atau uji coba sangat penting. Bahkan sebagai penentu berhasil atau tidak suatu penemuan.

Tapi pernakah kamu membayangkan untuk menjadi tikus putih yang sering digunakan sebagai kelinci percobaan? Melihatnya saja saya tidak kuasa. Hal ini bukan tanpa sebab. Pernah suatu ketika saya membuat eksperimen. Mencampur adukkan antara berbagai macam bahan detergen dalam satu bejana. Senyawa itu saya rebus hingga mendidih dan menuangkannya di salah satu pohon pepaya yang masih kecil. Saya kira pohon pepaya itu akan mati. Ternyata tidak. Pohon itu membesar tanpa buah sama sekali. Saat melihat pohon tersebut timbul rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.

Apalagi membayangkan melihat makhluk bernyawa sebagai kelinci percobaan. Meski itu masih tergolong manusiawi. Tapi rasanya tidak sampai hati untuk melakukannya. Walaupun manfaat yang dihasilkan lebih banyak. Maka dalam challenge ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih pada kelinci-kelinci percobaan. Baik dari sisi human maupun binatang. Karena dari pengorbanan merekalah. Kita bisa merasakan manfaat yang sedemikian rupa. Tanpa kita tahu dan perduli ada berapa nyawa yang melayang.

7 KOMENTAR